Another debate record
Diposkan oleh
bebunyian
di
06:43
Minggu, 20 Mei 2012
Buat saya, NUEDC masih menggemakan rayuan yang tidak sanggup saya tolak. Dan untungnya, saya masih diberi kesempatan untuk merasakan sensasinya yang benar-benar berbakat dalam mengobok-obok emosi. Jadilah, saya ke Pekanbaru minggu lalu, untuk kembali mengikuti seleksi NUEDC regional X.
Tahun lalu ketika saya masih bodoh dan debatnya masih amatiran, saya belum punya determinasi yang jelas. Tujuan saya Cuma bisa masuk delapan besar jadi bisa “jalan-jalan” ke Semarang. Aiish! Malu sekali saya kalau mengingat bagaimana ide saya tentang NUEDC tahun lalu itu; sekedar plesiran menghabiskan dana kampus. (maafkan saya, Unand.)
Setelah setahun belajar, saya tidak sebodoh dan tidak seamatiran tahun lalu. Memang, masih banyak sekali yang harus saya pelajari agar pantas disebut sebagai debater handal, tapi sekarang saya sudah lebih baik, begitu yang dibilang buk Dhani dan pak Herman. Yang paling penting, ide saya tentang NUEDC sudah berubah seutuhnya. ini bukan plesiran, Ini adalah ajang pertaruhan nama, harga diri, dan gengsi. Saya ingat bagaimana tahun lalu kami dipandang sebelah mata, bahkan oleh debater dari kopertis X, uuuuhhh, menyakitkan sekali! Tapi semuanya terbayar tahun ini.
Jadi begini ceritanya:
Saya dan Veby sebagai debater, Nana sebagai adju N1, Bang Rian sebagai Invited Adju, buk Dhani dan Kak Lia sebagai pendamping, dan Pak Dodi sebagai sopir (kenapa jadinya malah mirip credit di akhir sebuah film?) berangkat ke Pekanbaru pada minggu malam tanggal 13 Mei. perjalanannya biasa saja, sama seperti yang saya alami tahun lalu. Tapi paling tidak kali ini mobil kami lebih lega karena tidak ada keluarga yang nebeng untuk jalan-jalan (jangan Tanya saya itu keluarga siapa). Kami sampai di Pekanbaru subuh tanggal 14 dan langsung check in di Hotel Bumi Asih. Beberapa jam disana, kami kemudian check out karena jaraknya terlalu jauh dari Hotel Pangeran tempat NUEDC berlangsung. Kami kemudian pindah ke Hotel Akasia, hotel yang sama tempat kami menginap tahun lalu.
Day 1
Siang hari ba’da zuhur, kami sampai di Pangeran. Saya mengenali beberapa orang dari acara tahun lalu. Ada debater Unri, debater UNP yang saya kenal karena ketemu di beberapa kompetisi tingkat Sumbar, debater STKIP PGRI yang saya kenal karena dia selalu ikut training yang diadakan AEDS, dan satu orang yang saya ingat betul karena ada cerita menarik antara dia dan Syaban dari pertemuan NUEDC tahun lalu, seorang nona manis yang atraktif. Saya histeris senang ketika melihatnya dan langsung sms Syaban:” aaaaahhh, she’s here! She’s here!” entah kenapa saya jadi sangat excited :D
Agenda hari pertama itu adalah seminar on debating, seminar on adjudicating, trus ada exhibition. Pak Yuli Herman meminta saya untuk ikut exhibition yang ternyata biasa-iasa saja. Ketika masuk waktu magrib, acara sudah selesai dan kami kembali ke hotel. Malamnya kami duduk-duduk di Enhaii untuk sekedar minum teh tarik dan ngobrol-ngobrol.
