picture of lifetime

Sabtu, 22 Desember 2012
it's a slow day. nothing to do. i was spending my time by watching movies with Ija, taking a nap and wash some dishes. when i almost drown in boredom, i decided to post some picture in my blog, my favorite picture of lifetime. some of them are not well-taken but the most important thing for me is the story they have. So, here it goes :)




this is the picture from my parents wedding. it was a hard time. two college students from poor family, have nothing but love, decided to unite themselves in the way Allah would approve. i think my parents were brave and they've proven that they made the right decision, until now.

well, i was not expecting to see any picture from their wedding since all of them were burnt in the fire in 1994. we lost our home, chickens and turkeys, my parents' diploma and a lot of other things. but when my cousin (my dad's nephew) from Bengkulu visited us, he brought this picture and gave it to me. i scanned it and now, the history is preserved :D


this is Pitok, my only brother. i didn't always get along with him. sometimes we fought so bad that i feel like i want to lock him in the attic forever :p (yes, i was a cruel sister). but the more we grow up the more we love each other. i told him about my problem and told me about his. we became friends and spent time together. i like this picture because he looks good in it. well, i will never compliment him directly like this. he's narcissistic and it's annoying.



this is the picture of me and my best friend in high school, Bibib and Chaky. aaah~ those beautiful moment. we look so young and happy, right? that's why i love this picture. i was still innocent and mindless, nothing to worry, and i saw my future as something bright and promising. compare with this picture:


the object is still the same (plus jejen, my other high school best friend). i don't know about chaky and bibib, but in this picture i've change a lot. i was still smiling but, yeah, something missing. i don't know, i'm still searching for it. but i love this picture because after years, we're still friends, no matter how much we've changed.


this is the picture of me, baday, mbakyu and helni. i don't know what's so special about this picture. i just want to upload it. but yeah, these people are also my best friends.
and the last one is:


well, this is about debate. my wonderland.the place where i can always feel happy no matter what happen. i don't care if i win or lose, the only thing i care is: i debate.

so, that's it.thank you for reading :)

untitled

Minggu, 16 Desember 2012
sudah sebelas hari sejak Kanza pergi. tapi sesak di dada belum surut setiap kali melihat fotonya. ingatan tentang dia yang tersedak-sedak dijejali selang napas juga masih terang. walau wajah tak lagi melihatkan raut sendu, tapi hati masih saja merasa menyesal dan aku masih berharap ini hanya mimpi saat tertidur di sore hari. mimpi saat sore seringkali terasa sangat nyata, tapi tetap saja itu hanya mimpi. seburuk apapun, pada akhirnya kita akan terbangun dan bisa merasa lega karena hal yang kita rasakan tidak benar-benar terjadi. tapi tidak, ini bukan mimpi sore, mimpi tidak berlangsung sampai sebelas hari.


tidak ada gunanya menangisi mereka yang pergi. apalagi yang pergi itu adalah bayi kecil berusia 4 bulan yang masih bersih. dia akan disambut dengan baik disana. ketika aku merasa sesak, menyesal, atau berharap sebenarnya aku hanya takut pada keadaanku sendiri. ketika aku menangis, mungkin aku hanya menangisi kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Kanza. yang menjadi masalah bukan apakah Kanza masih bersama kami atau sudah bersama-Nya, tapi bagaimana kehadiran Kanza yang singkat diantara kami bisa membuat hidup kami lebih baik.


bagaimanapun juga, hidup akan tetap berlanjut.

Another note about Sirius

Selasa, 06 November 2012
sepertinya bintang Sirius memang mulai kehabisan energinya :) tapi tidak masalah, karena dia tetap jadi bintang yang cantik di langit malam. bahkan ketika nanti dia menjadi bintang katai putih pun, saya akan tetap mengenangnya dengan perasaan syahdu yang dalam. mengingat sirius membuat saya merasa seolah saya sedang menanti matahari terbit dari balik Gunung Marapi, seperti menatap tetes-tetes air hujan yang turun di dinding tanah berlumut di belakang rumah, seperti suara wind chime bambu yang menyejukkan ketika matahari terik, seperti lagu lama westlife yang sering diputar di labor bahasa ketika saya SMP dulu, semua membuat saya merasa damai... walaupun sirius sudah memudar, saya bahagia dia hadir dalam hidup saya. saya belajar banyak dari pendarnya... untuk sekarang saya hanya akan mengikuti bagaimana konstelasi semesta bekerja, tapi nanti, siapa tau Sirius akan mendapatkan benderangnya kembali... :D

