Another Adjudicating Record

Jumat, 15 November 2013
XX Hotel, Solok, November 14th

I felt some itchy spot on my opened feet skin. It must be the mosquito. I had bought a sachet of mosquito repellant lotion but still hadn't put it on yet. I had to take a bath before it.

This hotel is still the same, the bed cover, the bathroom, the gloomy light, and also the mosquito. I've stayed in this hotel three times so i'm already get familiar with the atmosphere. This hotel is not the best, I even hate this place when I first stayed here. But as two years passed, I find myself get used to it and I love the memories I had here. So here I am now, laying on the bed in room 206, listening on mp3 in my handphone and writing a post for my blog so I can remember the detail.

We here in Solok for the UMMY Debate Championship. This is my 3rd year joining this event. The first time I participated in 2011 was as a debater. The next two years they invite me as adjudicator. As long as I can remember, it was always fun to participate in UDC. I had one of my best match here. This year's competition is much better. We send 4 teams and they are very talented debaters, and we have bang rian and "his" tabby system here, he is the chief adjudicator, and some other good adjus from other province. The quality of competition is improving nicely.

There are a lot of other participants staying in this hotel, I was thinking about saying hello and spend an hour or two to chat with them, but then I think i'm too tired and my legs hurt. This is only first day. Tomorrow will be long, tiring, yet fun. So I'd better take a rest now.

I'll write about the whole competition later with some nice picture. Until then, i'll do my best!

Google Map dan Salad Buah

Rabu, 06 November 2013
Aku pernah sekali melihat kampungku melalui google maps. Pertama diperlihatkannya wilayah Asia Tenggara. Aku scroll untuk memperkecil skalanya, kuarahkan ke pulau Sumatera. Ku scroll lagi, petanya ku arahkan ke bagian tengah Pulau Sumatera. Kemudian kursornya aku drag ke bagian Pantai Barat Sumatera. Pelan-pelan, tidak bisa langsung cepat, koneksi internet dari modemku tak cukup sigap. beberapa saat yang kulihat adalah kotak-kotak kabur berwarna kehijauan, satu detik, dua detik, loading dan loading, akhirnya peta itu tak lagi berbentuk kotak-kotak kabur. Gambarnya sudah jelas dan sudah ada nama kota-kota tertera disana. Bukittinggi. Padang. Solok. Sawahlunto.

aku zoom lagi. Terlihat jalanan yang panjang dan berliku. aku merunut jalanan itu dengan pointer mouse. Tujuanku: Sungai Landai. Dari jalan Padang-Bukittinggi aku berbelok ke Barat, di salah satu persimpangan kecil. aku zoom lagi, aku bisa melihat jalan kampung sekarang. dari simpang jalan itu, kursor kembali ku runut, semakin ke barat, 500 meter, lalu berbelok ke utara. Ku zoom lagi, sekarang aku bisa melihat jalan setapak! Dan di ujung jalan setapak itu, dari atas langit, aku melihat atap rumahku yang berbentuk huruf L gendut.


Aku tersenyum. Gambar citra satelit itu cukup jelas. Sambil melihat atap rumahku aku membayangkan, bagian ini halaman, ini kamar adikku di lantai dua diatas dapur, ini bak air yang jebol dan sekarang digunakan sebagai gudang, ini kebun kecil tempat nenekku menanam talas, cabai merah, daun bawang dan kunyit. Dan dibelakang rumahku adalah rumpun-rumpun bambu tinggi. Ada pohon besar diantaranya, entah pohon apa, mungkin beringin atau mahoni, aku tidak tau. disana sering ku dengar monyet-monyet ribut bercanda. Terlihat petak-petak tanah yang ditanami oleh masyarakat sekitar. Agroforesty kata orang-orang pintar di Fakultasku, parak kata orang-orang di kampungku. Di belakang rumahku itu adalah bagian dari Gunung Singgalang. Bahkan sebenarnya rumahku adalah bagian dari gunung Singgalang. Kami bagian dari gundukan tanah raksasa itu. Tumbuh, berkembang, dan mengambil manfaat darinya.