Day 2
Kami sudah sampai di Bertuah Hall Hotel Pangeran jam 7:50 pagi, dan prelim 1 dimulai setengah jam kemudian. Kami dapat ruang 7 dan motionnya masih “wajar”: This House Believe That Public Primary and secondary school are only for poors. Untuk prelim 1 ini kami dapat victory point 3, tapi dua prelim selanjutnya membuat emosi saya naik turun. Saya sempat down dengan penampilan saya di prelim 2 dengan motion yang seharusnya tidak terlalu tricky: This House, for the sake of national security, would ban media coverage on police brutality. Kami Cuma dapat VP 1 disini. Entah kenapa saya jadi sangat pesimis. Tapi semuanya membaik dan saya lebih rileks di prelim 3. Berhadapan dengan debater Universitas Jambi yang agresif tidak membuat saya takluk walaupun saya tidak mengerti motionnya: “This House Believe that commission for corruption eradication must be a permanent board”. Veby bilang: “lho, bukannya KPK itu memang sudah jadi badan permanen?” saya sih ga ngerti, dan ga ada waktu juga buat mengerti. Jadilah kami agak parah ngarang argumennya. Dan begitulah, hari kedua berakhir dengan baik. Bertambah baik ketika malamnya kami nonton ke bioskop XXI di Mall Ciputra, filmnya The Avengers 3D. waaaahh! Keren sekali! :D
Day 3
Okay, this is it! Walaupun sudah senang-senang nonton bioskop, tapi semalaman setelah itu saya nervous lagi. Bukan nervous yang berbahaya, saya Cuma grogi menyikapi apa yang akan terjadi esok harinya. Ternyata sia-sia saja saya nervous, karena hari ketiga ini berlangsung dengan baik. Motion untuk quarter final adalah This House Believes that it is the time for the government to ban youtube. Setelah belajar memetakan kekuatan tim, saya dan Veby setuju bahwa untuk setiap pertandingan selanjutnya, saya harus jadi first speaker kalau kami di opening dan jadi whip kalau kami di closing. Kami dapat posisi closing opposition dan saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik sebagai opposition whip. Aaaahh! Senangnyaaaa.
Dan seperti yang sudah saya ramalkan, kami melaju dengan mulus ke semi final. Mengejutkan juga mendengar debater UNP tidak proceed ke semi final yang itu artinya mereka juga tidak akan ikut ke Nasional. Nana, breaking adju kami, juga membisikkan sesuatu yang bikin saya makin kaget, bahwa tim Unri juga tidak dapat tiket ke nasional. Baiklah, mungkin ada yang bertanya-tanya sepertinya saya mengistimewakan sekali dua universitas ini. Memang! Saya menganggap mereka lawan tangguh dan menantikan sebuah “pertarungan kolosal yang berdarah-darah” dengan mereka (kalau anda pecinta Andrea Hirata pasti tau bagaimana mengartikan kalimat ini). Tapi kalau begini ceritanya, saya mesti beralih ke lawan berat lainnya; kakak-kakak manis dari Politeknik Batam yang ternyata juga punya jurus-jurus mematikan.
Selanjutnya, semi final. Motionnya adalah This House would allow Civil servant to do Polygamy. Saya berperan sebagai Prime Minister, dan kami berhadapan lagi dengan kakak-kakak politeknik Batam itu. saya semakin sadar bagaimana kekuatan mereka. Whoa! A complete package! Cantik, tinggi, pintar pula! kami berhasil masuk ke grand final, tentu saja bersama dengan debater Batam itu. dari room lain yang juga masuk ke grand final adalah tim Unja yang agresif dan tim Universitas Internasional Batam yang, aduhh, cute dan lucu sekali kayak chibi maruko chan.
Grand final yang saya harapkan akan berlangsung garang, ternyata hanya terlihat seperti sekumpulan orang beralmamater warna warni yang kehabisan energi. Motionnya “This House believes that teachers have rights to go on strikes”. Saya agak berhati-hati memberikan POI karena POI saya memang masih kurang “nyetrum”. Debate berlangsung lamban dan agak membosankan buat saya. Saya juga masih merasa ada point yang sebenarnya terpikirkan (beneran terpikirkan lho, bukan Cuma ngaku-ngaku) tapi tidak ter-highlight. Saya berharap kualitas yang lebih baik untuk grand final itu sebenarnya, baik itu kualitas saya sendiri maupun kualitas debat secara keseluruhan. Saya merasa agak malu sebenarnya menyajikan penampilan seperti itu ke pak Rahmat Nurcahyo, ke Bang Rian, ke Buk Dhani. Tapi toh semua sudah berlalu. Yang jelas saya punya pelajaran baru yang saya ambil dari keseluruhan NUEDC, bahwa saya perlu jadi orang yang “tegaan” dalam membuat argument, jangan bersikap abu-abu.
