Another debate record

Minggu, 20 Mei 2012
Buat saya, NUEDC masih menggemakan rayuan yang tidak sanggup saya tolak. Dan untungnya, saya masih diberi kesempatan untuk merasakan sensasinya yang benar-benar berbakat dalam mengobok-obok emosi. Jadilah, saya ke Pekanbaru minggu lalu, untuk kembali mengikuti seleksi NUEDC regional X.

Tahun lalu ketika saya masih bodoh dan debatnya masih amatiran, saya belum punya determinasi yang jelas. Tujuan saya Cuma bisa masuk delapan besar jadi bisa “jalan-jalan” ke Semarang. Aiish! Malu sekali saya kalau mengingat bagaimana ide saya tentang NUEDC tahun lalu itu; sekedar plesiran menghabiskan dana kampus. (maafkan saya, Unand.)

Setelah setahun belajar, saya tidak sebodoh dan tidak seamatiran tahun lalu. Memang, masih banyak sekali yang harus saya pelajari agar pantas disebut sebagai debater handal, tapi sekarang saya sudah lebih baik, begitu yang dibilang buk Dhani dan pak Herman. Yang paling penting, ide saya tentang NUEDC sudah berubah seutuhnya. ini bukan plesiran, Ini adalah ajang pertaruhan nama, harga diri, dan gengsi.

Saya ingat bagaimana tahun lalu kami dipandang sebelah mata, bahkan oleh debater dari kopertis X, uuuuhhh, menyakitkan sekali! Tapi semuanya terbayar tahun ini.

Jadi begini ceritanya: Saya dan Veby sebagai debater, Nana sebagai adju N1, Bang Rian sebagai Invited Adju, buk Dhani dan Kak Lia sebagai pendamping, dan Pak Dodi sebagai sopir (kenapa jadinya malah mirip credit di akhir sebuah film?) berangkat ke Pekanbaru pada minggu malam tanggal 13 Mei. perjalanannya biasa saja, sama seperti yang saya alami tahun lalu. Tapi paling tidak kali ini mobil kami lebih lega karena tidak ada keluarga yang nebeng untuk jalan-jalan (jangan Tanya saya itu keluarga siapa).

Kami sampai di Pekanbaru subuh tanggal 14 dan langsung check in di Hotel Bumi Asih. Beberapa jam disana, kami kemudian check out karena jaraknya terlalu jauh dari Hotel Pangeran tempat NUEDC berlangsung. Kami kemudian pindah ke Hotel Akasia, hotel yang sama tempat kami menginap tahun lalu.

Day 1 Siang hari ba’da zuhur, kami sampai di Pangeran. Saya mengenali beberapa orang dari acara tahun lalu. Ada debater Unri, debater UNP yang saya kenal karena ketemu di beberapa kompetisi tingkat Sumbar, debater STKIP PGRI yang saya kenal karena dia selalu ikut training yang diadakan AEDS, dan satu orang yang saya ingat betul karena ada cerita menarik antara dia dan Syaban dari pertemuan NUEDC tahun lalu, seorang nona manis yang atraktif. Saya histeris senang ketika melihatnya dan langsung sms Syaban:” aaaaahhh, she’s here! She’s here!” entah kenapa saya jadi sangat excited :D

Agenda hari pertama itu adalah seminar on debating, seminar on adjudicating, trus ada exhibition. Pak Yuli Herman meminta saya untuk ikut exhibition yang ternyata biasa-iasa saja. Ketika masuk waktu magrib, acara sudah selesai dan kami kembali ke hotel. Malamnya kami duduk-duduk di Enhaii untuk sekedar minum teh tarik dan ngobrol-ngobrol.


Day 2

Kami sudah sampai di Bertuah Hall Hotel Pangeran jam 7:50 pagi, dan prelim 1 dimulai setengah jam kemudian. Kami dapat ruang 7 dan motionnya masih “wajar”: This House Believe That Public Primary and secondary school are only for poors. Untuk prelim 1 ini kami dapat victory point 3, tapi dua prelim selanjutnya membuat emosi saya naik turun. Saya sempat down dengan penampilan saya di prelim 2 dengan motion yang seharusnya tidak terlalu tricky: This House, for the sake of national security, would ban media coverage on police brutality. Kami Cuma dapat VP 1 disini. Entah kenapa saya jadi sangat pesimis.

Tapi semuanya membaik dan saya lebih rileks di prelim 3. Berhadapan dengan debater Universitas Jambi yang agresif tidak membuat saya takluk walaupun saya tidak mengerti motionnya: “This House Believe that commission for corruption eradication must be a permanent board”. Veby bilang: “lho, bukannya KPK itu memang sudah jadi badan permanen?” saya sih ga ngerti, dan ga ada waktu juga buat mengerti. Jadilah kami agak parah ngarang argumennya. Dan begitulah, hari kedua berakhir dengan baik. Bertambah baik ketika malamnya kami nonton ke bioskop XXI di Mall Ciputra, filmnya The Avengers 3D. waaaahh! Keren sekali! :D

Day 3

Okay, this is it! Walaupun sudah senang-senang nonton bioskop, tapi semalaman setelah itu saya nervous lagi. Bukan nervous yang berbahaya, saya Cuma grogi menyikapi apa yang akan terjadi esok harinya. Ternyata sia-sia saja saya nervous, karena hari ketiga ini berlangsung dengan baik.