kampung pinggir hutan di kaki gunung

Aku termenung membayangkan canggihnya google maps ini, seperti orang udik yang baru melihat kota. Aku mencoba melihat tempat-tempat lain. Sekolahku, kampusku, kosanku, semua sudut jalan di Kota Bukittinggi dan Padang. Lalu, aku memutar bola dunia itu dan melompati jarak, mengunjungi Manhattan. Berbeda sekali! Jalanan disana lurus dan berbentuk kotak-kotak yang rapi. Sementara jalanan di kampungku berbelok-belok dan meliuk-liuk semaunya. Aerial View kampungku didominasi warna hijau sementara yang nampak hijau di Manhattan hanya sebidang lahan yang agak luas berbentuk empat persegi panjang yang mereka namai Central Park. Di buku IPS kelas lima SD dulu aku pernah membaca kalau New York adalah kota terbesar di dunia dan bagiku akan selalu seperti itu, walaupun mungkin gelar itu akan segera diambil alih oleh salah satu kota di China. Sejak kelas lima SD itu, aku jadi ingin ke New York. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya disana. Aku membayangkan ada banyak etalase yang classy dan megah, taksi berwarna kuning yang lalu lalang di jalan-jalan yang namanya aneh; fifth avenue something, billboard LCD besar di Time Square, restoran-restoran fine dining, apartemen, subway yang penuh, dan tiba-tiba ada sirene mobil polisi. memang pengetahuanku tentang New York sebatas apa yang ditunjukkan film-film Hollywood.


Aku kembali ke Indonesia. Melihat peta nusantara lama-lama tanpa men-zoom-nya. Aku memperhatikan jarak kota-kota yang pernah aku kunjungi; Pekanbaru, Medan, Jakarta, Semarang, Denpasar, lalu mengukur jarak dari satu kota dengan kota lain dengan jariku. Berapa ribu kilometer kira-kira aku sudah bepergian? aku tersenyum, senyum yang penuh syukur karena aku pernah kesana. Kalau bukan karena ikut lomba debat, aku belum akan pernah menginjakkan kaki keluar Pulau Sumatera. Aku masih akan mengira-ngira bagaimana rasanya berada di dalam pesawat dan bagaimana rasanya menginjak tanah di pulau yang berbeda. Samakah aroma udaranya? Aaah, anak kampung yang udik ini…


Ketika akhirnya aku menutup tab google maps, semua yang aku lihat itu; kampungku, kota-kota besar yang bernah aku kunjungi, dan kota terbesar yang ingin aku kunjungi, berbaur satu sama lain dengan akrab. Mereka bercampur seperti semangkuk salad buah yang sering aku bikin ketika hari panas, campuran pepaya, semangka, dan melon, lalu disiram dengan sebotol yakult dingin yang menyegarkan. Salad buah itu menjadi metafora hidupku, dan akan selalu begitu…

Hujan

Rabu, 04 September 2013
Pasar Baru, Awal September…

Hujan mulai rajin mampir. Aku merasa seperti didatangi teman lama dari masa sekolah. Kadang dia datang dengan sopan, mengucap Assalamualaikum yang ditandai oleh awan hitam yang tebal di sisi langit sebelah timur. Kadang dia datang dengan sedikit kurang adat-runtuh tiba-tiba dari langit tanpa peringatan saat siang bolong-, membuat repot mahasiswa-mahasiswi yang sedang di jalan.


Di siang hari, teman lamaku itu akan membuat banyak orang menggerutu karena dia bisa menghalangi mereka yang akan berangkat kuliah, bisa membuat perasaan tidak nyaman karena sepatu yang basah. Tapi jika dia datang malam hari, orang-orang akan bersyukur karena suhu udara akan menjadi dingin dan mereka bisa tidur enak dibalut selimut. Dan percayalah, sekali-sekali bisa tidur dengan selimut yang hangat adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang menetap di Pasar Baru yang cenderung lebih seperti penggorengan karena cuaca panas, di malam hari sekalipun.


Bagiku, hujan adalah kebahagiaan. Mau pagi, mau siang, mau rinai, mau badai, kapanpun dan bagaimanapun turunnya, hatiku girang menyambut. Hujan memencet semacam tombol pause dalam hariku dan untuk beberapa saat, aku bisa melupakan apapun yang terjadi. Kalau turunnya semakin lebat, dia berganti memencet tombol rewind, lalu aku berubah menjadi bocah berambut Dora yang berjingkrak-jingkrak diatas genangan air kotor kecoklatan. Menikmati curahan air hujan sepuas-puasnya sebelum ibuku memanggil dengan nada marah.


