untitled

Senin, 16 Januari 2012
Hasil ngobrol ngalor ngidul di kos bang day, di suatu sore yang cerah:

Kamu tau bagaimana cinta datang?

dia bisa diam-diam menyelinap seperti tumbuhan merambat di dalam rumah kaca. Tanpa kita sadar, dia membesar dan cabang-cabangnya menjalar semakin rumit, mengurat akar dan menancap dimana-mana, di kebiasaanmu, diotakmu, dikeseharianmu. kamu baru sadar ketika dia sudah mengkorupsi semua rongga hatimu dan apabila dia tiba-tiba tercabut, hatimu langsung kosong, hampa..

cinta juga bisa datang seperti tornado besar. Dia menghantam dengan sangat hebat hingga membuat kau terjungkal. Kalau pun misalnya kau tak siap, dia tak peduli, dia langsung membekapmu dengan perasaan yang indah. Hari-harimu berubah seratus delapan puluh derajat, upside down. Kau tiba-tiba menjadi orang suci yang selalu tersenyum dan menyebar bahagia.

Entah bagaimana, tapi cinta selalu menemukan caranya. Dia tak punya buku manual yang menjelaskan langkah demi langkah yang harus kau lakukan, tapi kau akan tau. mungkin kadang-kadang kau akan salah melangkah, tapi untungnya, cinta bukan sebuah sistem yang tidak mentolerir kesalahan. Cinta tak punya undo button, dia tidak bisa di-control+Z. tapi dia selalu memaafkan.

Cinta itu indah dan naïf, menyiksa tapi juga menentramkan, menghangatkan dengan sikapnya yang dingin, dirindukan karena sifatnya yang memuakkan. Cinta bukan keindahan semata, dia adalah perpaduan proporsional dari sedih dan bahagia. Terkadang dia berkhianat, terkadang dia berkorban. Tapi pada akhirnya, tetap hanya ada satu hati tempat cinta sejati pulang.


:D

The Boy in the Striped Pyjamas

Jumat, 13 Januari 2012
Saya menemukan buku ini di tempat obral buku murah Gramedia. Cuma tinggal satu dan bungkus plastiknya sudah robek. Tidak terlihat menarik. Saya memutuskan membeli karena buku ini sudah difilmkan. Menurut saya filmnya bagus dan dari pengalaman yang sudah-sudah, membaca bukunya selalu lebih menarik dibanding menonton filmnya (tapi untuk kasus satu ini, filmnya lebih bagus daripada bukunya)

warna piyamanya mirip cover bukunya

 The Boy in the Striped Pyjamas bercerita tentang persahabatan Bruno, seorang bocah laki-laki putra Komandan tentara Nazi, dengan Shmuel, seorang anak Yahudi kecil. Cerita berawal dari Bruno yang harus pindah dari Berlin ke Auschwitz, di selatan Polandia bersama orang tua dan kakak perempuannya, karena ayahnya dipindahtugaskan kesana. ti tempat tinggalnya yang baru, Bruno tidak memiliki teman karena Auschwitz adalah hanyalah sebuah kota kecil. sampai akhirnya, ketika dia menjelajah wilayah terpencil itu sendirian, dia menemukan Shmuel. Daerah itu dibatasi oleh pagar duri yang tinggi dan panjang, dan masing-masing mereka berada di sisi yang berbeda, di bentuk kehidupan yang saling bertolak belakang. Bruno yang lugu itu tidak tau kalau Shmuel adalah Yahudi yang dimusuhi oleh negaranya, bangsanya, ayahnya! Yang jelas dia senang bisa mengunjungi Shmuel tiap siang dan mengobrol, walaupun harus dibatasi pagar kawat. Shmuel juga terlalu polos untuk memahami kalau dia dan keluarganya yang dikurung dalam pagar itu disebut sebagai “bukan manusia” oleh orang Nazi, oleh ayah sahabatnya. Shmuel tidak tau kenapa dia disuruh meninggalkan rumahnya untuk kemudian dikurung di tempat itu, bersama ayahnya, kakeknya, dan jutaan Yahudi lainnya.

Auschwitz sendiri adalah situs kamp konsentrasi Nazi terbesar, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dibunuh antara 1941 sampai 1945. Saya pernah menonton Oprah Show yang sedang membahas peristiwa Holocaust dan deskripsi tentang peristiwa itu benar-benar seperti neraka.

Jadi orang-orang etnis Yahudi yang akan dipunahkan oleh Nazi Jerman itu dibawa pakai kereta, jangan bayangkan kereta kelas ekonomi dengan orang-orang yang berjejal dan bau keringat campur aduk, gerbong kereta yang ini lebih mirip neraka kaleng sarden berjalan yang benar-benar padat isinya. Semuanya sesak dalam gerbong yang menyedihkan, pria, wanita, bahkan anak-anak polos tak berdosa. begitu sampai di kamp konsentrasi, sebagian mereka dibiarkan terus hidup untuk jadi pekerja kasar, dan sebagian lagi langsung dibunuh. Mereka dibunuh dengan cara yang kejam, sekali eksekusi bisa langsung ribuan orang. Mereka disuruh masuk ke sebuah ruangan besar, alasannya disuruh mandi. Tapi mereka tidak tau kalau itu sama sekali bukan kamar mandi, tapi crematorium tempat mereka akan dibunuh dengan gas beracun. Setelah jadi mayat, mereka akan di bakar di oven raksasa yang bau asapnya busuk luar biasa.

Bagian konflik dari buku ini terjadi ketika Bruno berniat membantu Shmuel mencari ayahnya yang sudah beberapa hari hilang. Bruno lalu menyamar jadi salah satu anak Yahudi dengan memakai seragam tahanan yang diberikan Smuel lewat pagar kawat, baju garis-garis yang mirip piyama, the striped pyjamas. Bruno kemudian menggali lubang dibawah pagar kawat untuk bisa masuk kedalam camp. Namun ternyata hari itu adalah hari dimana sebagian dari orang Yahudi disana akan dieksekusi. Bruno dan Shmuel akhirnya malah ikut masuk ke crematorium dan meninggal bersama orang-orang Yahudi lainnya. Ayah Bruno menemukan pakaian anaknya diluar pagar kawat dan akhirnya menyadari bahwa anaknya sudah ikut terbunuh dengan orang-orang yang ingin dia musnahkan.

Saya suka buku ini, tapi ternyata plot di filmnya sedikit berbeda dan mengalami improvisasi yang lebih baik. Pelajarannya adalah, bahwa kebaikan atau kejahatan itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang seseorang. Kita bisa menemukan orang baik dari komunitas yang selama ini kita pikir jahat, dan kita juga bisa menemukan orang jahat dalam komunitas yang selama ini kita pikir baik. yang salah adalah bagaimana kita menutup diri dan menjadi skeptis terhadap orang lain dan melewatkan kesempatan untuk menambah teman.