Hujan

Rabu, 04 September 2013
Pasar Baru, Awal September…

Hujan mulai rajin mampir. Aku merasa seperti didatangi teman lama dari masa sekolah. Kadang dia datang dengan sopan, mengucap Assalamualaikum yang ditandai oleh awan hitam yang tebal di sisi langit sebelah timur. Kadang dia datang dengan sedikit kurang adat-runtuh tiba-tiba dari langit tanpa peringatan saat siang bolong-, membuat repot mahasiswa-mahasiswi yang sedang di jalan.


Di siang hari, teman lamaku itu akan membuat banyak orang menggerutu karena dia bisa menghalangi mereka yang akan berangkat kuliah, bisa membuat perasaan tidak nyaman karena sepatu yang basah. Tapi jika dia datang malam hari, orang-orang akan bersyukur karena suhu udara akan menjadi dingin dan mereka bisa tidur enak dibalut selimut. Dan percayalah, sekali-sekali bisa tidur dengan selimut yang hangat adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang menetap di Pasar Baru yang cenderung lebih seperti penggorengan karena cuaca panas, di malam hari sekalipun.


Bagiku, hujan adalah kebahagiaan. Mau pagi, mau siang, mau rinai, mau badai, kapanpun dan bagaimanapun turunnya, hatiku girang menyambut. Hujan memencet semacam tombol pause dalam hariku dan untuk beberapa saat, aku bisa melupakan apapun yang terjadi. Kalau turunnya semakin lebat, dia berganti memencet tombol rewind, lalu aku berubah menjadi bocah berambut Dora yang berjingkrak-jingkrak diatas genangan air kotor kecoklatan. Menikmati curahan air hujan sepuas-puasnya sebelum ibuku memanggil dengan nada marah.


Hujan sudah menjadi semacam inspirasi wajib bagi para sastrawan, sudah masuk buku instruksi manual mereka, sudah terlalu mainstream. Dari sastrawan besar seperti Kahlil Gibran, sampai sastrawan kacangan sepertiku. Itu pun kalau aku boleh menyebut diriku sebagai sastrawan, karena pada kenyataannya, satu-satunya apresiasi sastra yang pernah aku peroleh adalah sebuah tepuk tangan yang agak antusias berdurasi beberapa detik ketika aku membacakan puisiku di depan komunitas Forum Lingkar Pena Padang. Itu hampir empat tahun yang lalu, di sebuah pertemuan tidak resmi di Taman Budaya yang hanya dihadiri beberapa orang.


Tapi biarlah. Biar saja aku hanya “sastrawan” kacangan, biar saja inspirasiku mainstream, toh selama ini aku memang orang yang biasa-biasa saja. Yang jelas, hujan selalu membangkitkan perasaan indah dalam hati. Membuatku ingin menulis, mengenang masa kecil, atau sekedar melamun dengan pikiran yang luntur disiram air cucuran atap, lalu hanyut ke selokan, ke sungai, akhirnya lenyap di samudra.

Langit menjadi demikian cerah dan biru. Rupanya Tuhan sedang ingin melukis.

Minggu, 01 September 2013
Dia menuang cat minyak-Nya dengan rapi, lalu melempar-lemparkan awan kapas disana sini.

Sedikit pohon, sedikit air, sedikit angin, dan beberapa coretan lain

Gampang saja, sekali sapuan kuas yang enteng Dia ayunkan.

Beberapa ternganga, yang lain terpekur.

Sementara lelaki muda di depan sana menangkapnya dengan lensa kemudian memenjarakan di sehelai kartu pos.

Aku sendiri ingin menulis kata-kata manis dan agak naïf di biru langit itu, di hijau barisan bambu, di aliran angin yang menyelinap.

tapi kereta akan berangkat sebentar lagi dan nasib lalu lalang menghalangi pandanganku
sehingga aku hanya sempat menatapnya sebentar, kemudian berlalu