Akhir Semester (II)

Rabu, 14 November 2018
hari Kamis tanggal 15 November, seminggu setelah ujian semester selesai. Sampai saat ini saya setia menempati meja paling dekat ke pintu di Post-grad room. Di samping saya, Kevin juga masih setia nonton reality show Jepangnya. Hari sudah menua, sudah hampir jam lima sore. Dari pintu kaca saya lihat langit biru akhir musim semi masih cerah melatarbelakangi pohon eukaliptus. Kecuali gerungan pelan dari mesin besar pengatur daya listrik di balik tembok, semua terasa tenang, tenang sekali. Library sudah sepi, kebanyakan mahasiswa sudah menyelesaikan ujian mereka. Dan saya, seperti selalu ketika akan mengucapkan pisah, terkena perasaan sentimental yang mulai menguat, datang macam ombak yang datang bergelombang.
Sejak terakhir saya posting blog, hanya ada beberapa hal monoton yang terjadi. Semua berhulu pada cerita saya yang kelabakalan dihantam assignment dan penelitian. Sepertinya saya sudah bilang dimana-mana (semua platform sosial media, maksudnya) kalau dalam sepuluh bulan belakangan yang saya lakukan adalah belajar, belajar, dan belajar. Datang ke library setiap hari, dari pagi sampai malam. Bulan lalu tekanan study memuncak. Saya harus menyelesaikan menulis thesis menggunakan data penelitian yang sampai sekarang tetap saya rasa terlalu receh, bagaimanapun orang-orang berusaha meyakinkan sebaliknya. Mata kuliah crop physiology yang saya ambil luar biasa sulitnya, disebabkan dosen yang mengajar lebih lama jadi peneliti daripada pengajar (ada alasan kenapa peneliti itu mestinya tetap meneliti saja, they suck at teaching). Awal Oktober semua stress memuncak. Berkali-kali saya kena panic attack. Minggu tanggal 14 Oktober saya ingat betul, saya sampai di library jam 7.30 pagi, lalu menangis sejadi-jadinya karena depresi. Di diary tertanggal 22 Oktober, saya menulis:
I try to be calm. thinking that this thesis is not all my life and it's just some small part of my education. I shouldn't be thinking that it will ruin everything. but still, my limbs feel light, like the light headed feeling I have when i'm lack of sleep. there is this lump in my chest that press my heart, or it feels like a rock tied on my chest and it feels so heavy. it gives me the perspective how  physiological stress can lead to physical stress and how it can kill someone. 
It scares me. For every ten minutes I went to my phone or anything else, I know I have to finish this as soon as I can but I keep getting myself distracted. I am not enjoying this process. I'm freaking out.
Now, the smallest thing that I think is bad makes me winched and exclaim  "oh my God." I groan, I whine, I cry, my breath gets short. I can't make objective judgement. This reaction was like when I am enduring menstrual pain. I keep saying "it hurts" and my chest does hurt.
But it takes me to the last minutes to ask for help.

Saya ingat betul rasanya...


Tapi semua sudah selesai sekarang. Tidak ada lagi assignment, tidak ada lagi thesis, tidak ada lagi ujian. Masih ada kekhawatiran kalau-kalau nilai ujian saya jelek, soalnya susah sekali. Tapi barusan saya ketemu librarian yang biasanya mengecek keadaan sekeliling perpustakaan, dan dia tanya bagaimana ujian saya "Well, I did my best. That's all that matters." saya jawab. Kalau saya bisa jawab begitu ke ibu librarian, seharusnya saya juga bisa menanamkannya di benak says sendiri. "Widia, you've done your best. It wasn't perfect. In fact, it's far from perfect. But that's the result of your hardest, most hard working effort, give yourself some credit and be proud of what you've achieved." Pada akhirnya, saya membuktikan satu hal yang saya ingin buktikan awal dulu ketika akan berangkat ke Australia, bahwa saya bisa bekerja keras dan mendorong diri lebih kuat dari hari ke hari.