Ada banyak hal yang membuat saya bahagia dan terharu. Yang pertama adalah Buk Dhani. Masih seperti tahun lalu, buk dhani tulus menemani kami, merencanakan banyak hal untuk kami, walaupun terkadang masih dikhianati sistem birokrasi, tapi beliau tak surut. Setelah itu Nana, dia menunjukkan kualitas seorang adju sejak awal, kemudian belajar dan bisa membuktikan diri. Saya pernah juga mencoba jadi adju beberapa kali dan saya sadar kalau saya adju yang payah. I wasn’t born to be an adjudicator. Kemudian bang Rian. Saya ingat tahun lalu buk Dhani bilang ke dia “ibuk mau suatu saat kamu mesti berdiri di depan sana seperti pak Rahmat Nurcahyo..” dan tahun ini dia benar-benar berdiri, bisa dibilang sejajar, sama pak Rahmat. Saya terharu juga sama penilaian pak Yuli Herman dan buk Dhani yang bilang saya banyak peningkatan. Terharu juga sama kerja tim saya sama veby. Walaupun kami masih sering main ledek-ledekan, tapi dia bisa menutupi kekurangan saya. Melihat ini semua, saya merasa dilemparkan kedalam cerita manga Jepang yang tokoh-tokoh di dalamnya berjuang keras untuk mendapatkan apa yang mereka mau, seperti cerita Naruto atau Kapten Tsubasa. Dan setelah termenung berjam-jam di dalam mobil, di perjalanan pulang dari Pekanbaru, saya kembali pada kesimpulan manis yang sering saya ucapkan berulang-ulang; “debate gives me a wonderful triumphs and shameful failures, but it never let me down”
Dan disanalah, NUEDC regional X berakhir dengan baik. Kami juara 2 (saya sebenarnya kecewa), punya breaking adju muda yang brilian, punya invited adju sekaligus coach yang bisa diandalkan dalam menggembleng kami, pendamping yang sabar, dan untuk saya sendiri, punya determinasi yang jelas. Kami harus jadi juara untuk nasional dan dikirim ke Internasional. Sampai perjuangan selanjutnya di Bali, saya akan berlatih keras!
untitled
Diposkan oleh
bebunyian
di
01:12
Senin, 16 Januari 2012
Hasil ngobrol ngalor ngidul di kos bang day, di suatu sore yang cerah:
Kamu tau bagaimana cinta datang?
dia bisa diam-diam menyelinap seperti tumbuhan merambat di dalam rumah kaca. Tanpa kita sadar, dia membesar dan cabang-cabangnya menjalar semakin rumit, mengurat akar dan menancap dimana-mana, di kebiasaanmu, diotakmu, dikeseharianmu. kamu baru sadar ketika dia sudah mengkorupsi semua rongga hatimu dan apabila dia tiba-tiba tercabut, hatimu langsung kosong, hampa..
cinta juga bisa datang seperti tornado besar. Dia menghantam dengan sangat hebat hingga membuat kau terjungkal. Kalau pun misalnya kau tak siap, dia tak peduli, dia langsung membekapmu dengan perasaan yang indah. Hari-harimu berubah seratus delapan puluh derajat, upside down. Kau tiba-tiba menjadi orang suci yang selalu tersenyum dan menyebar bahagia.
Entah bagaimana, tapi cinta selalu menemukan caranya. Dia tak punya buku manual yang menjelaskan langkah demi langkah yang harus kau lakukan, tapi kau akan tau. mungkin kadang-kadang kau akan salah melangkah, tapi untungnya, cinta bukan sebuah sistem yang tidak mentolerir kesalahan. Cinta tak punya undo button, dia tidak bisa di-control+Z. tapi dia selalu memaafkan.
Cinta itu indah dan naïf, menyiksa tapi juga menentramkan, menghangatkan dengan sikapnya yang dingin, dirindukan karena sifatnya yang memuakkan. Cinta bukan keindahan semata, dia adalah perpaduan proporsional dari sedih dan bahagia. Terkadang dia berkhianat, terkadang dia berkorban. Tapi pada akhirnya, tetap hanya ada satu hati tempat cinta sejati pulang.
