packing!

Minggu, 27 Januari 2013
So, I’m leaving to Medan tomorrow. I’ll join Sumatera Overland Varsities English Debate a.k.a SOVED hosted my Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. i didn’t plan to join this championship actually. Well, maybe I did, Syaban and I planned to, before we realized that the registration fee was pretty expensive and we didn’t have money. It was a couple months ago.


Something happened in the last weeks and I was managed to join SOVED as adjudicator. This is my first time. I should say that I’m nervous. I mean, who doesn’t? Even though I’ve adjudicated several English debate, even it’s still fresh how I adjudicate English Debate for high school students in Lubuk Sikaping last week. But this is different. I mean, come on! We’re talking about Sumatera Overland University students, not the high school students of West Sumatera. It’s waaay more complicated. And I still have to learn a lot of things to reach that level.

But, being nervous wouldn’t take me anywhere.

Yep! It won’t…

So, I packed my bag. I use my NUEDC 2012 bag since I don’t have suitcase. It has become my best friend when I have to travel out of town. I took it anywhere, from one debate championship to another debate championship. Then I packed my jeans, my cardigans and my worn-out sneakers. I’ve printed the Sriwijaya Air ticket I booked last Friday, and I’ve note down the address of the hotel where I stay and the venue of SOVED. I’m ready…

bag from NUEDC Denpasar

Subuh

Kamis, 24 Januari 2013

Bunyi-bunyian dari sungai
Bergemericik bernyanyi sedang matahari masih tunduk oleh kelam
bertelanjang kaki menyusuri wangi rumput yang lapang, menggigil berembun

dia berkati kami dengan air susu belantara
abadilah dia dalam Lumpur sawah, dalam kunyahan sapi bernaung dirindang jati

surya menjamahnya
lekas-lekas dia menarik nyawa kembali dalam raganya
angin subuh yang dingin mengalirkan hidup kepenjuru mata angin
kantuk merekapun rontok satu-satu
diumpan oleh air wudhu’ dari kendi


aku pun menjernihkan hati
jiwaku berkunjung ke ketenangan hakiki dan maha Agung
aku mabuk oleh cinta-Nya
10 Juli 2009

-------------------------------------------------------------------------------------

waktu subuh di rumah adalah saat-saat paling majestic yang selalu saya rindukan. selepas Shalat Subuh saya menemani Ama di dapur, menumis sayur kangkung dan menanak nasi. ketika menunggu nasi masak itu saya keluar rumah. bertelanjang kaki menyongsong kerikil-kerikil yang tidak seberapa tajam di halaman.

dingin. kelam. tenang. berwibawa. namun penuh dengan aura kehidupan. begitulah subuh di rumah.

bintang-bintang masih cerah. dari titik tempat saya selalu berdiri di halaman saya melihat tiga bintang berjejer dalam garis lurus, beberapa centimeter diatas puncak Gunung Marapi, begitu yang saya lihat. mereka selalu disana, tetap akan disana, menyapa saya dengan ramah setiap subuh. namun sahabat saya adalah bintang yang paling terang itu, beberapa centimeter lagi dari ketiga bintang yang berjejer rapi tadi. dia yang pertama hadir ketika matahari mulai runtuh, dan yang terakhir memudar ketika matahari kembali jadi raja. dia adalah sahabat paling sejati.

subuh masih muda. dingin masih menggigit. siluet Gunung Marapi dihiasi rona orange menandakan matahari mulai hidup, namun masih satu jam lagi sampai dia benar-benar muncul dari balik bahu gunung dengan silaunya yang caper.

masih bertelanjang kaki, saya berjalan sendiri menuju pematang sawah, berbekal handphone tua yang ada senternya.

menyusuri subuh dengan syahdu...

(berhubung subuh itu masih gelap dan tidak bisa ambil foto, saya upload saja foto yang ini. disana saya berjalan setiap pagi, menikmati subuh, seperti orang gila)

Habibie-Ainun di Bioskop Raya

Senin, 14 Januari 2013
Tempo hari saya ke Raya Theatre bersama Baday, Mbakyu, Helni, Neni, Vivit dan Pak Gub. Sudah dari lama kami merencanakan nonton film Habibie Ainun bersama. Jadilah sore itu, kami berbondong-bondong mengabaikan terik matahari naik angkot ke Raya.