Masa study saya seperti film Jurassic Park yang ketegangannya memuncak di menit-menit terakhir, kemudian selesai, blas! habis! Saat ini bisa dibilang saya sedang dimasa rolling credit akhir film. Tidak ada yang mesti dilakukan lagi, saya hanya menikmati hari-hari terakhir kuliah S2, sekaligus hari-hari terakhir di Australia.

Rasanya saya kesal dengan diri sendiri karena tergoda untuk bilang "rasanya baru kemaren saya sampai di Gatton, sekarang sudah akan pulang saja..."


Lemari Makanan Bernama Hidup

Sabtu, 23 Juni 2018
Sebutir kentang bertunas di lemari makanan. Saya tidak yakin sudah berapa lama dia disana. Mungkin tiga bulan. Selama itu saya lupa kalau saya masih punya kentang, dan dia memanfaatkan kelupaan saya itu untuk berinisiatif mengambil alih nasibnya sendiri. Kelupaan saya memberi kesempatan untuk glukosa di umbinya berubah menjadi jaringan meristem, lalu tumbuh menjadi tunas. Kalau saya tidak lupa, dia akan jadi isian kari alih-alih jadi tanaman baru.

Lalu saya berpikir, apa saja yang berdiam di pojok lemari makanan dan saya lupakan? saya cek, tuna kalengan tahun lalu masih sisa satu. Saya beli iseng waktu half price di Coles. Ada kwetiau kering isi 400 gram yang sisa setengah, ada kulit spring roll, dan ada kantong plastik isi daun salam kering. Semuanya adalah bahan makanan yang saya kurang suka atau jarang pakai. Tuna itu rasanya aneh dan kwetiau itu ternyata jadi putus dan hancur ketika digoreng (yang niatnya kwetiau goreng malah jadi adonan kwetiau goreng) makanya saya belum bikin lagi, spring roll memang saya jarang bikin, daun salam juga jarang. Semua yang tidak saya suka terakumulasi di pojokan. Saya yakinkan kamu dan siapapun yang khilaf membaca blog ini, bahan makanan itu tidak akan saya buang. Pasti saya makan, cuma belum tau kapan. 

Tapi alih-alih mencari resep yang enak yang bisa memanfaatkan tuna, kwetiau, kulit spring roll, dan daun salam itu (mungkin resep absurd spring roll isi kwetiau tuna yang saya cari, entah ada entah tidak), saya malah berpikir tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya, seperti yang selalu saya lakukan. Hidup saya dan hidup kita semua sama seperti lemari makanan. Kita akan menaruh bahan-bahan yang paling sering dibutuhkan dan paling kita suka di tempat yang gampang dijangkau. Semakin jarang dipakai atau semakin tidak disukai akan semakin jauh letaknya. Kita tiap hari melihat yang paling dekat, dan memperhatikan yang paling dekat. Jadi kita tau persis kapan bahan seperti minyak goreng, garam, bawang merah, bawang putih dan merica habis.

Kita menyimpan pekerjaan kita, pasangan kita, atau kegiatan nglaju harian kita di bagian depan lemari, kita tau detail setiap harinya. "Oh, garam bernama laporan kegiatan itu sudah mau habis, baiknya mampir sebentar nanti ke ruangan si bos buat ambil isi ulangnya." Di pojokan hidup, kita menumpuk kesehatan, kampung halaman, kenangan masa kecil, atau bahkan Tuhan di sudut yang jarang terlihat. sekali-sekali saja dijamah. "Hari ini ingin makan sup rasa rindu pada teman lama? sebentar, mana botol ketumbar yang isinya nomor telepon itu?"

yang kita tidak sadar adalah, sama seperti kentang tadi, semua yang ada di pojokan itu juga berubah, mereka bisa kadaluarsa atau digerogoti tikus. Tinggalkan Tuhan lama-lama, nanti shalat rasanya berubah kecut. Saya sendiri mengalami pengalaman pahitnya. Ketika Desember lalu pulang setelah (baru) setahun merantau agak jauh, saya tersentak melihat ayah saya terlihat sudah tua sekali. Saya bahkan baru sadar itu ketika melihat wajah beliau di foto yang saya ambil, bukan ketika melihat langsung. Seberapa dalam ayah saya tertumpuk di lemari?