Bintang Sirius

Rabu, 19 September 2012
Tempo hari saya telponan sama Handa, membahas hal-hal random yang terjadi sehari-hari. Saya sedang bercerita tentang seekor burung tak tau adat yang buang hajat di kepala saya ketika tiba-tiba, entah kenapa, dia memotong omongan saya dan bilang “
jadilah kaya’ Bintang Sirius, ga pernah padam walaupun energinya terus terpakai. Dia yang paling terang, paling kuat, sinarnya paling cerah sampai bisa menembus kabut
.”

saya diam beberapa saat, mencerna kalimatnya dan mencoba mengerti apa hubungannya dengan cerita saya tentang burung tak tau adat itu. dan, setelah beberapa detik, feedback paling cerdas yang terpikirkan Cuma “yah, bahan bakarnya buat terus bersinar terang pasti banyak kan?” saya melupakan sisi filosofis dari apa yang dia sampaikan. Dan dia hanya menjawab pertanyaan bebal saya dengan “iya…” lalu diam, dan saya lanjut berceloteh tentang burung yang buang hajat di kepala saya tadi.


Setelah telepon ditutup, saya berpikir tentang bintang Sirius tadi. Saya googling dan mengerti bahwa Sirius adalah bintang paling terang di langit malam. Bahwa energi hydrogen di intinya cukup untuk membuatnya menyala untuk satu milyar tahun lagi, bahwa dia salah satu bintang di rasi Canis Majoris, bahwa ada bintang katai putih kecil yang jadi pasangannya, yang disebut sebagai Sirius B. semacam itulah.


Saya ingat, setelah saya baca artikel Wikipedia itu, saya berpikir bahwa Handa salah. Saya tidak bisa menjadi seperti Sirius. Saya merasa terlalu kerdil dan picik untuk menjadi bintang paling terang. Rasanya saya tidak pernah benar-benar percaya pada kekuatan saya sendiri. Daripada Bintang Sirius, saya lebih mirip Sirius B, bintang katai putih yang redup dan kecil. Saking kecilnya, sampai-sampai seekor burung tak tahu adat berani buang hajat dikepalanya… Saya menyalahkan diri saya karena menjadi katai putih, karena merasa kerdil. Lalu diri saya yang merasa kerdil itu menyalahkan diri saya karena tidak bisa berbuat lebih dari sekedar mengeluh. Lalu saya membela diri saya sendiri bahwa menjadi katai putih tidak berarti gagal, kemudian diri saya merasa kerdil memotong, bahwa saya hanya mencari pelarian dari kegagalan-kegagalan saya sendiri. Saya mendengar berbagai macam suara dari dalam diri saya sendiri, dan suara-suara itu seolah memiliki jiwanya masing-masing, sebagian membenarkan dan sebagian lagi menyalahkan saya. Saya terjebak di tengah-tengah.



Saya menghabiskan lima belas menit duduk dikamar mandi, menggosok lengan dengan lulur sambil memikirkan Sirius dan katai putih pendampingnya yang setia, dan juga burung tukang buang hajat sembarangan tadi. Malamnya saya berbaring dengan mata nyalang, masih memikirkan hal yang sama. kelelahan, saya akhirnya memutuskan kalau sebenarnya saya memang MEMILIH menjadi katai putih. Bukan saya tidak suka Sirius. Sirius tetap cantik dan akan tetap menjadi bintang favorit saya, karena Handa yang mengenalkan saya padanya. Tapi saya lebih suka menjadi diri saya sendiri, tanpa mengejar semua cahaya benderang benderang itu. Saya memang tidak nyaman dengan yang silau-silau.


Dan, burung kecil itu, ahh, dia tidak melakukannya dengan sengaja. Sudah saya maafkan…

My Dad

Senin, 10 September 2012
Jadi, hari itu saya berangkat ke kampus. Duduk di bangku depan, disebelah ibu-ibu yang dari pakaiannya dan tempatnya turun bus bisa saya tebak kalau dia adalah pegawai tata usaha di fakultas ekonomi. Sikapnya terlihat tidak nyaman, lalu dengan malu-malu dia memberitahu saya bahwa dia sedang sakit bisul. Saya hanya menanggapi dengan senyum prihatin dan “ooooooo..” ala kadarnya, sebenarnya tidak tertarik dengan masalah kesehatannya. Namun ketika dia terus mengeluh bahwa dia kesulitan untuk duduk, saya berkomentar tentang kemungkinan dia terlalu banyak makan telur dan bahwa ada obat bersih darah yang ampuh melawan penyakit kulit. Dia bertanya saya fakultas apa dan angkatan berapa. Saya hanya menjawab apa yang ditanyakannya dan kami diam lagi.

