aktor ganteng dari masa lalu

Senin, 17 Oktober 2011
Waktu kecil, saya suka sekali nonton film. Tapi berhubung di rumah saya ga ada VCD player, saya Cuma bisa nonton film di tv. Kita tau sendiri nonton film di tv itu gimana, udah iklannya lama, adegannya banyak dipotong, dan yang paling jelas, kita ga mungkin bisa request mau nonton film apa, ga bisa di-rewind, ga bisa diulang adegan bagusnya, ga bisa di skip adegan jeleknya, paling penting dari yang penting, ga bisa di pause pas ada cowo gantengnya untuk sekedar menatap lama dan menikmati paras rupawannya. Aaaaaaahh~


Karena saya agak tomboy, jadi saya paling suka film laga. Dan film laga mana lagi yang lebih keren dari film kung fu? Komplit udah! Dalam satu paket kita disuguhi wajah ganteng dan aksi keren. Jadi, ini cerita tentang beberapa aktor laga Taiwan dan China yang dulu paling saya suka. Ini dia:
Ashton Chen
Buat yang lahir di awal tahun 1990-an, pasti tau shaolin popeye, sampai sekarang pun masih sering diputar di ANTV. Saya suka sekali film ini karena jatuh hati sama pemerannya, si kecil jago kungfu yang manis itu, Chen Xiao Long atau nama internasionalnya Ashton Chen. Sekarang dia udah gede, udah jadi laki-laki dewasa yang ganteng. Sayangnya, film-film terbarunya kurang dikenal di Indonesia. Yah, pasti karena pengaruh trend industri film asing di Indonesia yang lebih berkiblat ke Hollywood. Kalaupun ada film China yang diputar di bioskop, itu pun dibintangi oleh actor besar macam Jackie Chan atau Jet Li, itu pun lagi, karena mereka emang udah sering gabung sama film produksi Hollywood.


Memori saya tentang Ashton Chen adalah memori yang indah. Film “Shaolin Popeye 2: Messy Temple” dibikin tahun 1994, waktu itu dia umur 6 tahun (Ashton Chen lahir 6 januari ’88). Pertama kali saya nonton film itu sekitar kelas 3 SD, umur saya sekitar 9 tahun. SAYA LANGSUNG JATUH CINTA, SODARA-SODARA, JATUH CINTA!! Padahal beda umur saya sama dia yang di film itu udah 3 tahun, cukup pedo untuk ukuran anak SD. Waaaaaaaaaa! Abis nonton film itu, seharian saya senyum-senyum membayangkan dia. Hahahahahaha!
Jimmy Lin


Ketika kelas 6 SD, saya gantian jatuh cinta sama Jimmy Lin. Aaaawwwwwh! Siapa Jimmy Lin? Masih yang itu-itu juga. Dia juga pernah main di film yang sama bareng Ashton. Itu loh, cowo ganteng dengan rambut polem ituuuuu. Masa ga tau sih? Film Jimmy Lin Favorit saya adalah “Granpa’s Love”. Dia main sama Kok Siu Man, biksu kecil gendut lawan main Ashton di Shaolin Popeye. Aduh, itu film-nya sedih banget. Di film itu Jimmy Lin udah umur 20 tahun (dia lahir 1974). Jadi saya ga pedo lagi, hehehehe.


Buat saya, Jimmy Lin itu luar biasa deh, selain aktor-berwajah-ganteng-yang-bikin-melting, dia juga penyanyi, daaaaan jeng jeng jeeeeeeng PEMBALAP!! Benar bo’, pembalap! Sampai umurnya 37 sekarang, wajahnya masih aja bikin cewe-cewe deg-degan.
Dicky Cheung

Selanjutnya, ada Dicky Cheung. Saya yakin maryakin, orang-orang udah pernah nonton dia, tapi ga tau namanya. Dicky Cheung itu lho, yang jadi Sun Wukong di serial TV Journey to the West. Ga tau? kalo saya bilang Sun-Go-Kong si Kera Sakti tau? *hoooooooo, yang ituuuuuu.. Bukan karena perannya sebagai kera sakti yang bikin saya nge-fans, tapi perannya di serial TV Kung Fu Soccer yang pernah ditayangin di SCTV tahun 2005. Walopun umurnya udah waktu main di Kung Fu Soccer umurnya udah 39 tahun, tapi wajahnya masih sejuk dipandang.

Kung Fu Soccer itu sendiri adalah salah satu serial tv favorit saya sepanjang masa. saya pernah bikin sinopsisnya karena takut lupa gimana ceritanya. waktu itu saya masih kecil, internet belum sepopuler sekarang, jadi kalau lupa ga tau mau nanya ke siapa. Aduh, indahnyaaaaa~~

Yah, begitu lah. Semuanya punya masanya masing-masing. Saya masih suka sama aktor-aktor favorit saya ketika kecil dulu. But now when I grow up, I got new babe. Sejak SMA saya kurang banyak mengkonsumsi film laga, jadinya orientasi figure ganteng saya mulai berubah. Idola saya mulai beragam, mulai dari Mas Noe yang sastrawan, Yoshio Akeboshi yang lirik lagunya paling “gw banget”, Will Smith dan anaknya Jaden Smith yang punya mata indah, dan Andrea Hirata sang guru. Hahaha!Oke deh, segitu dulu. saya mau nampar pipi sendiri dulu gara-gara kebanyakan ngayal..

manusia galau

Kamis, 13 Oktober 2011
Banyak orang yang beruntung karena bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik karena sebuah pengalaman kecil yang sangat berkesan, walaupun usianya masih muda. Tapi lebih banyak orang lain yang tidak beruntung, yang telah menjalani umur lebih dari separuh abad, mengalami berbagai pengalaman, mulai dari kemenangan yang gilang gemilang sampai kekalahan yang paling memalukan, telah menjejak di banyak tempat di dunia, tapi tak kunjung menemukan dirinya, tak kunjung paham akan eksistensinya sebagai ciptaan Tuhan.


