Another Adjudicating Record

Jumat, 15 November 2013
XX Hotel, Solok, November 14th

I felt some itchy spot on my opened feet skin. It must be the mosquito. I had bought a sachet of mosquito repellant lotion but still hadn't put it on yet. I had to take a bath before it.

This hotel is still the same, the bed cover, the bathroom, the gloomy light, and also the mosquito. I've stayed in this hotel three times so i'm already get familiar with the atmosphere. This hotel is not the best, I even hate this place when I first stayed here. But as two years passed, I find myself get used to it and I love the memories I had here. So here I am now, laying on the bed in room 206, listening on mp3 in my handphone and writing a post for my blog so I can remember the detail.

We here in Solok for the UMMY Debate Championship. This is my 3rd year joining this event. The first time I participated in 2011 was as a debater. The next two years they invite me as adjudicator. As long as I can remember, it was always fun to participate in UDC. I had one of my best match here. This year's competition is much better. We send 4 teams and they are very talented debaters, and we have bang rian and "his" tabby system here, he is the chief adjudicator, and some other good adjus from other province. The quality of competition is improving nicely.

There are a lot of other participants staying in this hotel, I was thinking about saying hello and spend an hour or two to chat with them, but then I think i'm too tired and my legs hurt. This is only first day. Tomorrow will be long, tiring, yet fun. So I'd better take a rest now.

I'll write about the whole competition later with some nice picture. Until then, i'll do my best!

Google Map dan Salad Buah

Rabu, 06 November 2013
Aku pernah sekali melihat kampungku melalui google maps. Pertama diperlihatkannya wilayah Asia Tenggara. Aku scroll untuk memperkecil skalanya, kuarahkan ke pulau Sumatera. Ku scroll lagi, petanya ku arahkan ke bagian tengah Pulau Sumatera. Kemudian kursornya aku drag ke bagian Pantai Barat Sumatera. Pelan-pelan, tidak bisa langsung cepat, koneksi internet dari modemku tak cukup sigap. beberapa saat yang kulihat adalah kotak-kotak kabur berwarna kehijauan, satu detik, dua detik, loading dan loading, akhirnya peta itu tak lagi berbentuk kotak-kotak kabur. Gambarnya sudah jelas dan sudah ada nama kota-kota tertera disana. Bukittinggi. Padang. Solok. Sawahlunto.

aku zoom lagi. Terlihat jalanan yang panjang dan berliku. aku merunut jalanan itu dengan pointer mouse. Tujuanku: Sungai Landai. Dari jalan Padang-Bukittinggi aku berbelok ke Barat, di salah satu persimpangan kecil. aku zoom lagi, aku bisa melihat jalan kampung sekarang. dari simpang jalan itu, kursor kembali ku runut, semakin ke barat, 500 meter, lalu berbelok ke utara. Ku zoom lagi, sekarang aku bisa melihat jalan setapak! Dan di ujung jalan setapak itu, dari atas langit, aku melihat atap rumahku yang berbentuk huruf L gendut.


Aku tersenyum. Gambar citra satelit itu cukup jelas. Sambil melihat atap rumahku aku membayangkan, bagian ini halaman, ini kamar adikku di lantai dua diatas dapur, ini bak air yang jebol dan sekarang digunakan sebagai gudang, ini kebun kecil tempat nenekku menanam talas, cabai merah, daun bawang dan kunyit. Dan dibelakang rumahku adalah rumpun-rumpun bambu tinggi. Ada pohon besar diantaranya, entah pohon apa, mungkin beringin atau mahoni, aku tidak tau. disana sering ku dengar monyet-monyet ribut bercanda. Terlihat petak-petak tanah yang ditanami oleh masyarakat sekitar. Agroforesty kata orang-orang pintar di Fakultasku, parak kata orang-orang di kampungku. Di belakang rumahku itu adalah bagian dari Gunung Singgalang. Bahkan sebenarnya rumahku adalah bagian dari gunung Singgalang. Kami bagian dari gundukan tanah raksasa itu. Tumbuh, berkembang, dan mengambil manfaat darinya.

kampung pinggir hutan di kaki gunung

Aku termenung membayangkan canggihnya google maps ini, seperti orang udik yang baru melihat kota. Aku mencoba melihat tempat-tempat lain. Sekolahku, kampusku, kosanku, semua sudut jalan di Kota Bukittinggi dan Padang. Lalu, aku memutar bola dunia itu dan melompati jarak, mengunjungi Manhattan. Berbeda sekali! Jalanan disana lurus dan berbentuk kotak-kotak yang rapi. Sementara jalanan di kampungku berbelok-belok dan meliuk-liuk semaunya. Aerial View kampungku didominasi warna hijau sementara yang nampak hijau di Manhattan hanya sebidang lahan yang agak luas berbentuk empat persegi panjang yang mereka namai Central Park. Di buku IPS kelas lima SD dulu aku pernah membaca kalau New York adalah kota terbesar di dunia dan bagiku akan selalu seperti itu, walaupun mungkin gelar itu akan segera diambil alih oleh salah satu kota di China. Sejak kelas lima SD itu, aku jadi ingin ke New York. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya disana. Aku membayangkan ada banyak etalase yang classy dan megah, taksi berwarna kuning yang lalu lalang di jalan-jalan yang namanya aneh; fifth avenue something, billboard LCD besar di Time Square, restoran-restoran fine dining, apartemen, subway yang penuh, dan tiba-tiba ada sirene mobil polisi. memang pengetahuanku tentang New York sebatas apa yang ditunjukkan film-film Hollywood.


Aku kembali ke Indonesia. Melihat peta nusantara lama-lama tanpa men-zoom-nya. Aku memperhatikan jarak kota-kota yang pernah aku kunjungi; Pekanbaru, Medan, Jakarta, Semarang, Denpasar, lalu mengukur jarak dari satu kota dengan kota lain dengan jariku. Berapa ribu kilometer kira-kira aku sudah bepergian? aku tersenyum, senyum yang penuh syukur karena aku pernah kesana. Kalau bukan karena ikut lomba debat, aku belum akan pernah menginjakkan kaki keluar Pulau Sumatera. Aku masih akan mengira-ngira bagaimana rasanya berada di dalam pesawat dan bagaimana rasanya menginjak tanah di pulau yang berbeda. Samakah aroma udaranya? Aaah, anak kampung yang udik ini…


Ketika akhirnya aku menutup tab google maps, semua yang aku lihat itu; kampungku, kota-kota besar yang bernah aku kunjungi, dan kota terbesar yang ingin aku kunjungi, berbaur satu sama lain dengan akrab. Mereka bercampur seperti semangkuk salad buah yang sering aku bikin ketika hari panas, campuran pepaya, semangka, dan melon, lalu disiram dengan sebotol yakult dingin yang menyegarkan. Salad buah itu menjadi metafora hidupku, dan akan selalu begitu…