:D
Kamu tau bagaimana cinta datang?
dia bisa diam-diam menyelinap seperti tumbuhan merambat di dalam rumah kaca. Tanpa kita sadar, dia membesar dan cabang-cabangnya menjalar semakin rumit, mengurat akar dan menancap dimana-mana, di kebiasaanmu, diotakmu, dikeseharianmu. kamu baru sadar ketika dia sudah mengkorupsi semua rongga hatimu dan apabila dia tiba-tiba tercabut, hatimu langsung kosong, hampa..
cinta juga bisa datang seperti tornado besar. Dia menghantam dengan sangat hebat hingga membuat kau terjungkal. Kalau pun misalnya kau tak siap, dia tak peduli, dia langsung membekapmu dengan perasaan yang indah. Hari-harimu berubah seratus delapan puluh derajat, upside down. Kau tiba-tiba menjadi orang suci yang selalu tersenyum dan menyebar bahagia.
Entah bagaimana, tapi cinta selalu menemukan caranya. Dia tak punya buku manual yang menjelaskan langkah demi langkah yang harus kau lakukan, tapi kau akan tau. mungkin kadang-kadang kau akan salah melangkah, tapi untungnya, cinta bukan sebuah sistem yang tidak mentolerir kesalahan. Cinta tak punya undo button, dia tidak bisa di-control+Z. tapi dia selalu memaafkan.
Cinta itu indah dan naïf, menyiksa tapi juga menentramkan, menghangatkan dengan sikapnya yang dingin, dirindukan karena sifatnya yang memuakkan. Cinta bukan keindahan semata, dia adalah perpaduan proporsional dari sedih dan bahagia. Terkadang dia berkhianat, terkadang dia berkorban. Tapi pada akhirnya, tetap hanya ada satu hati tempat cinta sejati pulang.
:D
The Boy in the Striped Pyjamas
Diposkan oleh
bebunyian
di
01:12
Jumat, 13 Januari 2012

The boy in the striped pyjamas
Saya nemu buku ini di tempat obral buku murah Gramedia. Cuma tinggal satu dan bungkus plastiknya udah robek. Tidak terlihat menarik. Saya memutuskan membeli karena buku ini udah difilmkan. Menurut saya filmnya bagus dan dari pengalaman yang sudah-sudah, membaca bukunya selalu lebih menarik dibanding menonton filmnya.
The Boy in the Striped Pyjamas bercerita tentang persahabatan Bruno, seorang bocah laki-laki putra Komandan tentara Nazi, dengan Shmuel, seorang anak Yahudi kecil. Bruno musti pindah dari Berlin ke Auschwitz, di selatan Polandia. Dia ga punya teman disana sampai akhirnya, ketika dia menjelajah wilayah terpencil itu sendirian, dia menemukan Shmuel. Daerah itu dibatasi oleh pagar duri yang tinggi dan panjang, dan masing-masing mereka berada di sisi yang berbeda, di bentuk kehidupan yang saling bertolak belakang. Bocah lugu itu tidak tau kalau Shmuel adalah Yahudi yang dimusuhi oleh negaranya, bangsanya, ayahnya! Yang jelas dia senang bisa mengunjungi Shmuel tiap siang dan ngobrol, walaupun harus dibatasi pagar kawat. Shmuel juga terlalu polos untuk memahami kalau dia dan keluarganya yang dikurung dalam pagar itu disebut sebagai “bukan manusia” oleh orang Nazi, oleh ayah sahabatnya. Shmuel tidak tau kenapa dia disuruh meninggalkan rumahnya untuk kemudian dikurung di tempat itu, bersama ayahnya, kakeknya, dan jutaan Yahudi lainnya.
Auschwitz sendiri adalah situs kamp konsentrasi Nazi terbesar, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dibunuh antara 1941 sampai 1945. Saya pernah nonton Oprah yang sedang membahas peristiwa Holocaust dan deskripsi tentang peristiwa itu benar-benar kayak neraka.