Lalu dalam diam itulah saya mulai berpikir; hidup saya sudah berkutat dengan bus ini sepanjang 4 tahun belakangan, tapi baru sekarang saya duduk disebelah seorang pegawai tata usaha bersikap ramah kepada saya. Sebelumnya, saya selalu menghindari urusan dengan orang-orang dengan profesi itu. bagi saya, mereka sering terlihat sok penting, sok sibuk, dan selalu menggerutu setiap kita ingin bertanya atau meminta tolong. setiap kali saya keluar dari ruang tata usaha -sejak SMA dulu- , saya selalu berdoa “ ya Tuhan, jadikanlah aku apapun, tapi aku mohon jangan jadikan aku pegawai tata usaha di instansi manapun.” Dan, sepertinya doa itu berbalik menyerang saya. Bukan pada diri saya sendiri, tapi pada ayah saya.

Setelah sekian tahun menjadi guru honorer, beliau akhirnya diangkat juga jadi pegawai negeri. Namun beliau adalah lulusan fakultas dakwah, sehingga dengan segala kerumitan peraturan administrasi dan birokrasi beliau tidak bisa lagi menjadi guru. Yang bisa diangkat jadi guru adalah mereka dari fakultas tarbiyah atau mereka yag sudah mengambil akta empat. Unit kerja ayah saya dipindahkan di tata usaha. Benar, ayah saya menjadi pegawai tata usaha. Astaghfirullah.

Tapi untunglah, setelah lebaran ini ayah saya tidak akan bekerja di MTsN lagi. Beliau InsyaAllah akan dimutasi ke kantor KUA, menjadi penghulu. Saya lega, dengan begitu saya tidak harus membenci profesi ayah saya sendiri.

Dan disana, duduk didalam bus disamping pegawai tata usaha yang sedang sakit bisul itu, saya tersenyum membayangkan pekerjaan baru ayah saya dan gentar membayangkan pekerjaan saya sendiri… ini foto ayah saya yang diambil beberapa bulan yang lalu.

I still don't know what to choose

Minggu, 02 September 2012
So, I’m like nine months behind the schedule. I had never imagined that thesis can be this suck, but fortunately, I haven’t reached the “depressed” level in facing it.


I don’t regret about the wasted times because firstly, of course it has no use to cry on it, and secondly, I don’t feel like I was really wasting it. It’s only a small experience though, but I thanked God that I could come back to Pekanbaru and I could step on Bali for NUEDC in that passed time.

The second thing I did in these nine months was thinking. Thinking about what choice I exactly want. I mean, do I want to be a lecturer or employee, or become a housewife and raise children with love and have my own garden with a lot of flower, maybe i could be a florist like i want to be, or pursue my wildest dream; work as a volunteer in a NGO, helping skinny children to read, write, and count in the remote place in Kenya.

Well, the last one really is wild because I may die for starvation, or being shot by extremists, being eaten by lions, or get caught and sent to jail because my immigration document is rejected.


After all, all those choices have their own value. Being a lecturer and employee promises a steady life but it will fill me with hectic daily routine that I won’t even realize how much I have aged. Being a housewife promises a fun lovely life but it against the society value this day. “Women shouldn’t stay at home and rely on their husbands. They should work and earn money at least for themselves to anticipate bad things that can happen anytime.” My grandma said that. Last one; working in a NGO or government body to help people all around the world. This one is challenging, gives so much lesson about life, and noble. I wish I could choose this one. Maybe not Kenya. It’s too far. Borneo would me enough, helping orang utan to survive from illegal logging, or teach poor indigenous children in elementary school near the jungle, stuff like that.


Moreover, those choices essentially concern about philosophical value; brave vs. coward, challenge vs. comfort, sacrifice vs. ignorance, and real happiness vs. earthly achievements. With all I got now, I can be anything I desire. But the most importantly, I have to be careful with my desire. Because when my time is over, I don’t want to remember myself as a naïve, opportunist, or hypocrite.