Hujan sudah menjadi semacam inspirasi wajib bagi para sastrawan, sudah masuk buku instruksi manual mereka, sudah terlalu mainstream. Dari sastrawan besar seperti Kahlil Gibran, sampai sastrawan kacangan sepertiku. Itu pun kalau aku boleh menyebut diriku sebagai sastrawan, karena pada kenyataannya, satu-satunya apresiasi sastra yang pernah aku peroleh adalah sebuah tepuk tangan yang agak antusias berdurasi beberapa detik ketika aku membacakan puisiku di depan komunitas Forum Lingkar Pena Padang. Itu hampir empat tahun yang lalu, di sebuah pertemuan tidak resmi di Taman Budaya yang hanya dihadiri beberapa orang.


Tapi biarlah. Biar saja aku hanya “sastrawan” kacangan, biar saja inspirasiku mainstream, toh selama ini aku memang orang yang biasa-biasa saja. Yang jelas, hujan selalu membangkitkan perasaan indah dalam hati. Membuatku ingin menulis, mengenang masa kecil, atau sekedar melamun dengan pikiran yang luntur disiram air cucuran atap, lalu hanyut ke selokan, ke sungai, akhirnya lenyap di samudra.

Langit menjadi demikian cerah dan biru. Rupanya Tuhan sedang ingin melukis.

Minggu, 01 September 2013
Dia menuang cat minyak-Nya dengan rapi, lalu melempar-lemparkan awan kapas disana sini.

Sedikit pohon, sedikit air, sedikit angin, dan beberapa coretan lain

Gampang saja, sekali sapuan kuas yang enteng Dia ayunkan.

Beberapa ternganga, yang lain terpekur.

Sementara lelaki muda di depan sana menangkapnya dengan lensa kemudian memenjarakan di sehelai kartu pos.

Aku sendiri ingin menulis kata-kata manis dan agak naïf di biru langit itu, di hijau barisan bambu, di aliran angin yang menyelinap.

tapi kereta akan berangkat sebentar lagi dan nasib lalu lalang menghalangi pandanganku
sehingga aku hanya sempat menatapnya sebentar, kemudian berlalu

in a slow day

Sabtu, 20 April 2013
Hari ini Kota Padang panas sekali. Tools penunjuk cuaca di desktop laptopku menunjukkan suhu 320 celsius. Diluar, langit cerah berawan dan angin berhembus pelan, pelan sekali. aku duduk selonjoran di lantai kamar yang sempit, bercucuran keringat. Tiga puluh menit senam aerobic melunaskan napasku. Aku ngosngosan. Video senam aerobic yang aku download tempo hari masih bersisa sebelas menit lagi. Aku putuskan kalau aku tidak kuat melanjutkannya. Aku matikan video itu lalu beralih memutar mp3, menenggak air di botol minum dan terpaku di depan kipas angin. Kelelahan. Terang saja. Lagipula siapa yang senam aerobic di dalam kamar kos yang sempit, siang bolong, dimentori oleh seorang laki-laki kulit hitam yang botak dan kekar lewat video youtube.


Entah kenapa aku jadi senang olahraga. Sebelumnya aku mencoba skipping. Bisa ku bilang kemampuan skippingku sudah lumayan. Rata-rata setiap kali skipping aku sampai 700 kali lompatan. Ketika sedang mood bisa sampai 1000 kali. bahkan kemaren, entah aku terobsesi atau apa, dalam sehari bisa sampai 2000 kali. tapi sekarang aku mulai bosan. Aku ingin mencoba aerobic. Aku coba-coba cari di youtube, akhirnya menemukan tutorial aerobic yang sesuai, video berdurasi empat puluh menitan yang banyak gerakan-gerakan taebo-nya.


Botol air minum berkapasitas satu liter sudah kosong, badanku sudah dingin, aku kemudian mandi dan shalat zuhur. Setelah itu, di siang hari yang damai, aku menulis ini. Sambil mendengarkan lantunan lagu “somewhere over the rainbow” yang dibawakan oleh Richard Clayderman dengan pianonya dengan sangat manis. Dentingan piano itu bercampur dengan dengung lembut kipas angin, suara-suara kendaraan dari jalanan, suara tukang yang sedang mengaduk semen yang sedang memebangun ruko di depan kos, dan suara orang mengaji Al-Quran dari masjid. Lamat, jauh, indah, namun membuatku gusar dengan alasan yang aku sendiri bahkan tidak tau.