Antriannya, Nauzubillah min zalik! Seperti orang antri sembako murah. Adat jelek orang Indonesia kelihatan sekali dengan bertumpuknya antrian. Defenisi antri bagi kebanyakan orang disini rupanya bukan berbaris rapi satu-satu, tapi tumplek di depan loket dengan menggencet orang didepannya. Sikap sama kelihatan ketika masuk ke dalam teater. Awalnya orang-orang yang ingin menonton itu berjubel di depan pintu masuk. Setelah diatur petugas bioskop baru mereka berbaris. Kesemrawutan ini mungkin akan lebih sederhana kalau disediakan palang-palang yang mengatur alur antrian, tapi sayangnya tidak ada. Kami hanya duduk saja dulu di bangku panjang menunggu antriannya habis. Ketika semua masuk, baru kami ikut masuk.
Untung kami dapat kursi paling belakang sehingga leher tidak pegal mendongak ke layar dan mata tidak jereng melihat gambar. But, another Nauzubillah min zalik was waiting for us. Beberapa sampah bungkus makanan berserakan di lantai. Aish! Pasti penonton sebelum kami “lupa” memungut sampah mereka. Yaah, husnuzhon saja.


Kami mengabaikan saja semua hal-hal Nauzubillah tersebut. Toh ketika film diputar kami tidak mementingkan lagi antrian kurang tertib dan bioskop yang kotor tadi. Kami terpukau oleh acting Reza Rahardian yang memerankan Pak Habibie. Jelas sekali dia sudah berlatih keras supaya bisa meniru cara bicara, cara berjalan dan sikap tubuh Pak Habibie. Hasilnya bagus. karakternya hidup dan citra pak Habibie bisa dia perankan dengan baik. Dia juga bisa berbicara Bahasa Jerman dengan fasih dan yang menjadi favorit saya adalah, caranya memonyong-monyongkan bibir, hilarious! Sementara scene favorit saya adalah ketika dia gugup ditanyai oleh ayah Ainun. Dia ditanya belajar membuat mesin apa di Jerman, karena terpukau dengan Ainun di depannya, dia menjawab bahwa dia membuat mesin jahit. Ahahaha!


Film ini mengajarkan dua hal untuk saya. Yang pertama adalah bagaimana seorang jenius yang pernah menjadi presiden sebuah republik berpenduduk hampir 250 juta jiwa mengawali karir sebagai insinyur pesawat terbang dengan kesulitan. sehebat apapun seseorang, tidak ada satupun dari mereka yang mulus lurus saja jalannya. Well, pelaut hebat tidak pernah lahir dari lautan tenang kan?


Yang kedua, cinta. bagaimana cinta bisa begitu indah dalam kesederhanaannya. Cinta tidak pernah menuntut. Cinta mengerti, cinta memahami, cinta tidak perlu menjelaskan, cinta tak perlu meminta, dan selama kita yakin bahwa cinta kita adalah cinta yang tepat, maka dia tidak akan kemana-mana.


Dan kesetiaan pak Habibie kepada buk Ainun adalah cinta yang luar biasa indah. Saking indahnya sehingga kami terharu. Aku sendiri berusaha menyembunyikan tangisku dengan mentertawakan mbak niar disampingku yang bercucuran air mata.


Film berakhir jam 6 sore dan kami pulang. Perasaan setelah nonton film itu sangat syahdu. Aku merasa baru kembali dari dunia petualangan berdurasi 1,5 jam dan bertambah semangat, dalam hal ini bersemangat menemukan cinta. mungkin kami harus lebih sering ke bioskop. tapi kalau lain kali kami ke bioskop, saya harap kami bisa mendapatkan kualitas selevel XXI dengan 3D. eeerrr, mungkin masih lama untuk kota seukuran Padang :P

home

Minggu, 06 Januari 2013
Kau adalah anak hutan

Anak sungai

Anak bambu

Kau tumbuh seperti bunga padi yang diayun bayu
mencari ranum bersama buah jambu air yang memerah di awal musim
Wangimu adalah wangi lumpur sawah, wangi rumput basah, wangi kuini mentah
Detak jantungmu adalah irama ayunan cangkul dan bahagiamu sesederhana lauk sayur kangkung

Kau adalah orang kampung
Ah! Beruntung sekali…
random image from google search



----------------------------------------------------------------------------------------
I wrote this poetry a little awhile ago, when I had a chance to see Jakarta. I remember thinking that I will never be able to stay there. I’ve been a villager for my entire life and being with all those, uummm, city stuffs or anything will never suite me. And then, I Thank God that I grew up in a village. It doesn’t matter if the world moves so fast and leave me behind when I stay there, the only thing that matter is, that is home. I don’t want to leave my home…