damai di Bumi

Kamis, 05 Agustus 2010
belum jam tiga tapi aku sudah sampai di Pondok Baca. ternyata ramai. ada beberapa pengurus yang datang. sebenarnya tujuanku datang kali itu adalah untuk sesi diskusi dengan kak Rosi, namun dengan adanya beberapa orang yang baru ku lihat ini, diskusi kami tertunda, bahkan batal, diganti dengan diskusi perbandingan agama antara aku dan bang Iman. dia seorang Nasrani, sama seperti kak Rosi. Sanguin sekali. baru pertama kali bertemu kami sudah diskusi seru tentang agama.
ada banyak pelajaran baru yang ku dapati sore itu. konsep trinitas yang selama ini gelap bagiku mulai ku pahami dari sudut pandang seorang pemeluk agama Kristen. bang Iman merupakan orang yang baik. ,dia sangat open minded dan keterampilan linguistiknya memikat. senang sekali rasanya ada yang mengapresiasi dan setuju dengan pendapat kita yang selama ini terasa sensitif untuk didiskusikan dan terus tersimpan dalam pikiran kita saja.

aku memang selalu heran dengan perbedaan (bang Iman memperhalusnya dengan menggunakan kata 'keunikan') yang terjadi antar manusia. semua hal yang tidak satu corak, tidak sama pola dan warnanya, dianngap sebagai pemisah dan sering menjadi alasan untuk memulai perang. agama sering menjadi kambing hitam untuk konflik yang sebenarnya bersumber dari egoisme manusia. aku percaya, kalau semua orang menganggap agama yang dipeluknya adalah agama yang paling benar, tidak bisa diganggu gugat. jadi kenapa kita tidak berdamai saja dengan keunikan tersebut dan memjadikannya sebagai salah satu kekayaan yang kita punya. bukankah semakin beragam kita, maka semakin banyak kita belajar tentang betapa semua manusia itu istimewa?

menurutku, cukuplah pemahaman universal tentang baik dan buruk menjadi satu-satunya hukum yang diterapkan. kalau di suatu tempat ada berbagai macam budaya, agama, dan bangsa bukankah tidak adil kalau kita menerapkan hukum salah satu budaya, agama atau bangsa saja kepada seluruh anggota masyarakat secara kolektif?

mungkin ini terdengar sekuler, tapi Allah pun menghendaki manusia untuk selalu berdamai atas semua perbedaan. kalau ego untuk mengusai kita memang tidak terlaksana, mengapa kita tidak mengalah dan berdamai saja?