Kita juga harus sadar, berbeda dengan makanan yang tidak punya kaki dan kabur dari lemari, orang-orang yang kita tumpuk di pojok hidup bisa keluar dari hidup kita kapanpun mereka mau. Mereka tidak akan tetap disana dan menunggu diri mereka bassi. Dan pertanyaannya, mana yang lebih menyakitkan, ketika orang-orang keluar dari lemari hidupmu, atau ketika mereka tetap disana seperti rumput windmill grass di pertengahan musim dingin, hidup segan mati tak mau?

Saya sendiri merasa kalau menjaga orang-orang agar tetap berada dalam hidup saya adalah pekerjaan yang sulit. Saya sudah menyeberang dari sisi anak bodoh yang bilang those who meant to stay will stay those who meant to leave will leave ke sisi orang dewasa yang sadar bahwa hidup itu tidak sesederhana membiarkan orang-orang menentukan posisi mereka di hidup kita. Yang terpenting adalah kita juga harus mengusahakan bagaimana caranya mereka tetap berada di hidup kita (atau bagaimana kita tetap tinggal di hidup mereka). Sayangnya, kemampuan saya tidak mengikuti kesadaran yang sudah menyeberang itu. Kemampuan memahami orang masih cetek, kemampuan menghargai kampung halaman saya masih dangkal. Semua hal yang dulu menjadi keseharian tetap saja sedikit demi sedikit memudar, lalu hilang. Saya tidak merisaukan mereka yang memang tidak ditakdirkan (atau dalam kata lain, tidak saya inginkan) untuk tetap berada di hidup saya, tapi bagaimana dengan mereka yang berharga, yang juga pergi karena ketidakbecusan saya? 


Akhir Semester

Rabu, 15 November 2017
Gatton, 16 November

Enam hari setelah ujian terakhir semester ini. Ada banyak hal yang terjadi, saya tidak tau harus mulai dari mana. Tapi overall, semester ini berat, berat sekali. Ada hari-hari dimana sapaan "How are you?" dijawab dengan "I'm dying..." atau "I'm losing my sanity..." Ada pula keluhan-keluhan tentang dosen yang tidak saya dengar semester lalu; "You better be careful, she's a witch..." atau "it's a good thing you skip the lecture, it was super boring..." 

Saya mengambil empat mata kuliah semester ini. Tiga mata kuliah wajib dan satu pilihan; Plant Physiology, Global challenge in Agriculture, Research Methodology, dan Environment and community. Yang tiga rasanya cukup baik, sementara yang satu adalah sumber depresi berkepanjangan. Tidak usahlah saya sebut yang mana, yang jelas emosi saya diobok-obok olehnya. Ini adalah bentuk frustasi yang berbeda dari semester lalu. Waktu itu, saya frustasi karena tidak percaya pada kemampuan diri sendiri karena harus mengambil mata kuliah Advanced Agronomy, saya takut gagal, walaupun ujung-ujungnya nilai saya cukup bagus untuk mata kuliah itu, Alhamdulillah. Semester ini frustasi saya tidak berasal dari self esteem yang rendah, tapi dari dosen yang Astaghfirullah sekali. Tiga mata kuliah diajar oleh dosen yang menyenangkan, jadi walaupun berat (yang satu bahkan ada praktikum laboratorium yang menguras waktu dan tenaga) saya jadi semangat belajar dengan mengubur diri di perpustakaan sampai jauh malam. Tapi yang satu itu, berkali-kali saya menangis saking frustasinya. Rasa bersalah menumpuk dengan rasa kesal diakhir semester ketika akan ujian.
"kenapa sepanjang semester jarang masuk kelas?"
"ngapain, kuliah bapak itu bikin ngantuk."
"ya kan jadi susah akhir semester gini..."
"ga susah kalau bapaknya ga jahat ngasih nilai tugas!"
Frustasi itu membuat saya jadi berkepribadian ganda -__-

