NUDC 2015: The Trip

Selasa, 01 September 2015
a late post

August 22nd, 2015,  10:55 pm

Suara menderu lembut terdengar monoton dari central air conditioner di langit-langit kamar yang berundak. TV layar datar LG yang entah bagaimana  caranya bisa menempel di dinding menampilkan channel-channel TV kabel. Saya melompat dari satu channel ke channel lain, menonton wolverine di fox movie, lalu wedding crashers di HBO, reality show Amerika yang kalau dilihat-lihat sama saja lebaynya dengan yang di Indonesia, entah apa lagi, tak ada yang saya tonton sampai selesai. Sudah hampir tengah malam. Saya masih belum mandi dan berganti baju. ini hari keempat NUDC 2015, preliminary round sudah selesai. Tidak seperti malam kemarin, hari ini beban saya rasanya sudah tidak berat lagi, jadi saya tidak terlalu lelah. Mungkin nanti lewat tengah malam saya baru akan mandi dan tidur. 

Besok jadwal terakhir NUDC. Saya beruntung bisa ikut lomba ini untuk ketiga kalinya, kali ini sebagai invited adjudicator. Saya ikut sejak tahun 2011, ketika namanya masih NUEDC. Sensasi yang diberikannya setiap tahun tidak pernah sama. Tapi saya tidak akan cerita masalah NUDC-nya disini. Butuh satu postigan blog khusus untuk itu. Sementara saya memikirkan apa yang akan saya tulis tentang NUDC, saya ceritakan saja dulu soal tripnya.

Tahun ini NUDC diadakan di Pontianak, Kalimantan Barat. Hostnya adalah Universitas Tanjungpura. To be perfectly honest, no offense, Pontianak sepertinya bukan kota tujuan wisata di Kalimantan Barat, jadi tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Namun bertepatan dengan tanggal diadakannya NUDC, diadakan juga festival khatulistiwa yang dibuka dan dihadiri oleh presiden Jokowi. Bapak Presiden menginap di hotel yang sama dengan kami para peserta. Buat saya, itu hiburan yang lebih ngena dibandingkan dengan tempat-tempat wisata di kota ini. ah, sekali lagi minta maaf karena tidak bisa mengapresiasi kota ini dengan lebih baik. Saya pikir sebenarnya tekanan menjadi invited adjudicator-lah yang membuat saya tidak bisa enjoying the city. So, yeah, it's my problem actually, not Pontianak's problem :)
Unand tahun ini diwakili oleh Melati dan Dian, N1-nya Elsa, saya sebagai invited adju (I promise I will write about it in another post), Kak Eza sebagai official, dan Rifki disuruh pak Aprisal ikut sebagai coach. Jadilah, kemana-mana kami berenam. Walaupun kak Eza dan Rifki menginap di hotel yang berbeda tapi kami mengusahakan supaya bisa makan malam bersama.
Harus saya bilang bahwa dengan adanya mereka, pressure yang saya rasakan jadi lebih bearable. Bersama kami jadi segerombolan tukang tertawa yang tak berhenti makan. Tujuan kami jelas; mencicipi apa yang tidak ditemukan di kota lain. Ya mencicipi makanannya, ya mencicipi jalanannya, ya mencicipi suasananya. Malam  kedua NUDC ketika jadwal sudah agak longgar, kami keluar makan bubur pedas khas Pontianak. Penampilannya memang agak mengkhawatirkan tapi bubur pedas itu ternyata sangat sesuai dengan lidah saya. 
 
bubur pedas, atau dalam dialek lokal bubor paddas
Malam selanjutnya kami makan sotong pangkong pinggir jalan, lalu dilanjutkan dengan makan sea food di tempat yang namanya Glam café. 
 
terobsesi pengen makan ini gara-gara ini favoritnya Daehan, Minguk, Manse :D
Kemana-mana kami diantar dengan taksi yang sebenarnya tak ada tampang sebagai taksi, itu hanya mobil avanza biasa yang bahkan tidak berplat kuning, lebih tepat disebut sebagai mobil carteran. Tapi apapunlah namanya, begitulah sehari-hari kami pergi-pergi di Pontianak. Memang harus begitu. Kak Eza dan Rifki menginap di hotel Kapuas, Saya, Elsa, Dian, dan Melati menginap di hotel Mercure. Jaraknya cukup jauh, tidak bisa jalan kaki. 