Jadi orang-orang- etnis- yang mau dipunahkan itu dibawa pakai kereta, jangan bayangkan kereta kelas ekonomi dengan orang-orang yang berjejal dan bau keringat campur aduk, ini lebih mirip neraka kaleng sarden berjalan yang benar-benar padat isinya. Semuanya tumplek dalam gerbong yang menyedihkan, pria, wanita, bahkan anak-anak polos ga berdosa. begitu sampai di kamp konsentrasi, sebagian mereka dibiarkan terus hidup buat jadi pekerja kasar, dan sebagian lagi langsung dibunuh. Dibunuhnya juga ga tanggung-tanggung, sekali eksekusi bisa langsung ribuan orang. Mereka disuruh masuk ke sebuah ruangan besar, alasannya disuruh mandi. Tapi mereka ga tau kalau itu sama sekali bukan kamar mandi, tapi crematorium tempat mereka akan dibunuh dengan gas beracun. Setelah jadi mayat, mereka akan di bakar di oven raksasa yang bau asapnya itu busuk luar biasa. Saya ga bisa membayangkan kalo hal itu benar-benar terjadi sekarang, walaupun mungkin, praktik mengerikan selevel itu bisa aja terjadi di salah satu sudut dunia, di keadaan masyarakat penuh konflik seperti Timur Tengah.
Jadi, Bruno itu niatnya mau bantu Shmuel nyari ayahnya yang udah beberapa hari hilang. Dia lalu menyamar jadi salah satu anak Yahudi dengan make seragam tahanan disana, baju garis-garis yang mirip piyama, the striped pyjamas. Tapi akhirnya dia malah ikut masuk ke crematorium dan meninggal bersama Shmuel. Bapaknya? Berhasil Stress karena anaknya terbunuh oleh sistem yang dia bikin sendiri.
Pelajarannya adalah, bahwa kebaikan atau kejahatan itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang kita. Kita bisa menemukan orang baik dari komunitas yang selama ini kita pikir jahat, dan kita juga bisa menemukan orang jahat dalam komunitas yang selama ini kita pikir baik. Bruno dari Nazi bisa berteman sama Shmuel dari Yahudi, begitu juga Aang dari suku pengendali udara bisa berteman sama Pangeran Zuko dari Negara Api, dan kenapa ceritanya ini bisa nyampe ke avatar the last airbender? Saya juga ga tau, pokoknya intinya begitu lah.
Saya jadi ingat kak Rosi. Walaupun ga sama, tapi ceritanya mirip. Maksud saya, saya yang muslim bisa terinspirasi oleh kak Rosi yang Protestan. Dan saya musti bilang kalau agama dan kepercayaan ini masih merupakan isu yang sensitive, paling tidak di masyarakat tempat saya tumbuh. Tapi sekarang saya tau, bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjadi terpisah.
Baiklah, kalimat saya mulai kacau, saya musti istirahat dulu.
Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya yang meracau. For everything, Bon chance!
selamat tahun baru
Diposkan oleh
bebunyian
di
17:11
Jumat, 30 Desember 2011
Di penghujung tahun, matahari akan terbit di puncak Gunung Merapi. 6 bulan setelahnya, dia akan terbit di lereng sisi utara gunung itu. saya merekam fenomena itu sejak kelas 2 SD. Lalu ketika kelas 5 saya baru mengerti kenapa matahari terbitnya pindah-pindah begitu. Saat ini matahari terbit sedikit ke selatan, jadi sisi selatan bumi sedang musim panas. Nanti bulan juli, sisi utara yang mengalami musim panas, dan matahari pindah ke sisi utara Gunung Merapi. Sederhana saja, pelajaran geografi kelas 5 SD.
Baiklah, ini penghujung tahun, tanggal 31 Desember 2011. Sebaiknya saya mempercepat perbaikan diri karena tahun depan udah harus wisuda, cari kerja, lalu nabung buat kuliah S2. Semester depan saya ga ada kuliah dan inginnya kerja jadi penyiar radio. Saya selalu ingin jadi penyiar radio, tapi sampai sekarang belum kesampaian. Yaah, semua ada waktunya.
Resolusi saya ga aneh-aneh. Cuma berharap saya masih sehat dan beriman ketika nanti 31 desember 2012 datang. Saya berharap tidak kehilangan arah, semakin bijak membedakan mana yang saya mau dan yang saya butuh.
Penghujung tahun yang cerah! Mataharinya hangat, langitnya biru bersih, hari yang terlalu indah untuk dilewatkan dengan duduk ngeblog di kamar. Baiklaaahh, saya akan bersih-bersih dulu.