Berat badan saya turun sampai tiga kilo dalam sebulan terakhir semester ini, menggenapkan turun delapan kilo sejak awal mulai kuliah Februari lalu. Tidak jarang saya dikira kurang tidur karena wajah kusam dan selalu cemberut. Dalam sehari, saya bisa sampai lima belas jam di depan layar komputer. Berangkat jam delapan pagi, pulang jam sebelas malam, atau beberapa kali berangkat jam setengah enam pagi dan pulang jam setengah sembilan malam. Sampai di rumah tidak jarang langsung rebah di kasur, bahkan tidak kuat untuk sekedar cuci muka dulu. Tidak berhenti, dari Senin sampai Senin lagi, bahkan di akhir pekan. Saya bersyukur karena dengan rutinitas seperti itu saya masih sehat secara fisik. Paling parah hanya hidung tersumbat di pagi hari ketika jam tidur kurang dari empat jam. Kesehatan tetap jadi prioritas, jadi saya selalu sempatkan masak dan berusaha tidak sering-sering begadang, "kamu tidak akan ada gunanya kalau sakit..." itu terus yang saya bilang ke diri sendiri. Tapi kalau kesehatan mental? jangan tanya, hahahaha!
Sekarang saya bisa tertawa karena semua beban tugas dan ujian sudah lunas. Beberapa hari yang lalu pembicaraan macam ini akan membuat air mata saya berderai.
Tapi sekali lagi, Alhamdulillah waktu-waktu yang berat itu sudah lewat, yang tersisa adalah berlembar-lembar catatan kuliah, file-file tugas yang sudah diupload, ilmu baru, dan sedikit sisa-sisa anxiety tentang apa jadinya nilai mata kuliah yang Nauzubillah min zalik itu.

Legacy terpenting dari masa suram itu adalah kekuatan diri yang tumbuh dan semakin kokoh.

Dulu, saya tidak pernah cukup percaya diri mengatakan kalau saya bisa bekerja dibawah tekanan, saya mampu menghadapi tantangan baru. Di akhir setiap proses yang saya jalani, saya tidak pernah merasa pantas untuk mengatakan bahwa saya sudah bekerja sekeras yang saya mampu, atau saya sudah mengusahakan yang terbaik. Rasanya selalu ada yang kurang. Saya melihat diri sendiri sebagai orang pemalas yang selalu mencari jalan mudah mencapai sesuatu. Saya selalu berpikir kalau semua yang saya capai hanyalah murni karunia Allah, saya tidak ikut campur. Tapi kali ini, dengan attitude yang sama, dengan pola pikir yang sama, saya tau saya pantas untuk bilang "I did my best". Tentu saja ini tetap karunia Allah, tapi saya juga menjadi cukup yakin untuk memberi credit yang selama ini tidak pernah saya berikan untuk diri sendiri. Ini tidak saya berikan karena saya bangga, tapi karena saya menghargai apa yang saya sendiri lakukan. Semua bermuara pada nasihat klasik tentang hargailah dirimu dan kerja kerasmu, dengan begitu kau juga mneghargai apa yang Allah berikan untukmu.

Ketika saya mulai menghargai diri sendiri, saya bisa merasakan kekuatan tumbuh di dalam diri. I can do it, and I really mean it...

Di Satu Hari di Penghujung Musim Dingin

Senin, 04 September 2017
Kalau lah ruangan computer annex ada penunggunya, mungkin mereka sudah menerima saya sebagai bagian dari komunitas. Setiap hari sejak sebulan belakangan saya disini, dan seminggu terakhir bahkan tetap tinggal sampai jauh malam. Datang jam setengah sembilan pagi, pulang jam setengah satu dini hari. Duduk, makan, dan tertidur di meja yang sama. Awalnya karena mengerjakan laporan pratikum plant physiology yang susah-susah gampang, lalu sekarang dilanjutkan dengan tugas-tugas lain dari 4 mata kuliah yang saya ambil. tidak akan mungkin bisa punya ritme waktu seperti itu kalau bukan berkat teman saya Rizky yang menyetir pulang pergi town-kampus dengan mobil mercedes benz L-300 nya (yang saya bahkan tidak tau apa benar ada mercedes tipe itu karena tentu saja itu bohong).