Another debate record

Minggu, 20 Mei 2012
Buat saya, NUEDC masih menggemakan rayuan yang tidak sanggup saya tolak. Dan untungnya, saya masih diberi kesempatan untuk merasakan sensasinya yang benar-benar berbakat dalam mengobok-obok emosi. Jadilah, saya ke Pekanbaru minggu lalu, untuk kembali mengikuti seleksi NUEDC regional X.

Tahun lalu ketika saya masih bodoh dan debatnya masih amatiran, saya belum punya determinasi yang jelas. Tujuan saya Cuma bisa masuk delapan besar jadi bisa “jalan-jalan” ke Semarang. Aiish! Malu sekali saya kalau mengingat bagaimana ide saya tentang NUEDC tahun lalu itu; sekedar plesiran menghabiskan dana kampus. (maafkan saya, Unand.)

Setelah setahun belajar, saya tidak sebodoh dan tidak seamatiran tahun lalu. Memang, masih banyak sekali yang harus saya pelajari agar pantas disebut sebagai debater handal, tapi sekarang saya sudah lebih baik, begitu yang dibilang buk Dhani dan pak Herman. Yang paling penting, ide saya tentang NUEDC sudah berubah seutuhnya. ini bukan plesiran, Ini adalah ajang pertaruhan nama, harga diri, dan gengsi.

Saya ingat bagaimana tahun lalu kami dipandang sebelah mata, bahkan oleh debater dari kopertis X, uuuuhhh, menyakitkan sekali! Tapi semuanya terbayar tahun ini.

Jadi begini ceritanya: Saya dan Veby sebagai debater, Nana sebagai adju N1, Bang Rian sebagai Invited Adju, buk Dhani dan Kak Lia sebagai pendamping, dan Pak Dodi sebagai sopir (kenapa jadinya malah mirip credit di akhir sebuah film?) berangkat ke Pekanbaru pada minggu malam tanggal 13 Mei. perjalanannya biasa saja, sama seperti yang saya alami tahun lalu. Tapi paling tidak kali ini mobil kami lebih lega karena tidak ada keluarga yang nebeng untuk jalan-jalan (jangan Tanya saya itu keluarga siapa).

Kami sampai di Pekanbaru subuh tanggal 14 dan langsung check in di Hotel Bumi Asih. Beberapa jam disana, kami kemudian check out karena jaraknya terlalu jauh dari Hotel Pangeran tempat NUEDC berlangsung. Kami kemudian pindah ke Hotel Akasia, hotel yang sama tempat kami menginap tahun lalu.

Day 1 Siang hari ba’da zuhur, kami sampai di Pangeran. Saya mengenali beberapa orang dari acara tahun lalu. Ada debater Unri, debater UNP yang saya kenal karena ketemu di beberapa kompetisi tingkat Sumbar, debater STKIP PGRI yang saya kenal karena dia selalu ikut training yang diadakan AEDS, dan satu orang yang saya ingat betul karena ada cerita menarik antara dia dan Syaban dari pertemuan NUEDC tahun lalu, seorang nona manis yang atraktif. Saya histeris senang ketika melihatnya dan langsung sms Syaban:” aaaaahhh, she’s here! She’s here!” entah kenapa saya jadi sangat excited :D

Agenda hari pertama itu adalah seminar on debating, seminar on adjudicating, trus ada exhibition. Pak Yuli Herman meminta saya untuk ikut exhibition yang ternyata biasa-iasa saja. Ketika masuk waktu magrib, acara sudah selesai dan kami kembali ke hotel. Malamnya kami duduk-duduk di Enhaii untuk sekedar minum teh tarik dan ngobrol-ngobrol.


Day 2

Kami sudah sampai di Bertuah Hall Hotel Pangeran jam 7:50 pagi, dan prelim 1 dimulai setengah jam kemudian. Kami dapat ruang 7 dan motionnya masih “wajar”: This House Believe That Public Primary and secondary school are only for poors. Untuk prelim 1 ini kami dapat victory point 3, tapi dua prelim selanjutnya membuat emosi saya naik turun. Saya sempat down dengan penampilan saya di prelim 2 dengan motion yang seharusnya tidak terlalu tricky: This House, for the sake of national security, would ban media coverage on police brutality. Kami Cuma dapat VP 1 disini. Entah kenapa saya jadi sangat pesimis.