Motion untuk quarter final adalah This House Believes that it is the time for the government to ban youtube. Setelah belajar memetakan kekuatan tim, saya dan Veby setuju bahwa untuk setiap pertandingan selanjutnya, saya harus jadi first speaker kalau kami di opening dan jadi whip kalau kami di closing. Kami dapat posisi closing opposition dan saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik sebagai opposition whip. Aaaahh! Senangnyaaaa.

Dan seperti yang sudah saya ramalkan, kami melaju dengan mulus ke semi final. Mengejutkan juga mendengar debater UNP tidak proceed ke semi final yang itu artinya mereka juga tidak akan ikut ke Nasional. Nana, breaking adju kami, juga membisikkan sesuatu yang bikin saya makin kaget, bahwa tim Unri juga tidak dapat tiket ke nasional.

Baiklah, mungkin ada yang bertanya-tanya sepertinya saya mengistimewakan sekali dua universitas ini. Memang! Saya menganggap mereka lawan tangguh dan menantikan sebuah “pertarungan kolosal yang berdarah-darah” dengan mereka (kalau anda pecinta Andrea Hirata pasti tau bagaimana mengartikan kalimat ini). Tapi kalau begini ceritanya, saya mesti beralih ke lawan berat lainnya; kakak-kakak manis dari Politeknik Batam yang ternyata juga punya jurus-jurus mematikan.

Selanjutnya, semi final. Motionnya adalah This House would allow Civil servant to do Polygamy. Saya berperan sebagai Prime Minister, dan kami berhadapan lagi dengan kakak-kakak politeknik Batam itu. saya semakin sadar bagaimana kekuatan mereka. Whoa! A complete package! Cantik, tinggi, pintar pula! kami berhasil masuk ke grand final, tentu saja bersama dengan debater Batam itu. dari room lain yang juga masuk ke grand final adalah tim Unja yang agresif dan tim Universitas Internasional Batam yang, aduhh, cute dan lucu sekali kayak chibi maruko chan.

Grand final yang saya harapkan akan berlangsung garang, ternyata hanya terlihat seperti sekumpulan orang beralmamater warna warni yang kehabisan energi. Motionnya “This House believes that teachers have rights to go on strikes”. Saya agak berhati-hati memberikan POI karena POI saya memang masih kurang “nyetrum”. Debate berlangsung lamban dan agak membosankan buat saya. Saya juga masih merasa ada point yang sebenarnya terpikirkan (beneran terpikirkan lho, bukan Cuma ngaku-ngaku) tapi tidak ter-highlight. Saya berharap kualitas yang lebih baik untuk grand final itu sebenarnya, baik itu kualitas saya sendiri maupun kualitas debat secara keseluruhan. Saya merasa agak malu sebenarnya menyajikan penampilan seperti itu ke pak Rahmat Nurcahyo, ke Bang Rian, ke Buk Dhani. Tapi toh semua sudah berlalu.

Yang jelas saya punya pelajaran baru yang saya ambil dari keseluruhan NUEDC, bahwa saya perlu jadi orang yang “tegaan” dalam membuat argument, jangan bersikap abu-abu.

Ada banyak hal yang membuat saya bahagia dan terharu. Yang pertama adalah Buk Dhani. Masih seperti tahun lalu, buk dhani tulus menemani kami, merencanakan banyak hal untuk kami, walaupun terkadang masih dikhianati sistem birokrasi, tapi beliau tak surut. Setelah itu Nana, dia menunjukkan kualitas seorang adju sejak awal, kemudian belajar dan bisa membuktikan diri. Saya pernah juga mencoba jadi adju beberapa kali dan saya sadar kalau saya adju yang payah. I wasn’t born to be an adjudicator. Kemudian bang Rian. Saya ingat tahun lalu buk Dhani bilang ke dia “ibuk mau suatu saat kamu mesti berdiri di depan sana seperti pak Rahmat Nurcahyo..” dan tahun ini dia benar-benar berdiri, bisa dibilang sejajar, sama pak Rahmat. Saya terharu juga sama penilaian pak Yuli Herman dan buk Dhani yang bilang saya banyak peningkatan. Terharu juga sama kerja tim saya sama veby. Walaupun kami masih sering main ledek-ledekan, tapi dia bisa menutupi kekurangan saya. Melihat ini semua, saya merasa dilemparkan kedalam cerita manga Jepang yang tokoh-tokoh di dalamnya berjuang keras untuk mendapatkan apa yang mereka mau, seperti cerita Naruto atau Kapten Tsubasa.


Dan setelah termenung berjam-jam di dalam mobil, di perjalanan pulang dari Pekanbaru, saya kembali pada kesimpulan manis yang sering saya ucapkan berulang-ulang; “debate gives me a wonderful triumphs and shameful failures, but it never let me down”
Dan disanalah, NUEDC regional X berakhir dengan baik. Kami juara 2 (saya sebenarnya kecewa), punya breaking adju muda yang brilian, punya invited adju sekaligus coach yang bisa diandalkan dalam menggembleng kami, pendamping yang sabar, dan untuk saya sendiri, punya determinasi yang jelas. Kami harus jadi juara untuk nasional dan dikirim ke Internasional. Sampai perjuangan selanjutnya di Bali, saya akan berlatih keras!