Dan, saya termasuk kepada mereka yang tidak beruntung itu.
Okeh, umur saya belum separuh abad, seperempat juga belum. saya belum kemana-mana, masih bercokol di negeri saya lahir. Pengalaman saya juga belum seberapa, kemenangan saya masih sederhana dan kekalahan saya masih “tertanggungkan”, belum memalukan, belum parah-parah amat. Tapi saya sudah merasa sangat tidak beruntung, karena dengan keadaan yang menurut saya berkecukupan, saya masih belum menemukan apa-apa.

Saya blingsatan mencari diri sendiri..

Terjebak dalam ide-ide dangkal yang saya sendiri tak paham apa esensinya. Ingin menjadi ini, ingin bekerja sebagai itu, ingin meraih ini, ingin pergi kesitu, ingin bertemu si ini, ingin menjadi seperti si itu. Pencarian ini sedikit demi sedikit membuat saya menjadi seorang oportunis. Wooooaaa! I hate that word so much!


Baiklah, memangnya siapa yang tidak pernah tersesat dalam pikirannya sendiri?
Mari bicara soal Einstein, the man of the century, ilmuan paling canggih di jaman modern ini. Apakah dia seseorang yang religious? Saya tidak tau. apakah dia meneliti karena murni untuk ilmu pengetahuan atau ada tujuan lain? Saya juga tidak tau. tapi bapak tua dengan rambut nyentrik itu berhasil sampai kepada suatu kesimpulan. Kecerdasannya membuatnya paham bahwa Tuhan tidak bermain dadu dalam menciptakan semesta, dan menurut saya, itu lebih dari sekedar ilmu pengetahuan, itu adalah hasil sebuah pencarian paling dasar dalam diri manusia: siapakah kita? Dari mana kita berasal? Dan kemana kita akan pergi?


Seorang muslim yang taat tentu akan bisa menjawab dengan baik, saya adalah ciptaan Allah, saya berasal dari tanah dan kembali ke tanah, saya adalah milik-Nya dan hidup hanya untuk menyembah-Nya. Saya paham itu, Tapi saya juga tak paham! Saya mengerti kenapa, tapi kenapa?!
Nanti, apabila memang saya berhasil mencapai apa yang saya inginkan, lalu apa?

Tempo hari saya membuat rencana-rencana yang ingin saya lakukan setelah wisuda:
Plan A. mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri. Saya putuskan pilihan pertama saya adalah Jepang, kedua Australia, ketiga Amerika Serikat atau Negara Uni Eropa.

Plan B. mengejar beasiswa kuliah di dalam negeri, pilihan pertama IPB, kedua UGM.

Plan C. melanjutkan kuliah S2 di Unand sambil bekerja.
Baik, silahkan tertawa, mimpi saya memang muluk luar biasa, tak saya tak peduli. Ini yang ingin saya kejar.


Teman-teman lain juga pasti punya mimpi yang identik, tak akan jauh beda. Pernahkan berpikir, nanti setelah ini terwujud, lalu apa? Ketika mimpi kita akhirnya terpenuhi, apakah kita akan merasa bahagia?
Apakah akhirnya pencarian kita akan berakhir?
Saya pun tak paham ~~
.
.
.
.
.
Hhhhaaaaah! Sudahlah, saya harus menghapal untuk ujian UTS. Hari ini ujian Manajemen Usahatani jam tiga sore. Wish me luck! :D

in my mind: cows, thesis, ayu ting ting

Kamis, 06 Oktober 2011
Udah jam 12:02 malam, saya musti selesai bikin makalah mata kuliah konsep dan etika agribisnis kerakyatan. Tugasnya semacam evaluasi buat program bapak Irwan Prayitno yang “satu sapi satu petani”. Seems like another stupid program to me. Whooa! Sinisnyaaa..

Maaf pak Irwan, saya Cuma merasa kalau program ini ga ada bedanya sama program bantuan pertanian yang lain. Ujung-ujungnya Cuma ngabisin dana APBD, yang menikmati Cuma segelintir orang, itu pun bukan orang yang benar2 butuh, birokrasinya bakalan berbelit-belit pula..

Menyelesaikan tugas ini bikin saya merasa jadi anggota KPK yang idealismenya diambang kematian, untungnya bukan.

Dan untungnya lagi, mata saya bisa diajak kerjasama, Cuma wireless-nya aja yang kumat. Sebagai catatan, modem punya handa rusak dan dengan tidak bertanggungjawabnya, saya kembaliin itu modem tanpa berusaha sendiri memperbaikinya. Kurang ajar betul :D

*tiba2 pengen boker..

Lagu ayu ting ting menggema2 di kepala. Sial! Belakangan sering banget nyanyi lagu itu sambil joged gaya ngulek cabai-nya Sule. Siapa lagi partner in crime saya kalo bukan handa dan baday. Biar diliatin orang2 dengan tatapan aneh juga kita lanjut terus. Wow! Penolakan judul skripsi ternyata berakibat buruk pada kejiwaan seseorang. Yah, judul saya ditolak sama pak rudi. Saya sih nrimo aja. Pak rudi dengan pengalaman, pendidikan, dan gelar akademisnya memiliki semacam wewenang ilmiah untuk mementahkan judul saya, yang saya akui memang kacau luar biasa. Untungnya, pak rudi ngasih alternatif judul lain. Kapan2 saya bakal cerita.
Aduh, jadi ngalor ngidul begini. Balik bikin tugas dulu deh..