Belajar

Kamis, 06 Maret 2014


1 Maret 2014, pukul 9 pagi

Matahari sudah mendaki seperempat kubah langit sebelah timur. Bentuknya terlihat bulat sempurna tanpa silau yang membutakan, terlihat seperti purnama kelima belas. Hanya saja tidak sebesar purnama dan warnanya oranye tua. Kabut asap tebal telah menyaring sebagian silaunya dan menyisakan pemandangan bola gas kecil yang mengapung diatas langit Pekanbaru. Pohon-pohon di luar jarak pandang 700 meter-an terlihat seperti halimun yang hanyut dibawa angin. Tak ada yang terlihat jelas, kabut membuat mata perih dan pernapasan sesak. ditambah lagi kami harus berjalan agak jauh di tengah udara beracun ke tempat acara yang sedang kami ikuti di Kampus Unri. saya merasa ada lapisan aneh di pangkal tenggorokan karena menghirup udara yang tak sehat itu. Karena itu saya lebih senang memakai masker walaupun bernafas jadi tak nyaman.
Pemandangan kabut asap di depan penginapan

matahari tak gagah lagi

Cerita tentang kabut asap di Pekanbaru adalah satu hal, tapi acara yang kami ikuti di Unri adalah hal lain. Dari tanggal 1 sampai 3 maret kemarin saya bersama teman-teman tim debat Unand mengikuti  debate competition di Sumatera English Olympic Universitas Riau. Saya menjadi invited adjudicator. ini bukan kali pertama sebenarnya, tapi saya masih merasa deg-degan dan sedikit insecure, perasaan yang dimiliki oleh orang yang kurang latihan dan kurang pengalaman. 

Sejujurnya, saya memang tidak pernah merasa cukup baik dalam hal debating atau adjudicating. Ketika debat, saya selalu merasa ada yang kurang, selalu ada parameter yang tertinggal, missing logic, atau pun elaborasi yang tidak kesampaian. Begitu juga ketika jadi adjudicator, saya kadang merasa kalau ada poin yang saya lewatkan, kadang-kadang ragu memutuskan argument mana yang lebih relevan dan berisi. Tapi kali ini, saya berusaha sebaik mungkin mencatat dan memperhatikan speech dari masing-masing debater, berusaha se-fair mungkin dalam memberikan assessment dan menginterpretasikan dan menyimpulkan case. Saya melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan, pada akhirnya saya bisa jadi salah satu breaking adjudicator, Alhamdulillah. 
bersama tim debat UMSU Medan

Namun sejujurnya, saya tak merasakan euforia menjadi breaking adjudicator. Ada hal yang jauh lebih penting yang saya dapatkan dibanding sekedar title itu, yaitu keinginan untuk terus belajar dan berusaha. Ketika saya dengan memalukannya hanya menjadi trainee adju di SOVED 2013, saya sempat merasa sangat insecure dan tidak berani apply untuk jadi adju di kompetisi-kompetisi regional. Saya merasa saya masih sangat kurang keahlian dan pengalaman dan belum layak menjadi invited. Perasaan insecure itu membuat saya melewatkan banyak kesempatan belajar. saya bahkan tidak mencoba. Yang saya tidak tahu adalah bahwa invited-invited lain juga mungkin memulai dengan perasaan yang sama, mungkin mereka juga insecure, bahkan mungkin mereka memiliki kemampuan awal yang tidak lebih baik dari saya. tapi mereka tidak berhenti. Mereka belajar hingga akhirnya bisa seperti mereka yang sekarang. 

Inilah inti yang disampaikan Chief Adjudicator acara tersebut dalam seminarnya, bahwa kesempatan belajar lebih berharga dibandingkan dengan title apapun yang akan kita dapat nantinya. Tidak hanya dalam debat, tapi dalam mengejar mimpi apapun kita harus bekerja keras untuk mencapainya. Dan di akhir setiap kerja keras, hadiah terbaik yang akan kita dapatkan tetaplah hasil pembelajaran itu sendiri, yang akan mematangkan dan mendewasakan. 

Karena itu, saya mulai lagi bermimpi. Suatu saat nanti, saya akan menjadi Chief Adjudicator sebuah debate competition yang sukses. Di tengah-tengah kabut asap, diperjalanan kembali ke penginapan, saya membenamkan mimpi itu di dalam hati. 
makan siang terakhir di Pekanbaru