Ritme kegiatan macam ini hanya sesekali saya alami sebelumnya. Karena itu, di pagi hari kedua saya merasa kurang bertenaga. Rasanya seperti otot habis dipakai mengangkat beban berat tanpa pemanasan lalu efeknya tiba-tiba loyo dan gemetaran, pasti semua orang mengerti maksud saya. Hari selanjutnya saya jadi susah ke belakang karena metabolisme melambat dan berakibat pencernaan juga melambat. Saya jadi mudah sekali tertidur di kursi yang sebelumnya jarang sekali terjadi. Tapi tetap saja, saya senang bisa punya waktu lebih banyak menyelesaikan assignment. Produktifitas yang meningkat setelah matahari tenggelam membuat sayang rasanya untuk pulang. Jadi bairlah otot saya kurang tenaga, biarlah jadwal ke belakang jadi tersendat, yang penting assignment bisa dicicil dan tidak membunuh nanti diakhir semester. 

Perubahan jam biologis yang berakibat pada perubahan fisiologis tubuh bisa lah saya atasi, waktu dulu jadi adj-core lomba debat juga saya harus tidur larut malam dan bangun pagi-pagi demi mnyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan turnamen. Tapi kali ini saya juga berurusan dengan The Faceless Man. Yang ini adalah hal yang baru. Hari selasa tanggal 29 Agustus lalu, saya, Rizky, dan mbak Dian pulang bersama jam setengah satu malam. Ketika berjalan ke parkiran, di dekat pagar pembatas area konstruksi gedung perpustakaan yang sedang direnovasi dari jauh kami melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam berdiri diam. Dia hanya diam di pojok, tidak melakukan apa-apa. Bahkan sebelum saya memperhatikan, Rizky dengan yakin sudah mengumumkan ke khalayak ramai (saya dan Mbak Dian) kalau itu bukan orang. Dia bilang laki-laki itu tidak punya wajah. Untuk mengkonfirmasi, dengan polosnya saya hanya memperhatikan kakinya, karena entah kenapa saya bodoh betul meyakini kalau hantu apapun itu, dia tidak akan menapak tanah. Padahal kan tidak. Pocong menapak tanah, genderuwo juga menapak tanah. Jadi ketika saya liat sosok itu juga menapak tanah, tidak mengkonfirmasi dengan melihat wajahnya lagi karena saya sudah ketakutan duluan. Sumpah saya tidak pernah setakut itu! Cuma rasa malu saja yang membuat saya menahan diri untuk tidak lari tunggang-langgang. Saya hampir menangis dan dengan panik meminta Rizky berhenti bicara "Rizky, please keep it for yourself! I hate you!" saya ingat betul saya bilang itu berkali-kali karena berpikir awalnya dia cuma becanda. Mbak Dian kemudian menenangkan dengan bilang kalau itu memang orang, dan baru empat hari setelahnya saya tau kalau itu dusta supaya saya tidak panik lagi. Malam itu suhu dingin, entah 9 atau 7 derajat, saya lupa. Begitu sampai di mobilnya Rizky yang diparkir cukup jauh, saya kedinginan, dingin fisik dan mental. Keder sekeder-kedernya. 

