Bintang Sirius

Rabu, 19 September 2012
Tempo hari saya telponan sama Handa, membahas hal-hal random yang terjadi sehari-hari. Saya sedang bercerita tentang seekor burung tak tau adat yang buang hajat di kepala saya ketika tiba-tiba, entah kenapa, dia memotong omongan saya dan bilang “
jadilah kaya’ Bintang Sirius, ga pernah padam walaupun energinya terus terpakai. Dia yang paling terang, paling kuat, sinarnya paling cerah sampai bisa menembus kabut
.”

saya diam beberapa saat, mencerna kalimatnya dan mencoba mengerti apa hubungannya dengan cerita saya tentang burung tak tau adat itu. dan, setelah beberapa detik, feedback paling cerdas yang terpikirkan Cuma “yah, bahan bakarnya buat terus bersinar terang pasti banyak kan?” saya melupakan sisi filosofis dari apa yang dia sampaikan. Dan dia hanya menjawab pertanyaan bebal saya dengan “iya…” lalu diam, dan saya lanjut berceloteh tentang burung yang buang hajat di kepala saya tadi.


Setelah telepon ditutup, saya berpikir tentang bintang Sirius tadi. Saya googling dan mengerti bahwa Sirius adalah bintang paling terang di langit malam. Bahwa energi hydrogen di intinya cukup untuk membuatnya menyala untuk satu milyar tahun lagi, bahwa dia salah satu bintang di rasi Canis Majoris, bahwa ada bintang katai putih kecil yang jadi pasangannya, yang disebut sebagai Sirius B. semacam itulah.


Saya ingat, setelah saya baca artikel Wikipedia itu, saya berpikir bahwa Handa salah. Saya tidak bisa menjadi seperti Sirius. Saya merasa terlalu kerdil dan picik untuk menjadi bintang paling terang. Rasanya saya tidak pernah benar-benar percaya pada kekuatan saya sendiri. Daripada Bintang Sirius, saya lebih mirip Sirius B, bintang katai putih yang redup dan kecil. Saking kecilnya, sampai-sampai seekor burung tak tahu adat berani buang hajat dikepalanya… Saya menyalahkan diri saya karena menjadi katai putih, karena merasa kerdil. Lalu diri saya yang merasa kerdil itu menyalahkan diri saya karena tidak bisa berbuat lebih dari sekedar mengeluh. Lalu saya membela diri saya sendiri bahwa menjadi katai putih tidak berarti gagal, kemudian diri saya merasa kerdil memotong, bahwa saya hanya mencari pelarian dari kegagalan-kegagalan saya sendiri. Saya mendengar berbagai macam suara dari dalam diri saya sendiri, dan suara-suara itu seolah memiliki jiwanya masing-masing, sebagian membenarkan dan sebagian lagi menyalahkan saya. Saya terjebak di tengah-tengah.



Saya menghabiskan lima belas menit duduk dikamar mandi, menggosok lengan dengan lulur sambil memikirkan Sirius dan katai putih pendampingnya yang setia, dan juga burung tukang buang hajat sembarangan tadi. Malamnya saya berbaring dengan mata nyalang, masih memikirkan hal yang sama. kelelahan, saya akhirnya memutuskan kalau sebenarnya saya memang MEMILIH menjadi katai putih. Bukan saya tidak suka Sirius. Sirius tetap cantik dan akan tetap menjadi bintang favorit saya, karena Handa yang mengenalkan saya padanya. Tapi saya lebih suka menjadi diri saya sendiri, tanpa mengejar semua cahaya benderang benderang itu. Saya memang tidak nyaman dengan yang silau-silau.


Dan, burung kecil itu, ahh, dia tidak melakukannya dengan sengaja. Sudah saya maafkan…

My Dad

Senin, 10 September 2012
Jadi, hari itu saya berangkat ke kampus. Duduk di bangku depan, disebelah ibu-ibu yang dari pakaiannya dan tempatnya turun bus bisa saya tebak kalau dia adalah pegawai tata usaha di fakultas ekonomi. Sikapnya terlihat tidak nyaman, lalu dengan malu-malu dia memberitahu saya bahwa dia sedang sakit bisul. Saya hanya menanggapi dengan senyum prihatin dan “ooooooo..” ala kadarnya, sebenarnya tidak tertarik dengan masalah kesehatannya. Namun ketika dia terus mengeluh bahwa dia kesulitan untuk duduk, saya berkomentar tentang kemungkinan dia terlalu banyak makan telur dan bahwa ada obat bersih darah yang ampuh melawan penyakit kulit. Dia bertanya saya fakultas apa dan angkatan berapa. Saya hanya menjawab apa yang ditanyakannya dan kami diam lagi.

