tak bosan-bosan memandang

Minggu, 28 Juni 2015


Ramadhan tahun 2015, kemarau...

Langit memeluk kampung kecil di kaki gunung ini dengan warna biru muda, cerah. Kawanan cumulonimbus yang putih cemerlang bergumpal-gumpal mendekor horizon dengan ramah, berkawan-kawan dengan punggung bukit yang semakin ke selatan semakin bertambah tinggi dan kemudian berubah wujud menjadi gunung, Gunung Marapi yang berwibawa. Aliran angin menyelinap diantara rumpun bambu, siutannya bergabung dengan derit kayu, gemerisik batang padi yang saling bersinggungan, beberapa ekor lovebirds yang berisik riuh rendah dalam sangkar yang disangkutkan  di teras, dan wia-wia yang menjerit-jerit nyaring dari pohon-pohon. Paduan itu menciptakan musik yang lembut di siang yang terik ini. Komposisinya ditambah dengan suara motor yang menderu di kejauhan. Selebihnya, hanya ada ketenangan, begitu tenang sampai aku tidak bisa mengabaikan ritme napasku sendiri. 

Awan cumulonimbus tadi hanya sejam dua jam mengisi langit di tengah hari. Beberapa saat gumpalannya memekat dan terlihat akan menumpahkan hujan, namun setelah zuhur angin menyapunya ke arah barat. Langit biru bersih lagi. Gunung Marapi yang biru tua dinaungi langit biru muda. Sawah yang bertingkat-tingkat didominasi warna hijau dengan diselingi warna kuning dan cokelat. Semuanya berpadu menjadi lukisan high defenition yang indah namun rendah hati. Semakin sore semakin indah. Suhu udara pelan-pelan turun lalu malam mengambil alih latar belakang lukisan itu dan mengubahkan jadi orcherstra bintang-bintang, masih dinaungi oleh langit yang cerah.

Sudah dua minggu hujan tak turun. Setiap hari pemandangan indah itulah yang disuguhkan untuk saya. Untung saja air tidak berhenti mengalir di pipa-pipa PNPM yang bersumber jauh keatas gunung Singgalang. Mata air juga tidak mengering. Saya tetap bisa menyirami bungaku setiap hari. Tumbuhnya semakin indah. Saya sering mengambil foto bunga-bunga yang sedang mekar itu, bersama dengan pemandangan matahari terbit, serangga-serangga, dan sawah yang berjenjang. 

Ramadhan tahun ini pun menua...
 
sunrise


sawah yang menenangkan



beauty is you :)


Menulis

Selasa, 23 Juni 2015


menulis (source: random google image search)
Sudah lama sekali tidak menulis di blog. Rasanya saya menjadi semacam anak yang mengkhianati kampung halaman dan pergi "merantau cina". Tapi, seperti juga hal-hal lain dalam hidup yang selalu pasang surut, blogging adalah hal yang mungkin saya lupakan selama beberapa lama, tapi tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Dan kembalinya saya ke blog kali ini adalah usaha untuk mengisi kembali sebuah ruang yang makin kotor dan penuh laba-laba, somewhere in the lobe of my brain

Satu hal yang membuat saya tidak produktif nge-blog adalah tendensi untuk menulis tulisan yang baik sehingga tidak hanya menjadi postingan iseng di waktu senggang. Jadilah saya selalu memperhatikan tata bahasa, pilihan kosakata yang indah, dan struktur tulisan yang menarik dengan introduction, klimaks, dan antiklimaks yang rapi. Jadinya? Saya malah tidak menulis sama sekali karena postingan yang baik dan menarik itu benar-benar pekerjaan besar dan saya tidak bisa mengerjakannnya dalam satu atau dua jam. Saya cepat bosan dalam menulis. Akhirnya, sebuah ide yang rasanya akan gilang gemilang ditulis di blog semakin menumpuk di folder laptop dan tidak pernah di post, karena rasanya tulisan itu lebih mirip curhatan anak gadis umur 13 tahun di diary-nya yang berwarna shocking pink. Saya malu dengan tulisan saya sendiri.

Well, I guess I was being too hard on myself, karena pada dasarnya saya juga kan tidak punya kompetensi yang cukup dalam menulis. Tidak punya latar belakang pendidikan formal atau informal yang cukup untuk menulis dengan baik, bahkan tidak punya pengalaman belajar otodidak yang memadai, lalu tiba-tiba saya mengharapkan tulisan saya langsung bagus, kan ngaco! Jadi mulai sekarang saya mempedomani wejangan Raditya Dika, bahwa cara untuk belajar menulis adalah dengan menulis. Tulis saja dulu, sekacau apapun, sengaco apapun, yang penting tulis. Karena itu, mulai sekarang, aka nada banyak tulisan ngaco di blog ini. walaupun sebenarnya juga tidak akan banyak berpengaruh sih karena pengunjung blog ini juga tidak seberapa. Ini juga hal lain yang seharusnya saya perbaiki, bahwa tujuan utama saya menulis di blog seharusnya adalah untuk belajar menulis, bukan untuk dibaca orang lalu banyak yang memposting tautan blog saya di facebook lalu saya jadi selebrity sosial media. Itu tujuan yang norak! Saya malu jadi orang norak!

So, that dirty room somewhere in the lobe of my brain is actually crying for help, to be cleaned, to be tidied up. Sebenarnya that cry for help masih ada hubungannya dengan tujuan norak tadi. Jadi, tiap kali buka facebook saya selalu menghela nafas berat. Dengan jumlah teman yang lumayan banyak dan berasal dari latar belakang yang beragam, home facebook saya dipenuhi oleh status mulai dari yang Nauzubillah min zalik sampai status yang Subhanallah. Orang-orang yang kurang cerdas membuat status tentang masalah pribadinya atau memperlihatkan kehidupannya yang sepertinya sangat sempurna. Orang-orang cerdas membuat status yang berbobot dengan bahasa yang intelek namun sederhana, membahas topik-topik up to date, dan dilengkapi dengan tautan yang bermutu ke website lain. Dan disinilah saya, terjebak di tengah-tengah, cukup sober untuk tidak membuat status yang Nauzubillah tapi tidak cukup cerdas untuk membuat status yang Subhanallah, sementara ide dalam kepala saya mampet tanpa ada salurannya. Itulah sebabnya saya makin sungkan menulis di facebook, bahkan twitter atau path. Tidak tepat rasanya kalau postingan itu isinya hanya hal-hal remeh tentang memikirkan apa, sedang mendengarkan musik apa, check in di lokasi mana, atau hal-hal self-centered dan trivial lainnya.

Selain itu, dalam hal masalah sosial media, saya berpegang teguh pada filosofi Ibu Eleanor Roosevelt "Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people." sepertinya akan sangat baik kalau quote itu dikampanyekan di facebook.

Maka sekali lagi, disinilah saya, dalam perjalanan menjadi lebih cerdas.  Blog inilah yang akan saya tumbalkan. Tapi tidak masalah, toh pengunjung blog ini juga tidak seberapa. Tidak banyak yang baca, tidak terlalu memalukan. 

Jadi, mari rajin nge-blog lagi!!

Oh ya, satu hal. Saya menulis ini setelah membaca novel terbaru Andrea Hirata yang berjudul “Ayah”. Harap maklum kalau saya terpengaruh gaya bahasa beliau.