manusia galau

Kamis, 13 Oktober 2011
Banyak orang yang beruntung karena bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik karena sebuah pengalaman kecil yang sangat berkesan, walaupun usianya masih muda. Tapi lebih banyak orang lain yang tidak beruntung, yang telah menjalani umur lebih dari separuh abad, mengalami berbagai pengalaman, mulai dari kemenangan yang gilang gemilang sampai kekalahan yang paling memalukan, telah menjejak di banyak tempat di dunia, tapi tak kunjung menemukan dirinya, tak kunjung paham akan eksistensinya sebagai ciptaan Tuhan.


Dan, saya termasuk kepada mereka yang tidak beruntung itu.
Okeh, umur saya belum separuh abad, seperempat juga belum. saya belum kemana-mana, masih bercokol di negeri saya lahir. Pengalaman saya juga belum seberapa, kemenangan saya masih sederhana dan kekalahan saya masih “tertanggungkan”, belum memalukan, belum parah-parah amat. Tapi saya sudah merasa sangat tidak beruntung, karena dengan keadaan yang menurut saya berkecukupan, saya masih belum menemukan apa-apa.

Saya blingsatan mencari diri sendiri..

Terjebak dalam ide-ide dangkal yang saya sendiri tak paham apa esensinya. Ingin menjadi ini, ingin bekerja sebagai itu, ingin meraih ini, ingin pergi kesitu, ingin bertemu si ini, ingin menjadi seperti si itu. Pencarian ini sedikit demi sedikit membuat saya menjadi seorang oportunis. Wooooaaa! I hate that word so much!


Baiklah, memangnya siapa yang tidak pernah tersesat dalam pikirannya sendiri?
Mari bicara soal Einstein, the man of the century, ilmuan paling canggih di jaman modern ini. Apakah dia seseorang yang religious? Saya tidak tau. apakah dia meneliti karena murni untuk ilmu pengetahuan atau ada tujuan lain? Saya juga tidak tau. tapi bapak tua dengan rambut nyentrik itu berhasil sampai kepada suatu kesimpulan. Kecerdasannya membuatnya paham bahwa Tuhan tidak bermain dadu dalam menciptakan semesta, dan menurut saya, itu lebih dari sekedar ilmu pengetahuan, itu adalah hasil sebuah pencarian paling dasar dalam diri manusia: siapakah kita? Dari mana kita berasal? Dan kemana kita akan pergi?


Seorang muslim yang taat tentu akan bisa menjawab dengan baik, saya adalah ciptaan Allah, saya berasal dari tanah dan kembali ke tanah, saya adalah milik-Nya dan hidup hanya untuk menyembah-Nya. Saya paham itu, Tapi saya juga tak paham! Saya mengerti kenapa, tapi kenapa?!
Nanti, apabila memang saya berhasil mencapai apa yang saya inginkan, lalu apa?

Tempo hari saya membuat rencana-rencana yang ingin saya lakukan setelah wisuda:
Plan A. mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri. Saya putuskan pilihan pertama saya adalah Jepang, kedua Australia, ketiga Amerika Serikat atau Negara Uni Eropa.

Plan B. mengejar beasiswa kuliah di dalam negeri, pilihan pertama IPB, kedua UGM.

Plan C. melanjutkan kuliah S2 di Unand sambil bekerja.
Baik, silahkan tertawa, mimpi saya memang muluk luar biasa, tak saya tak peduli. Ini yang ingin saya kejar.


Teman-teman lain juga pasti punya mimpi yang identik, tak akan jauh beda. Pernahkan berpikir, nanti setelah ini terwujud, lalu apa? Ketika mimpi kita akhirnya terpenuhi, apakah kita akan merasa bahagia?
Apakah akhirnya pencarian kita akan berakhir?
Saya pun tak paham ~~
.
.
.
.
.
Hhhhaaaaah! Sudahlah, saya harus menghapal untuk ujian UTS. Hari ini ujian Manajemen Usahatani jam tiga sore. Wish me luck! :D

0 komentar:

Posting Komentar