Lalu dalam diam itulah saya mulai berpikir; hidup saya sudah berkutat dengan bus ini sepanjang 4 tahun belakangan, tapi baru sekarang saya duduk disebelah seorang pegawai tata usaha bersikap ramah kepada saya. Sebelumnya, saya selalu menghindari urusan dengan orang-orang dengan profesi itu. bagi saya, mereka sering terlihat sok penting, sok sibuk, dan selalu menggerutu setiap kita ingin bertanya atau meminta tolong. setiap kali saya keluar dari ruang tata usaha -sejak SMA dulu- , saya selalu berdoa “ ya Tuhan, jadikanlah aku apapun, tapi aku mohon jangan jadikan aku pegawai tata usaha di instansi manapun.” Dan, sepertinya doa itu berbalik menyerang saya. Bukan pada diri saya sendiri, tapi pada ayah saya.

Setelah sekian tahun menjadi guru honorer, beliau akhirnya diangkat juga jadi pegawai negeri. Namun beliau adalah lulusan fakultas dakwah, sehingga dengan segala kerumitan peraturan administrasi dan birokrasi beliau tidak bisa lagi menjadi guru. Yang bisa diangkat jadi guru adalah mereka dari fakultas tarbiyah atau mereka yag sudah mengambil akta empat. Unit kerja ayah saya dipindahkan di tata usaha. Benar, ayah saya menjadi pegawai tata usaha. Astaghfirullah.

Tapi untunglah, setelah lebaran ini ayah saya tidak akan bekerja di MTsN lagi. Beliau InsyaAllah akan dimutasi ke kantor KUA, menjadi penghulu. Saya lega, dengan begitu saya tidak harus membenci profesi ayah saya sendiri.

Dan disana, duduk didalam bus disamping pegawai tata usaha yang sedang sakit bisul itu, saya tersenyum membayangkan pekerjaan baru ayah saya dan gentar membayangkan pekerjaan saya sendiri… ini foto ayah saya yang diambil beberapa bulan yang lalu.

I still don't know what to choose

Minggu, 02 September 2012
So, I’m like nine months behind the schedule. I had never imagined that thesis can be this suck, but fortunately, I haven’t reached the “depressed” level in facing it.


I don’t regret about the wasted times because firstly, of course it has no use to cry on it, and secondly, I don’t feel like I was really wasting it. It’s only a small experience though, but I thanked God that I could come back to Pekanbaru and I could step on Bali for NUEDC in that passed time.

The second thing I did in these nine months was thinking. Thinking about what choice I exactly want. I mean, do I want to be a lecturer or employee, or become a housewife and raise children with love and have my own garden with a lot of flower, maybe i could be a florist like i want to be, or pursue my wildest dream; work as a volunteer in a NGO, helping skinny children to read, write, and count in the remote place in Kenya.

Well, the last one really is wild because I may die for starvation, or being shot by extremists, being eaten by lions, or get caught and sent to jail because my immigration document is rejected.


After all, all those choices have their own value. Being a lecturer and employee promises a steady life but it will fill me with hectic daily routine that I won’t even realize how much I have aged. Being a housewife promises a fun lovely life but it against the society value this day. “Women shouldn’t stay at home and rely on their husbands. They should work and earn money at least for themselves to anticipate bad things that can happen anytime.” My grandma said that. Last one; working in a NGO or government body to help people all around the world. This one is challenging, gives so much lesson about life, and noble. I wish I could choose this one. Maybe not Kenya. It’s too far. Borneo would me enough, helping orang utan to survive from illegal logging, or teach poor indigenous children in elementary school near the jungle, stuff like that.


Moreover, those choices essentially concern about philosophical value; brave vs. coward, challenge vs. comfort, sacrifice vs. ignorance, and real happiness vs. earthly achievements. With all I got now, I can be anything I desire. But the most importantly, I have to be careful with my desire. Because when my time is over, I don’t want to remember myself as a na├»ve, opportunist, or hypocrite.