Kosan sepi. Weekend baru setengah jalan. Aku baru memberikan perbaikan skripsi ke pembimbingku jum’at kemarin dan belum dikembalikan. Aku sedang bosan menonton Running Man. bingung dan blank, aku terpaku selama beberapa menit menatap layar desktop laptopku. Sudah setahun aku tidak pernah mengganti wallpaper. Aku terlalu jatuh cinta pada foto tukik yang terlentang tak berdaya di pasir pantai ini, foto dari National Geographic memang tidak pernah mengecewakanku.


Aku menatapnya lama-lama dan suara mp3 dari media player di laptopku, dengung kipas angin, suara kendaraan di jalan, suara adukan semen, bahkan suara orang mengaji dari masjid perlahan-lahan terseret, menghilang, digantikan oleh suara-suara dari kepalaku sendiri. Aku jadi gusar. Suara-suara itu tidak ada yang indah. sebagian berbunyi “eeeehh, Dia*. kapan pulang? kapan wisuda?” sebagian lagi berbunyi “ga ada gunanya ngomong sama orang keras kepala kayak Cuwik**.” Yang lain berbunyi “apa sih, lee kwang soo*** mulu. Pak Rudi**** tuh pikirin.” Tanpa sadar aku cemberut.


Ekspektasi orang-orang benar-benar melelahkan ya? Aku sedang bingung dengan diriku sendiri dan mereka bukannya menolong tapi malah mencercaku dengan berbagai pertanyaan dan tuntutan. Aku jadi ingin tertawa dan balik bertanya “kenapa kalian begitu repot?” hanya saja aku tidak mungkin membalikkan “pertanyaan dan tuntutan yang sepertinya penuh simpati” itu dengan kalimat skeptic dan tidak berterima kasih ini.
Tapi semakin aku pikirkan, pertanyaan dan tuntutan itu semakin menyebalkan. Aku mematikan media player, memutar kembali video aerobic itu, dan kembali senam. Mengeluarkan keringat dan racun. Jingkrajingkrakan sampai aku lelah dan berharap ketika nanti tubuhku lelah pikiranku juga lelah. Lalu aku tertawa lagi…

* nama kecilku
** nama panggilanku diantara teman-teman kampus
*** cast running man
**** nama dosen pembimbingku


P.S

Lelah

Minggu, 07 April 2013
Kita
Budak waktu dan angan
Menjelma kehampaan yang datang dari kelam
Kita berangkat di pinggir hari, lalu pulang di pinggir satunya
Lalu tak bosan-bosan menghitung malam


Kita mengerti bagaimana hidup tak bisa ditangkap dalam lensa kamera
Hanya saja,
Yang kau lakukan dan kau sesalkan, yang tak kau lakukan dan kau sayangkan
Naik ke langit dan kembali menjadi petang
Kemudian menjadi malam
Kemudian menjadi Sesal…


Padang, 7 April 2013

i miss home

Sabtu, 16 Maret 2013
Aku mengingat masa kecilku seperti potongan, seperti sketsa yang terpisah satu sama lain. Entah kenapa aku tidak bisa mengingatnya secara utuh. Namun bagaimana pun, potongan-potongan itu memberikan kenangan yang cukup untukku.


Kenangan pertama yang aku ingat adalah ketika ibu menyuapi aku dan adikku makan siang. Rasanya aku baru tiga tahun waktu itu. kami disuapi nasi dengan lauk ikan, sambil bermain-main di sekitar rumah. Itu saja. Kenangan itu lalu melompat pada saat rumah kami terbakar. Waktu itu jam 4 subuh dan apinya sangat besar. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sehingga aku tidak merasa takut atau sedih. Yang aku ingat selanjutnya aku harus melanjutkan tidur diatas kasur –salah satu barang yang bisa diselamatkan- yang digelar di pinggir sawah dan kedinginan karena embun yang menggantung di udara. Ketika matahari terbit dan langit terang, aku baru merasakan sedih melihat beberapa ayam dan kalkun peliharaan keluargaku mati terbakar sampai hangus. Aku punya celengan yang ikut terbakar namun uang koin didalamnya masih bisa dipakai. Beberapa hari setelah itu, aku jajan dengan uang yang berwarna hitam legam. Untungnya tidak ada pemilik warung yang protes. Kami pindah ke sebuah rumah kosong di desa sebelah sampai rumah baru kami selesai dibangun.