Tapi semuanya membaik dan saya lebih rileks di prelim 3. Berhadapan dengan debater Universitas Jambi yang agresif tidak membuat saya takluk walaupun saya tidak mengerti motionnya: “This House Believe that commission for corruption eradication must be a permanent board”. Veby bilang: “lho, bukannya KPK itu memang sudah jadi badan permanen?” saya sih ga ngerti, dan ga ada waktu juga buat mengerti. Jadilah kami agak parah ngarang argumennya. Dan begitulah, hari kedua berakhir dengan baik. Bertambah baik ketika malamnya kami nonton ke bioskop XXI di Mall Ciputra, filmnya The Avengers 3D. waaaahh! Keren sekali! :D

Day 3

Okay, this is it! Walaupun sudah senang-senang nonton bioskop, tapi semalaman setelah itu saya nervous lagi. Bukan nervous yang berbahaya, saya Cuma grogi menyikapi apa yang akan terjadi esok harinya. Ternyata sia-sia saja saya nervous, karena hari ketiga ini berlangsung dengan baik.

Motion untuk quarter final adalah This House Believes that it is the time for the government to ban youtube. Setelah belajar memetakan kekuatan tim, saya dan Veby setuju bahwa untuk setiap pertandingan selanjutnya, saya harus jadi first speaker kalau kami di opening dan jadi whip kalau kami di closing. Kami dapat posisi closing opposition dan saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik sebagai opposition whip. Aaaahh! Senangnyaaaa.

Dan seperti yang sudah saya ramalkan, kami melaju dengan mulus ke semi final. Mengejutkan juga mendengar debater UNP tidak proceed ke semi final yang itu artinya mereka juga tidak akan ikut ke Nasional. Nana, breaking adju kami, juga membisikkan sesuatu yang bikin saya makin kaget, bahwa tim Unri juga tidak dapat tiket ke nasional.

Baiklah, mungkin ada yang bertanya-tanya sepertinya saya mengistimewakan sekali dua universitas ini. Memang! Saya menganggap mereka lawan tangguh dan menantikan sebuah “pertarungan kolosal yang berdarah-darah” dengan mereka (kalau anda pecinta Andrea Hirata pasti tau bagaimana mengartikan kalimat ini). Tapi kalau begini ceritanya, saya mesti beralih ke lawan berat lainnya; kakak-kakak manis dari Politeknik Batam yang ternyata juga punya jurus-jurus mematikan.

Selanjutnya, semi final. Motionnya adalah This House would allow Civil servant to do Polygamy. Saya berperan sebagai Prime Minister, dan kami berhadapan lagi dengan kakak-kakak politeknik Batam itu. saya semakin sadar bagaimana kekuatan mereka. Whoa! A complete package! Cantik, tinggi, pintar pula! kami berhasil masuk ke grand final, tentu saja bersama dengan debater Batam itu. dari room lain yang juga masuk ke grand final adalah tim Unja yang agresif dan tim Universitas Internasional Batam yang, aduhh, cute dan lucu sekali kayak chibi maruko chan.

Grand final yang saya harapkan akan berlangsung garang, ternyata hanya terlihat seperti sekumpulan orang beralmamater warna warni yang kehabisan energi. Motionnya “This House believes that teachers have rights to go on strikes”. Saya agak berhati-hati memberikan POI karena POI saya memang masih kurang “nyetrum”. Debate berlangsung lamban dan agak membosankan buat saya. Saya juga masih merasa ada point yang sebenarnya terpikirkan (beneran terpikirkan lho, bukan Cuma ngaku-ngaku) tapi tidak ter-highlight. Saya berharap kualitas yang lebih baik untuk grand final itu sebenarnya, baik itu kualitas saya sendiri maupun kualitas debat secara keseluruhan. Saya merasa agak malu sebenarnya menyajikan penampilan seperti itu ke pak Rahmat Nurcahyo, ke Bang Rian, ke Buk Dhani. Tapi toh semua sudah berlalu.

Yang jelas saya punya pelajaran baru yang saya ambil dari keseluruhan NUEDC, bahwa saya perlu jadi orang yang “tegaan” dalam membuat argument, jangan bersikap abu-abu.