Tadi setelah maghrib kami pergi makan malam dengan “taksi” itu lagi. Lalu sedikit berkeliling kota dan melakukan hal-hal bodoh. Tahu bahwa kami tidak akan lama disini dan tidak akan ada yang mengenali ketika kami melakukan hal bodoh, saya mengajak Elsa bermain permainan sederhana untuk mengusir awkward silent di mobil. kami suit batu-gunting-kertas, yang lebih dahulu menang lima kali harus melakukan tantangan yang sudah disepakati duluan. Sebelumnya elsa kalah round satu ketika perjalanan di bus ke hotel, jadi dia harus mengajak kenalan random debater yang ada di bus yang sama. Saya kalah round dua, jadi saya harus berteriak “cieeee! Pacaran!!” ke pasangan di atas motor yang random dilihat di jalanan. Elsa kalah lagi round tiga, jadi dia harus mencari random person lainnya dan berteriak “papa! Aku anakmu!”. Begitu saja. Tapi kami tak berhenti tertawa. Ada saja yang jadi bahan becandaan. Ya mereka yang membayangkan saya masuk paspampes yang dengan garang berjaga disekitar hotel, ya kebodohan Elsa yang mengecas hp di kamar hotel lalu meninggalkan kamarnya dengan mencabut keycard dari soket power (yang sudah pasti memutus aliran listrik dan hpnya tidak akan tercas), ya Rifki yang random mengaku sebagai personel peterpan atau menyanyi keras di kamar mandi sampai terdengar keluar kamar, ya crush-crush kami di venue acara, ya pejabat dari kampus yang kami khianati dengan meninggalkannya sendirian, semuanya. Saya mungkin menyimpan anxiety dalam hati dan anak-anak yang lain menyimpan kekecewaan, tapi ketika semuanya berakhir hari ini, kami tak peduli apa-apa lagi dan akhirnya bisa at least enjoy the moment. 

Jam 11:41 pm
Saya akhirnya mendapatkan acara tv yang benar-benar sesuai: the Penguin of Madagascar di channel Nickelodeon. This is what I want. Sedikitpun saya tak mau lagi mendengar apapun yang berhubungan dengan motion, adjudicating, atau apapun yang berhubungan dengan debat, paling tidak untuk beberapa hari ke depan.
Saya masih belum mengantuk. Tadi sore saya ingin memotret mobilnya presiden yang parkir di depan hotel. Tapi pengawalnya yang setia menjaga melarang. “nanti jadi terkenal..” katanya. And I was like “what the hell?” saya yakin sebenarnya bisa saja saya tanpa izin memotretnya, tapi sebagai  warga Negara yang baik, saya minta ijin dulu sama paspampres itu. Kalau tau akan ditolak lebih baik saya tidak minta izin. Saya pikir paspampres itu hanya sok gaya dan mungkin juga dia agak irritated dengan gerombolan mahasiswa norak dari “third world country”-nya Indonesia mengganggu jam tugasnya. Kalau kami bukan peserta NUDC pasti sudah diusir duluan. ya ya, protokoler itu menyebalkan. Beberapa menit yang lalu saya sempat berpikir untuk membalas dengan iseng nelpon ke kamar presiden yang Cuma dua lantai diatas kamar saya. Tapi sepertinya tidak mungkin akan nyambung. Saya sudah malas digeledah isi tas dan  harus melewati pintu metal detector setiap kali masuk ke hotel sehingga sudah cukup waras untuk tidak cari perkara. So prank call? Not gonna work absolutely.

Jam 11:51 pm
Hampir tengah malam. Saya rasanya mulai merasakan kebutuhan untuk ke kamar mandi setelah tadi menyantap sotong pangkong, cha kue,  cumi goreng, dan berupa-rupa cicip-cicipan makanan yang dipesan anak-anak yang lain. Pontianak sudah tertidur dua jam lalu karena kebanyakan tempat-tempat keramaian tutup jam 10 malam. Kasur dengan seprai linen yang nyaman juga semakin malam semakin tempting. Saya harus segera mandi dan tidur. Besok masih ada yang harus dilakukan jadi saya tidak boleh "terlalu" terlambat. So let’s call it a day. Let’s take a bath sambil memikirkan bahwa kemewahan ini hanya akan saya nikmati  satu hari lagi…





2 weeks later
2 September 2015
 sepertinya ini akan jadi satu-satunya postingan tentang NUDC 2015. Setelah saya pikir-pikir, postingan tentang turnamennya yang tercetak dikepala saya tidak bermuatan positif, ada banyak insecurity jika saya paksakan untuk menulisnya. jadi, tidak usah. bagaimanapun juga, saya akhirnya selalu memetik pelajaran dari debate trip (biar agak keren, namanya dimirip-miripkan dengan business trip) yang saya alami. ya itu pelajaran tentang debat, ya pelajaran tentang orang lain, ya tentang diri sendiri. pelajaran yang saya dapat dari NUDC tahun ini adalah bahwa saya harus belajar lebih banyak lagi supaya bisa mengikuti dinamika perubahan dalam debating dan adjudicating (i hate this sentence, terasa seperti kalimat yang dicomot dari pidato sambutan pejabat-pejabat yang kurang wawasan). saya harus belajar lebih banyak tentang hal-hal basic yang terlewatkan, and i also have to work on my confidence. Saya tidak tahu kapan kesempatan seperti ini datang lagi, but until then, saya akan terus berusaha menjadi debater dan adjudicator yang lebih baik...

and here's some other pictures from the trip :D
di Rumah Radakng (tidak, saya tidak typo)

day 2, most tensed

 
last day, it's done



 
main break grand final

good bye, thank you

0 komentar:

Posting Komentar