Rumah baru kami selesai ketika aku mulai masuk TK. Disini ingatanku kembali menjadi penggalan-penggalan tak sempurna. Aku ingat ketika meluncur di perosotan di taman bermainnya pada hari pertama masuk sekolah, aku ingat mobil sekolah kami, aku ingat guru kami membacakan dongeng di mushalla, tamborin yang digunakan guru kami ketika bernyanyi, seragam-seragam kami, dan aku ingat kalau aku adalah anak yang berani. Ketika aku membuka lagi rapor TK-ku, ingatan itu terbukti benar dengan bukti catatan dari guru kelasku “kemampuan untuk bekerja sama sudah baik, jarang menangis, namun butuh latihan untuk mengendalikan emosi.” Nah! Aku sudah pemarah sejak kecil ternyata.
Memori selanjutnya adalah pada hari pembagian seragam di SD. Jadi, waktu pertama kali masuk sekolah kami belum memakai seragam karena baru diukur dan dijahit. Beberapa minggu setelah itu setelah seragamnya selesai, kami mengganti baju disekolah. Itu hari pertama aku memakai seragam SD. Di perjalanan pulang, aku berpapasan dengan ayahku yang berangkat kembali ke tempat kerjanya setelah pulang makan siang. Aku tidak akan lupa senyum ayahku waktu itu. dengan motor tuanya dia memperhatikan aku dari jauh. Ketika semakin dekat, aku berteriak-teriak senang memanggilnya. “Apa! Apa!” ayahku tidak berhenti dan turun, dia hanya memperlambat laju motornya dan memperhatikan aku dengan seragam baruku, dengan senyum yang sangat dalam. Aku ingat sekali, waktu itu aku bertanya pada diriku sendiri kenapa ayahku tersenyum begitu. Bertahun-tahun setelah itu, aku baru tau jawabannya. Ayahku bangga melihat aku dengan seragam putih merah ku. Itu senyum yang sama yang kulihat ketika aku juara kelas, ketika aku menang lomba debat, ketika aku menerjemahkan program berbahasa Inggris Four Seasons in Japan di channel NHK World untuknya.


Setelah itu, yang aku ingat hari-hari penting dalam hidupku selalu ditemani oleh ayahku. setiap pembagian rapor selalu ayahku yang datang, ketika aku ke Padang untuk tes pertukaran pelajar ayahku yang menemani, ayah yang mengantarku ke sekolah dan ayah juga yang menjemput ketika aku pulang terlambat, ayah yang menemaniku melihat hasil SNMPTN ke warnet dan ayah juga ikut tertekan melihat aku menangis karena gagal. Ayah yang kemudian menemaniku ke Padang untuk mendaftar kuliah sebagai mahasiswa reguler mandiri. Ketika sudah jadi mahasiswa, ayah yang menjemputku dari turun bus setiap kali pulang kampung dan ayah juga yang mengantarku ke terminal ketika akan kembali ke Padang. Ayah yang lebih banyak mengomel tentang progress skripsiku dan ayah juga yang lebih banyak meneleponku.


Sementara kenanganku tentang ibu adalah kenangan yang utuh. Aku ingat ibu mengikat rambutku ketika berangkat sekolah. Aku suka ketika ibu mengikat rambutku setengah bagian diatas dan bagian bawahnya dibiarkan tergerai. Aku ingat sepasang jepitan rambut yang dibelikan ibu untukku dengan gambar Tweety. Ada bando, sebuah kalung yang agak maskulin dengan warna hitam dan liontin bergambar laba-laba, aku suka sekali kalung itu. aku ingat ibu membantu mengerjaan PR matematika-ku ketika aku sudah mengantuk. Dan ketika dewasa, ketika kebetulan aku pulang kerumah di hari senin, aku dan ibu akan pergi ke pasar dan membeli lauk. Aku selalu meminta ibu mencoba bahan makanan yang baru tapi ibuku adalah orang yang agak konservatif untuk urusan makanan. Dan setiap senin malam itu, biasanya kami akan makan malam diluar. Ibuku dibonceng ayah, dan aku dibonceng adikku.