Ada banyak hal yang membuat saya bahagia dan terharu. Yang pertama adalah Buk Dhani. Masih seperti tahun lalu, buk dhani tulus menemani kami, merencanakan banyak hal untuk kami, walaupun terkadang masih dikhianati sistem birokrasi, tapi beliau tak surut. Setelah itu Nana, dia menunjukkan kualitas seorang adju sejak awal, kemudian belajar dan bisa membuktikan diri. Saya pernah juga mencoba jadi adju beberapa kali dan saya sadar kalau saya adju yang payah. I wasn’t born to be an adjudicator. Kemudian bang Rian. Saya ingat tahun lalu buk Dhani bilang ke dia “ibuk mau suatu saat kamu mesti berdiri di depan sana seperti pak Rahmat Nurcahyo..” dan tahun ini dia benar-benar berdiri, bisa dibilang sejajar, sama pak Rahmat. Saya terharu juga sama penilaian pak Yuli Herman dan buk Dhani yang bilang saya banyak peningkatan. Terharu juga sama kerja tim saya sama veby. Walaupun kami masih sering main ledek-ledekan, tapi dia bisa menutupi kekurangan saya. Melihat ini semua, saya merasa dilemparkan kedalam cerita manga Jepang yang tokoh-tokoh di dalamnya berjuang keras untuk mendapatkan apa yang mereka mau, seperti cerita Naruto atau Kapten Tsubasa.


Dan setelah termenung berjam-jam di dalam mobil, di perjalanan pulang dari Pekanbaru, saya kembali pada kesimpulan manis yang sering saya ucapkan berulang-ulang; “debate gives me a wonderful triumphs and shameful failures, but it never let me down”
Dan disanalah, NUEDC regional X berakhir dengan baik. Kami juara 2 (saya sebenarnya kecewa), punya breaking adju muda yang brilian, punya invited adju sekaligus coach yang bisa diandalkan dalam menggembleng kami, pendamping yang sabar, dan untuk saya sendiri, punya determinasi yang jelas. Kami harus jadi juara untuk nasional dan dikirim ke Internasional. Sampai perjuangan selanjutnya di Bali, saya akan berlatih keras!

untitled

Senin, 16 Januari 2012
Hasil ngobrol ngalor ngidul di kos bang day, di suatu sore yang cerah:

Kamu tau bagaimana cinta datang?

dia bisa diam-diam menyelinap seperti tumbuhan merambat di dalam rumah kaca. Tanpa kita sadar, dia membesar dan cabang-cabangnya menjalar semakin rumit, mengurat akar dan menancap dimana-mana, di kebiasaanmu, diotakmu, dikeseharianmu. kamu baru sadar ketika dia sudah mengkorupsi semua rongga hatimu dan apabila dia tiba-tiba tercabut, hatimu langsung kosong, hampa..

cinta juga bisa datang seperti tornado besar. Dia menghantam dengan sangat hebat hingga membuat kau terjungkal. Kalau pun misalnya kau tak siap, dia tak peduli, dia langsung membekapmu dengan perasaan yang indah. Hari-harimu berubah seratus delapan puluh derajat, upside down. Kau tiba-tiba menjadi orang suci yang selalu tersenyum dan menyebar bahagia.

Entah bagaimana, tapi cinta selalu menemukan caranya. Dia tak punya buku manual yang menjelaskan langkah demi langkah yang harus kau lakukan, tapi kau akan tau. mungkin kadang-kadang kau akan salah melangkah, tapi untungnya, cinta bukan sebuah sistem yang tidak mentolerir kesalahan. Cinta tak punya undo button, dia tidak bisa di-control+Z. tapi dia selalu memaafkan.

Cinta itu indah dan naïf, menyiksa tapi juga menentramkan, menghangatkan dengan sikapnya yang dingin, dirindukan karena sifatnya yang memuakkan. Cinta bukan keindahan semata, dia adalah perpaduan proporsional dari sedih dan bahagia. Terkadang dia berkhianat, terkadang dia berkorban. Tapi pada akhirnya, tetap hanya ada satu hati tempat cinta sejati pulang.


