i miss home

Sabtu, 16 Maret 2013
Aku mengingat masa kecilku seperti potongan, seperti sketsa yang terpisah satu sama lain. Entah kenapa aku tidak bisa mengingatnya secara utuh. Namun bagaimana pun, potongan-potongan itu memberikan kenangan yang cukup untukku.


Kenangan pertama yang aku ingat adalah ketika ibu menyuapi aku dan adikku makan siang. Rasanya aku baru tiga tahun waktu itu. kami disuapi nasi dengan lauk ikan, sambil bermain-main di sekitar rumah. Itu saja. Kenangan itu lalu melompat pada saat rumah kami terbakar. Waktu itu jam 4 subuh dan apinya sangat besar. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sehingga aku tidak merasa takut atau sedih. Yang aku ingat selanjutnya aku harus melanjutkan tidur diatas kasur –salah satu barang yang bisa diselamatkan- yang digelar di pinggir sawah dan kedinginan karena embun yang menggantung di udara. Ketika matahari terbit dan langit terang, aku baru merasakan sedih melihat beberapa ayam dan kalkun peliharaan keluargaku mati terbakar sampai hangus. Aku punya celengan yang ikut terbakar namun uang koin didalamnya masih bisa dipakai. Beberapa hari setelah itu, aku jajan dengan uang yang berwarna hitam legam. Untungnya tidak ada pemilik warung yang protes. Kami pindah ke sebuah rumah kosong di desa sebelah sampai rumah baru kami selesai dibangun.


Rumah baru kami selesai ketika aku mulai masuk TK. Disini ingatanku kembali menjadi penggalan-penggalan tak sempurna. Aku ingat ketika meluncur di perosotan di taman bermainnya pada hari pertama masuk sekolah, aku ingat mobil sekolah kami, aku ingat guru kami membacakan dongeng di mushalla, tamborin yang digunakan guru kami ketika bernyanyi, seragam-seragam kami, dan aku ingat kalau aku adalah anak yang berani. Ketika aku membuka lagi rapor TK-ku, ingatan itu terbukti benar dengan bukti catatan dari guru kelasku “kemampuan untuk bekerja sama sudah baik, jarang menangis, namun butuh latihan untuk mengendalikan emosi.” Nah! Aku sudah pemarah sejak kecil ternyata.
Memori selanjutnya adalah pada hari pembagian seragam di SD. Jadi, waktu pertama kali masuk sekolah kami belum memakai seragam karena baru diukur dan dijahit. Beberapa minggu setelah itu setelah seragamnya selesai, kami mengganti baju disekolah. Itu hari pertama aku memakai seragam SD. Di perjalanan pulang, aku berpapasan dengan ayahku yang berangkat kembali ke tempat kerjanya setelah pulang makan siang. Aku tidak akan lupa senyum ayahku waktu itu. dengan motor tuanya dia memperhatikan aku dari jauh. Ketika semakin dekat, aku berteriak-teriak senang memanggilnya. “Apa! Apa!” ayahku tidak berhenti dan turun, dia hanya memperlambat laju motornya dan memperhatikan aku dengan seragam baruku, dengan senyum yang sangat dalam. Aku ingat sekali, waktu itu aku bertanya pada diriku sendiri kenapa ayahku tersenyum begitu. Bertahun-tahun setelah itu, aku baru tau jawabannya. Ayahku bangga melihat aku dengan seragam putih merah ku. Itu senyum yang sama yang kulihat ketika aku juara kelas, ketika aku menang lomba debat, ketika aku menerjemahkan program berbahasa Inggris Four Seasons in Japan di channel NHK World untuknya.


Setelah itu, yang aku ingat hari-hari penting dalam hidupku selalu ditemani oleh ayahku. setiap pembagian rapor selalu ayahku yang datang, ketika aku ke Padang untuk tes pertukaran pelajar ayahku yang menemani, ayah yang mengantarku ke sekolah dan ayah juga yang menjemput ketika aku pulang terlambat, ayah yang menemaniku melihat hasil SNMPTN ke warnet dan ayah juga ikut tertekan melihat aku menangis karena gagal. Ayah yang kemudian menemaniku ke Padang untuk mendaftar kuliah sebagai mahasiswa reguler mandiri. Ketika sudah jadi mahasiswa, ayah yang menjemputku dari turun bus setiap kali pulang kampung dan ayah juga yang mengantarku ke terminal ketika akan kembali ke Padang. Ayah yang lebih banyak mengomel tentang progress skripsiku dan ayah juga yang lebih banyak meneleponku.


Sementara kenanganku tentang ibu adalah kenangan yang utuh. Aku ingat ibu mengikat rambutku ketika berangkat sekolah. Aku suka ketika ibu mengikat rambutku setengah bagian diatas dan bagian bawahnya dibiarkan tergerai. Aku ingat sepasang jepitan rambut yang dibelikan ibu untukku dengan gambar Tweety. Ada bando, sebuah kalung yang agak maskulin dengan warna hitam dan liontin bergambar laba-laba, aku suka sekali kalung itu. aku ingat ibu membantu mengerjaan PR matematika-ku ketika aku sudah mengantuk. Dan ketika dewasa, ketika kebetulan aku pulang kerumah di hari senin, aku dan ibu akan pergi ke pasar dan membeli lauk. Aku selalu meminta ibu mencoba bahan makanan yang baru tapi ibuku adalah orang yang agak konservatif untuk urusan makanan. Dan setiap senin malam itu, biasanya kami akan makan malam diluar. Ibuku dibonceng ayah, dan aku dibonceng adikku.


Kenangan tentang Pitok, adikku, adalah kenangan yang agak berbeda. Sejauh yang aku ingat, ketika kecil aku selalu bertengkar dengannya. Kami memperebutkan banyak hal. Ketika ayah membelikan sepeda roda tiga dengan boncengan, aku selalu harus duduk dibelakang, dia tidak mau mengalah. Ketika ibu membelikan sepasang jaket berbahan jeans untuk kami, dia mengambil yang lebih bagus. dia selalu ingin menguasai tv dan dia selalu iri kalau ibu membelikan sesuatu untukku. Ketika kecil aku rasanya ingin mencekiknya, kami bertengkar sampai saling pukul dan ibuku frustasi melihat kami.
Tapi ketika dewasa, aku dan Pitok sering becerita satu sama lain. Umumnya yang kami ceritakan adalah hubungan asmara. Kami saling bercerita tentang pacar masing-masing dan saling menguatkan ketika salah satu dari kami putus. Ketika aku pulang, Pitok sering meminta diajak makan ke Hau’s Tea dan ditemani membeli pakaian. Dia memang boros. Aku senang bisa memintanya mengantar atau menjeputku tapi aku tidak suka dengan jok motor Satria FU-nya. Boncengan dengan Pitok itu tidak nyaman dan dia juga suka ngebut.


Aku rindu mereka tapi aku belum berani pulang. tempo hari ibuku marah besar gara-gara aku tidak mengangkat telponnya. Aku sangat takut kalau ibuku marah. Jadi, aku akan melampiaskan rasa rindu ini dengan menulis tentang mereka. Begini saja dulu. Nanti kalau selesai seminar baru aku pulang :p

break down

Kamis, 07 Maret 2013
hanya ada aku disana

sendiri, menggigil, cemberut

menggigit bibirku, mengepalkan tanganku, merapatkan gerahamku, kesal.

kata-kata yang kutahan selama hidup akhirnya meluncur.

“persetan dengan kau, dunia! Diam saja lah kau!”

Sial..

Dia hanya jawab dengan tawa.

Sial.