Kenangan tentang Pitok, adikku, adalah kenangan yang agak berbeda. Sejauh yang aku ingat, ketika kecil aku selalu bertengkar dengannya. Kami memperebutkan banyak hal. Ketika ayah membelikan sepeda roda tiga dengan boncengan, aku selalu harus duduk dibelakang, dia tidak mau mengalah. Ketika ibu membelikan sepasang jaket berbahan jeans untuk kami, dia mengambil yang lebih bagus. dia selalu ingin menguasai tv dan dia selalu iri kalau ibu membelikan sesuatu untukku. Ketika kecil aku rasanya ingin mencekiknya, kami bertengkar sampai saling pukul dan ibuku frustasi melihat kami.
Tapi ketika dewasa, aku dan Pitok sering becerita satu sama lain. Umumnya yang kami ceritakan adalah hubungan asmara. Kami saling bercerita tentang pacar masing-masing dan saling menguatkan ketika salah satu dari kami putus. Ketika aku pulang, Pitok sering meminta diajak makan ke Hau’s Tea dan ditemani membeli pakaian. Dia memang boros. Aku senang bisa memintanya mengantar atau menjeputku tapi aku tidak suka dengan jok motor Satria FU-nya. Boncengan dengan Pitok itu tidak nyaman dan dia juga suka ngebut.


Aku rindu mereka tapi aku belum berani pulang. tempo hari ibuku marah besar gara-gara aku tidak mengangkat telponnya. Aku sangat takut kalau ibuku marah. Jadi, aku akan melampiaskan rasa rindu ini dengan menulis tentang mereka. Begini saja dulu. Nanti kalau selesai seminar baru aku pulang :p

break down

Kamis, 07 Maret 2013
hanya ada aku disana

sendiri, menggigil, cemberut

menggigit bibirku, mengepalkan tanganku, merapatkan gerahamku, kesal.

kata-kata yang kutahan selama hidup akhirnya meluncur.

“persetan dengan kau, dunia! Diam saja lah kau!”

Sial..

Dia hanya jawab dengan tawa.

Sial.

i wish i had a time machine

Selasa, 19 Februari 2013

Medan: Prolog

Senin, 04 Februari 2013
so, Medan was great!
i spent first two days in Etek Ilen's house in Tanjung Morawa. she's been living there for about ten years with her family. Etek Ilen is my mom's younger sister. She has two sons, Ari a.k.a Mas Ai and Rian a.k.a Dedek Ganteng (that's how he always writes his name in every photo caption and game profile ^^). I spent time talking about Naruto with them, and i have to say that compared to them, i'm a not-so-fanatic fan of Naruto. these two cousins of mine know every single thing about Naruto. they even know the types of Rasengan and all kind of jutsu. well, that's not my league so i decided just to be a good listener.

dedek ganteng and his cat, Ani


Tek Ilen took me and Anna to Tek Ana's place,a grandmother who used to live next to my house in Bukittinggi. she is my grandma's mom's niece, sort of it. i even can't explain what my relationship with her, but i really miss her. i remember her as the part of my childhood. i loved to play in her big house when i was young. she has so many old pictures on the wall and she gave me banana when i visit her. Tek Ana doesn't have kid. so when she get older and older and her eye sight was getting worse, her niece take her to Medan so they can take care of her. what makes me really want to meet her is, Tek Ana probably will never go back to Bukittinggi because she's too weak for a long trip and maybe i'll never see her again. Thank God she still remember me even though it's hard to explain to her.

tek Ana




after visiting Tek Ana, i come back to Tanjung Morawa. there's still one night left before the committee provide the hotel for us so i slept in Tek Ilen's house again. Me, Mas Ai, and Dedek Ganteng -again- spent time talking about Naruto and watch the video of the battle of Kakashi and Pain. we're just like in our own world while Anna, Tek Ilen, and Pak Etek Makmur (Tek Ilen's Husband) just confusedly hear to our conversation because they don't know anything about Naruto :)

the next morning, Dedek Ganteng looked down when i told him that i would be leaving that day. he cried when he's leaving to school. Mas Ai wasn't really show how he feel because he's a teenager already. i was touched and almost cry too.

so, after Dedek Ganteng and Mas Ai went to school, i said goodbye to Tek Ilen and Pak Etek Makmur and thank them for the hospitality, then caught the bus to Medan and felt so exited about SOVED :)

packing!

Minggu, 27 Januari 2013
So, I’m leaving to Medan tomorrow. I’ll join Sumatera Overland Varsities English Debate a.k.a SOVED hosted my Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. i didn’t plan to join this championship actually. Well, maybe I did, Syaban and I planned to, before we realized that the registration fee was pretty expensive and we didn’t have money. It was a couple months ago.