:D

The Boy in the Striped Pyjamas

Jumat, 13 Januari 2012
Saya menemukan buku ini di tempat obral buku murah Gramedia. Cuma tinggal satu dan bungkus plastiknya sudah robek. Tidak terlihat menarik. Saya memutuskan membeli karena buku ini sudah difilmkan. Menurut saya filmnya bagus dan dari pengalaman yang sudah-sudah, membaca bukunya selalu lebih menarik dibanding menonton filmnya (tapi untuk kasus satu ini, filmnya lebih bagus daripada bukunya)

warna piyamanya mirip cover bukunya

 The Boy in the Striped Pyjamas bercerita tentang persahabatan Bruno, seorang bocah laki-laki putra Komandan tentara Nazi, dengan Shmuel, seorang anak Yahudi kecil. Cerita berawal dari Bruno yang harus pindah dari Berlin ke Auschwitz, di selatan Polandia bersama orang tua dan kakak perempuannya, karena ayahnya dipindahtugaskan kesana. ti tempat tinggalnya yang baru, Bruno tidak memiliki teman karena Auschwitz adalah hanyalah sebuah kota kecil. sampai akhirnya, ketika dia menjelajah wilayah terpencil itu sendirian, dia menemukan Shmuel. Daerah itu dibatasi oleh pagar duri yang tinggi dan panjang, dan masing-masing mereka berada di sisi yang berbeda, di bentuk kehidupan yang saling bertolak belakang. Bruno yang lugu itu tidak tau kalau Shmuel adalah Yahudi yang dimusuhi oleh negaranya, bangsanya, ayahnya! Yang jelas dia senang bisa mengunjungi Shmuel tiap siang dan mengobrol, walaupun harus dibatasi pagar kawat. Shmuel juga terlalu polos untuk memahami kalau dia dan keluarganya yang dikurung dalam pagar itu disebut sebagai “bukan manusia” oleh orang Nazi, oleh ayah sahabatnya. Shmuel tidak tau kenapa dia disuruh meninggalkan rumahnya untuk kemudian dikurung di tempat itu, bersama ayahnya, kakeknya, dan jutaan Yahudi lainnya.

Auschwitz sendiri adalah situs kamp konsentrasi Nazi terbesar, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dibunuh antara 1941 sampai 1945. Saya pernah menonton Oprah Show yang sedang membahas peristiwa Holocaust dan deskripsi tentang peristiwa itu benar-benar seperti neraka.

Jadi orang-orang etnis Yahudi yang akan dipunahkan oleh Nazi Jerman itu dibawa pakai kereta, jangan bayangkan kereta kelas ekonomi dengan orang-orang yang berjejal dan bau keringat campur aduk, gerbong kereta yang ini lebih mirip neraka kaleng sarden berjalan yang benar-benar padat isinya. Semuanya sesak dalam gerbong yang menyedihkan, pria, wanita, bahkan anak-anak polos tak berdosa. begitu sampai di kamp konsentrasi, sebagian mereka dibiarkan terus hidup untuk jadi pekerja kasar, dan sebagian lagi langsung dibunuh. Mereka dibunuh dengan cara yang kejam, sekali eksekusi bisa langsung ribuan orang. Mereka disuruh masuk ke sebuah ruangan besar, alasannya disuruh mandi. Tapi mereka tidak tau kalau itu sama sekali bukan kamar mandi, tapi crematorium tempat mereka akan dibunuh dengan gas beracun. Setelah jadi mayat, mereka akan di bakar di oven raksasa yang bau asapnya busuk luar biasa.

Bagian konflik dari buku ini terjadi ketika Bruno berniat membantu Shmuel mencari ayahnya yang sudah beberapa hari hilang. Bruno lalu menyamar jadi salah satu anak Yahudi dengan memakai seragam tahanan yang diberikan Smuel lewat pagar kawat, baju garis-garis yang mirip piyama, the striped pyjamas. Bruno kemudian menggali lubang dibawah pagar kawat untuk bisa masuk kedalam camp. Namun ternyata hari itu adalah hari dimana sebagian dari orang Yahudi disana akan dieksekusi. Bruno dan Shmuel akhirnya malah ikut masuk ke crematorium dan meninggal bersama orang-orang Yahudi lainnya. Ayah Bruno menemukan pakaian anaknya diluar pagar kawat dan akhirnya menyadari bahwa anaknya sudah ikut terbunuh dengan orang-orang yang ingin dia musnahkan.

Saya suka buku ini, tapi ternyata plot di filmnya sedikit berbeda dan mengalami improvisasi yang lebih baik. Pelajarannya adalah, bahwa kebaikan atau kejahatan itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang seseorang. Kita bisa menemukan orang baik dari komunitas yang selama ini kita pikir jahat, dan kita juga bisa menemukan orang jahat dalam komunitas yang selama ini kita pikir baik. yang salah adalah bagaimana kita menutup diri dan menjadi skeptis terhadap orang lain dan melewatkan kesempatan untuk menambah teman.