Seperti yang saya bilang, saya baru tau kalau itu betul bukan orang hari sabtu tanggal 2 Septermber ketika kami berkumpul bersama teman-teman lain untuk lunch setelah Idul Adha. Saya tanyai serius Mbak Dian, bener waktu itu dia bilang itu orang cuma untuk menenangkan. Dia tersenyum dan mengangguk dan semua benteng pertahanan saya runtuh. ada denial dan rasa bersalah karena sudah mengomel-ngomel ke Rizky. Di titik itu kami bisa menceritakan kejadian itu sambil tertawa-tawa, seolah-olah lupa kami malam itu berjalan seperti atlit jalan cepat Malaysia yang melanggar aturan di Sea Games tempo hari. The Faceless Man juga tidak pernah menunjukkan diri lagi setelah itu. Tapi, kejadian kecil itu mengubah saya untuk selamanya, dari Widia yang tidak pernah berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan "melihat sesuatu", menjadi Widia yang "pernah melihat sesuatu". Awalnya saya berharap kalau malam itu kami dikerjai seseorang, bisa jadi ada orang iseng disana memakai topeng dan didukung dengan pencahayaan minim tengah malam berhasil menyampaikan teror ke kami. Kejadian itu membuat saya rasanya "tidak virgin" lagi untuk urusan macam ini. Tapi saya mengerti, sama seperti bagaimana dengan melihat kesakitan, kengkhianatan, dan rasa benci kita diubah dari anak kecil bodoh dan naif menjadi orang dewasa yang bijaksana dan penuh pengalaman, mengalami kejadian ini semestinya membuat saya lebih baik dalam mengatasi ketakutan. Saya tidak yakin bisa bersikap tenang kalau-kalau nanti saya berpapasan jalan lagi dengan The Faceless Man atau koleganya, tapi paling tidak saya sudah tau bagaimana rasa takutnya. 

Tapi tetap saja, saya berharap tidak pernah lagi bertemu dengan siapapun yang tidak menapak tanah, yang tidak punya wajah, yang kulitnya hijau, yang punggungnya bolong, atau yang terkikik tengah malam. 


Khuldi

Jumat, 25 Agustus 2017
Ribuan kontradiksi semakin sesak di hati. berpasang-pasangan menyiksa dan melemparkanku ke wilayah abu-abu dimana harapan dan ketakutan berperang

hentakan kaki kuda membangunkan debu, dan chaos naik ke langit bersama jerit pilu

Lucunya, dari sini semua kesatria itu terlihat seperti khuldi
ambilkan saja satu untukku sehingga aku tak perlu bingung memilih neraka mana yang harus kumasuki...

Gatton, 26 Agustus 2017

Dan Cerita Ini Berakhir Ketika Ia Bermula

Kamis, 24 Agustus 2017


Bola mataku menyapu rajahan duka di keningmu, sesaat ketika topeng itu disentak oleh dia yang kita sama-sama sakit karenanya. Sesaat setelah itu semua tawamu runtuh di benakku. Tak ada lagi yang perlu kutanyakan. Aku tau kau, aku melihatmu… 

Dan aku juga tawarkan padamu luka itu

Beruntung langkah ini tak terseok sendirian

Gatton, 25 Agustus 2017 

beginning of the second semester

Senin, 07 Agustus 2017
Monday, 7th August 2017

Mondays are tiring now.
I mentioned about taking the plant physiology course and how I was excited about it. Well, it was fun. However, the class would be from 8-11, the pract is from 1-4, on monday. By the time I finished the pract, I was worn out. Like really tired. I don't know how it could drain me so fast. Maybe because I like the course so I was concentrating hard, maybe because one of another reason like I could be mentally exhausted. Either way, this is a bad news. Three weeks into the second semester and I still haven't starting on my assignments. I have submitted the first one, it was only like 250 words of "personal expectation of what I'll learn from that one particular course". So, it wasn't really a big deal. But the coming ones are that thousands or word long, literature review, things like that. So I really have to start writing long before the deadline.
Anyway, aside from the exhaustion, the first two weeks was fine. We went to gold coast yesterday to perform angklung in an multicultural event. Gold Coast is a beautiful city. It was fun. we'll have another performance next week in Brisbane, it'll be Indonesia Independence Day celebration. I'm looking forward to it and it's a good thing that those events are in the beginning of the semester when I still have plenty of time.
I am also excited about going home at the end of this year. I know it's still like 3 months away, but I've known how time works. It flies so fast when you're busy. Before I know it, I'll be home. So I'll hang on for now and do my best.