Something happened in the last weeks and I was managed to join SOVED as adjudicator. This is my first time. I should say that I’m nervous. I mean, who doesn’t? Even though I’ve adjudicated several English debate, even it’s still fresh how I adjudicate English Debate for high school students in Lubuk Sikaping last week. But this is different. I mean, come on! We’re talking about Sumatera Overland University students, not the high school students of West Sumatera. It’s waaay more complicated. And I still have to learn a lot of things to reach that level.

But, being nervous wouldn’t take me anywhere.

Yep! It won’t…

So, I packed my bag. I use my NUEDC 2012 bag since I don’t have suitcase. It has become my best friend when I have to travel out of town. I took it anywhere, from one debate championship to another debate championship. Then I packed my jeans, my cardigans and my worn-out sneakers. I’ve printed the Sriwijaya Air ticket I booked last Friday, and I’ve note down the address of the hotel where I stay and the venue of SOVED. I’m ready…

bag from NUEDC Denpasar

Subuh

Kamis, 24 Januari 2013

Bunyi-bunyian dari sungai
Bergemericik bernyanyi sedang matahari masih tunduk oleh kelam
bertelanjang kaki menyusuri wangi rumput yang lapang, menggigil berembun

dia berkati kami dengan air susu belantara
abadilah dia dalam Lumpur sawah, dalam kunyahan sapi bernaung dirindang jati

surya menjamahnya
lekas-lekas dia menarik nyawa kembali dalam raganya
angin subuh yang dingin mengalirkan hidup kepenjuru mata angin
kantuk merekapun rontok satu-satu
diumpan oleh air wudhu’ dari kendi


aku pun menjernihkan hati
jiwaku berkunjung ke ketenangan hakiki dan maha Agung
aku mabuk oleh cinta-Nya
10 Juli 2009

-------------------------------------------------------------------------------------

waktu subuh di rumah adalah saat-saat paling majestic yang selalu saya rindukan. selepas Shalat Subuh saya menemani Ama di dapur, menumis sayur kangkung dan menanak nasi. ketika menunggu nasi masak itu saya keluar rumah. bertelanjang kaki menyongsong kerikil-kerikil yang tidak seberapa tajam di halaman.

dingin. kelam. tenang. berwibawa. namun penuh dengan aura kehidupan. begitulah subuh di rumah.

bintang-bintang masih cerah. dari titik tempat saya selalu berdiri di halaman saya melihat tiga bintang berjejer dalam garis lurus, beberapa centimeter diatas puncak Gunung Marapi, begitu yang saya lihat. mereka selalu disana, tetap akan disana, menyapa saya dengan ramah setiap subuh. namun sahabat saya adalah bintang yang paling terang itu, beberapa centimeter lagi dari ketiga bintang yang berjejer rapi tadi. dia yang pertama hadir ketika matahari mulai runtuh, dan yang terakhir memudar ketika matahari kembali jadi raja. dia adalah sahabat paling sejati.

subuh masih muda. dingin masih menggigit. siluet Gunung Marapi dihiasi rona orange menandakan matahari mulai hidup, namun masih satu jam lagi sampai dia benar-benar muncul dari balik bahu gunung dengan silaunya yang caper.

masih bertelanjang kaki, saya berjalan sendiri menuju pematang sawah, berbekal handphone tua yang ada senternya.

menyusuri subuh dengan syahdu...

(berhubung subuh itu masih gelap dan tidak bisa ambil foto, saya upload saja foto yang ini. disana saya berjalan setiap pagi, menikmati subuh, seperti orang gila)

Habibie-Ainun di Bioskop Raya

Senin, 14 Januari 2013
Tempo hari saya ke Raya Theatre bersama Baday, Mbakyu, Helni, Neni, Vivit dan Pak Gub. Sudah dari lama kami merencanakan nonton film Habibie Ainun bersama. Jadilah sore itu, kami berbondong-bondong mengabaikan terik matahari naik angkot ke Raya.


