Siklus

Jumat, 01 April 2011
ga tau kenapa tiba2 kepikiran Kota New York. yang jelas saya lagi nulis BAB I buat ancang-ancang proposal penelitian, saya harus menjelaskan dikit tentang NYC, trus saya browsing deh di mbah google. NYC itu man, ga lebih dari belantara beton, miriiiiiiip banget sama hutan rimbun di Silaiang, cuma bedanya, sungai jernih di Silaiang digantikan oleh derasnya arus kendaraan, pohon2 tinggi menjulang digantikan oleh sky scrapers yang aduhai, suara kicau burung, dengung kumbang, jeritan wia-wia, berganti dengan suara klakson mobil, teriakan orang nyetop taksi, suara ngobrol, suara segala jenis mesin fax dan printer, suara tivi, suara musik pop. saya ga pernah kesana tapi saya bisa banyangkan..
keduanya sama-sama indah, antara Silaiang dan NYC. keduanya berjalan dngan harmoni dan ada invisible hand yang mengobok-obok keduanya. bedanya hanya di siklus. siklus yang terjadi di Silaiang berbentuk sirkuler melingkar yang sempurna, siklusnya tertutup, dengan arti bahwa tidak ada satu energi pun yang terbuang, sisa satu makhluk hidup menjadi berkah bagi makhluk hidup lain. pernah belajar tentang jejaring makanan di biologi kan? seberapa pun tingginya kasta seekor predator, pada akhirnya dia akan takluk juga pada kelihaian bakteri mengurai tubuhnya, dan siklus itu dimulai lagi dengan bagkai predator itu sebagai makanan atau energi awal.

sementara NYC memiliki siklus yang berbentuk linier. mungkin ga bisa dibilang siklus juga. saat suatu proses dimulai, dia akan berlanjut, membesar, menyerap banyak nenergi, kemudian melepas energinya dan menjadi sampah yang tak terurai. mereka menambang besi, meleburnya, membentuknya jadi rangka mobil, kemudian memanfatkan mobil itu, lalu mereka bosan, mobil itupun bosan, jalanan bosan, bahan bakar bosan, menteri energi dan sumberdaya mineral bosan, jadilah mobil itu dicap ringkih dan harus pensiun, lalu dia jadi apa? dia jadi seonggok rongsokan yang menyedihkan. memang bisa didaur ulang, tapi memang berapa banyak yang bisa didaur ulang oleh manusia?
ga cuma pada sesuatu yang nampak, untuk sesuatu yang tidak nampak pun, prosesnya tetap juga berbentuk linier. seorang profesional pejabat tinggi perusahaan mempekerjakan ribuan buruh, dia dapat untung banyak, duitnya banyak, dari keringat buruh dia sejahtera, menabung dan mendepositokan uangnya yang segunung. trus buruhnya dapat apa? digaji memang, tapi ga pernah bisa menyamai si profesional. dia mau kerja sampai pensiun, trus mati, lahir lagi, kerja lagi, pensiun lagi, gitu terus sampai 28 kali, tetap aja ga bakal bisa sekaya si profesional. sementara duit si profesional menumpuk sampai lapuk. ilmu mereka memang berbeda, keahlian boleh ga sama, tapi kenapa mereka ga bisa sama2 kaya? oke, ada sistem ekonomi yang mengatur itu, tapi dijawab pake ilmu apapun, pada akhirnya cuma bakal mempertegas kalau sesuatu yang diciptakan oleh manusia itu ga punya keseimbangan alami. ciptaan manusia itu ga punya kemampuan self recovery seperti ciptaan Allah. semuanya serba timpang, tumpang tindih dan ga efisien.

jadi, NYC memang indah, Silaiang juga indah. tapi keindahan keduanya berbeda secara esensial. semuanya tetap kembali pada Allah