Antriannya, Nauzubillah min zalik! Seperti orang antri sembako murah. Adat jelek orang Indonesia kelihatan sekali dengan bertumpuknya antrian. Defenisi antri bagi kebanyakan orang disini rupanya bukan berbaris rapi satu-satu, tapi tumplek di depan loket dengan menggencet orang didepannya. Sikap sama kelihatan ketika masuk ke dalam teater. Awalnya orang-orang yang ingin menonton itu berjubel di depan pintu masuk. Setelah diatur petugas bioskop baru mereka berbaris. Kesemrawutan ini mungkin akan lebih sederhana kalau disediakan palang-palang yang mengatur alur antrian, tapi sayangnya tidak ada. Kami hanya duduk saja dulu di bangku panjang menunggu antriannya habis. Ketika semua masuk, baru kami ikut masuk.
Untung kami dapat kursi paling belakang sehingga leher tidak pegal mendongak ke layar dan mata tidak jereng melihat gambar. But, another Nauzubillah min zalik was waiting for us. Beberapa sampah bungkus makanan berserakan di lantai. Aish! Pasti penonton sebelum kami “lupa” memungut sampah mereka. Yaah, husnuzhon saja.


Kami mengabaikan saja semua hal-hal Nauzubillah tersebut. Toh ketika film diputar kami tidak mementingkan lagi antrian kurang tertib dan bioskop yang kotor tadi. Kami terpukau oleh acting Reza Rahardian yang memerankan Pak Habibie. Jelas sekali dia sudah berlatih keras supaya bisa meniru cara bicara, cara berjalan dan sikap tubuh Pak Habibie. Hasilnya bagus. karakternya hidup dan citra pak Habibie bisa dia perankan dengan baik. Dia juga bisa berbicara Bahasa Jerman dengan fasih dan yang menjadi favorit saya adalah, caranya memonyong-monyongkan bibir, hilarious! Sementara scene favorit saya adalah ketika dia gugup ditanyai oleh ayah Ainun. Dia ditanya belajar membuat mesin apa di Jerman, karena terpukau dengan Ainun di depannya, dia menjawab bahwa dia membuat mesin jahit. Ahahaha!


Film ini mengajarkan dua hal untuk saya. Yang pertama adalah bagaimana seorang jenius yang pernah menjadi presiden sebuah republik berpenduduk hampir 250 juta jiwa mengawali karir sebagai insinyur pesawat terbang dengan kesulitan. sehebat apapun seseorang, tidak ada satupun dari mereka yang mulus lurus saja jalannya. Well, pelaut hebat tidak pernah lahir dari lautan tenang kan?


Yang kedua, cinta. bagaimana cinta bisa begitu indah dalam kesederhanaannya. Cinta tidak pernah menuntut. Cinta mengerti, cinta memahami, cinta tidak perlu menjelaskan, cinta tak perlu meminta, dan selama kita yakin bahwa cinta kita adalah cinta yang tepat, maka dia tidak akan kemana-mana.


Dan kesetiaan pak Habibie kepada buk Ainun adalah cinta yang luar biasa indah. Saking indahnya sehingga kami terharu. Aku sendiri berusaha menyembunyikan tangisku dengan mentertawakan mbak niar disampingku yang bercucuran air mata.


Film berakhir jam 6 sore dan kami pulang. Perasaan setelah nonton film itu sangat syahdu. Aku merasa baru kembali dari dunia petualangan berdurasi 1,5 jam dan bertambah semangat, dalam hal ini bersemangat menemukan cinta. mungkin kami harus lebih sering ke bioskop. tapi kalau lain kali kami ke bioskop, saya harap kami bisa mendapatkan kualitas selevel XXI dengan 3D. eeerrr, mungkin masih lama untuk kota seukuran Padang :P

home

Minggu, 06 Januari 2013
Kau adalah anak hutan

Anak sungai

Anak bambu

Kau tumbuh seperti bunga padi yang diayun bayu
mencari ranum bersama buah jambu air yang memerah di awal musim
Wangimu adalah wangi lumpur sawah, wangi rumput basah, wangi kuini mentah
Detak jantungmu adalah irama ayunan cangkul dan bahagiamu sesederhana lauk sayur kangkung

Kau adalah orang kampung
Ah! Beruntung sekali…
random image from google search



----------------------------------------------------------------------------------------
I wrote this poetry a little awhile ago, when I had a chance to see Jakarta. I remember thinking that I will never be able to stay there. I’ve been a villager for my entire life and being with all those, uummm, city stuffs or anything will never suite me. And then, I Thank God that I grew up in a village. It doesn’t matter if the world moves so fast and leave me behind when I stay there, the only thing that matter is, that is home. I don’t want to leave my home…