Selamat tahun baru semua! Semoga kita selalu bahagia :)
Baiklah, ini penghujung tahun, tanggal 31 Desember 2011. Sebaiknya saya mempercepat perbaikan diri karena tahun depan udah harus wisuda, cari kerja, lalu nabung buat kuliah S2. Semester depan saya ga ada kuliah dan inginnya kerja jadi penyiar radio. Saya selalu ingin jadi penyiar radio, tapi sampai sekarang belum kesampaian. Yaah, semua ada waktunya.
Resolusi saya ga aneh-aneh. Cuma berharap saya masih sehat dan beriman ketika nanti 31 desember 2012 datang. Saya berharap tidak kehilangan arah, semakin bijak membedakan mana yang saya mau dan yang saya butuh.
Penghujung tahun yang cerah! Mataharinya hangat, langitnya biru bersih, hari yang terlalu indah untuk dilewatkan dengan duduk ngeblog di kamar. Baiklaaahh, saya akan bersih-bersih dulu.
Selamat tahun baru semua! Semoga kita selalu bahagia :)
Memori
Diposkan oleh
bebunyian
di
18:41
Kamis, 29 Desember 2011
Apakah aku bermimpi melihat cemara itu tersenyum melambai?
Aku ingat, ketika itu sore jam empat,
Hamparan di depanku seperti lembah sungai Eufrat…
Wangi angin menyelinap jauh ke dalam dadaku,
dengan lancang dia membawaku ke masa lalu kemudian berkejaran dengan waktu..
apakah aku bermimpi mendengar kenari kernyanyi?
Cerita itu kembali…
Ketika kita duduk bersama menanti magrib, hari runtuh pelan-pelan…
Kemudian kita pulang bergandeng tangan, saling diam…
Jauh di dalam lipatan-lipatan waktu yang tersusun kaku, aku menyembunyikan kenangan tentangmu...
Lalu nanti, kita akan mengingatnya, kau dan aku saja…
Bukittinggi, 30 Desember 2011
Aku ingat, ketika itu sore jam empat,
Hamparan di depanku seperti lembah sungai Eufrat…
Wangi angin menyelinap jauh ke dalam dadaku,
dengan lancang dia membawaku ke masa lalu kemudian berkejaran dengan waktu..
apakah aku bermimpi mendengar kenari kernyanyi?
Cerita itu kembali…
Ketika kita duduk bersama menanti magrib, hari runtuh pelan-pelan…
Kemudian kita pulang bergandeng tangan, saling diam…
Jauh di dalam lipatan-lipatan waktu yang tersusun kaku, aku menyembunyikan kenangan tentangmu...
Lalu nanti, kita akan mengingatnya, kau dan aku saja…
Bukittinggi, 30 Desember 2011
Diposkan oleh
bebunyian
di
15:58
Rabu, 28 Desember 2011
Akhir tahun memang selalu melankolik begini, bukan dalam artian negative, justru saya happy karena satu lagi jawaban berhasil didapat.
Pelajaran hari ini didapat dari partner debate saya, Syaban. Subuh-subuh dia udah bikin rusuh dengan sms:
“ayey gw lolos IELSP yah
Berangkat 29 Mei k Iowa”
Selamat buat Syaban, saya ikut senang. your galau-ness has been paid off :)
Pelajarannya sederhana, bahwa diri kita adalah kombinasi dari pilihan-pilihan yang kita buat. Klasik? Of course itu sangat klasik, tapi selama ini saya hanya sedikit sekali mengerti apa artinya. Maksudnya, saya sudah dua kali ikut tes IELSP tapi selalu gagal. Syaban berhasil pada saat pertama mencoba. Lalu masalahnya?
Apakah saya iri? Seharusnya iya, dalam artian positif. Seharusnya saya merasa tercambuk dengan keberhasilan Syaban. Saya bisa sehebat dia kalau saya mau, saya bisa aja mondar-mandir keluar daerah, atau bahkan keluar negeri buat ikut segala macam konferensi, student exchange, atau apa lah itu. saya bisa dibanggakan oleh jurusan saya dengan berbagai prestasi. Tapi tidak, saya memilih untuk tidak mengejar semua itu karena saya tidak mau.
Saya berhenti mencoba tes IELSP pada kali ketiga karena saya memilih untuk tidak ikut. Sumpah. Semua orang waktu itu menyemangati saya ikut, teman-teman kuliah, junior, dosen saya sendiri. Tapi saya merasa kalau ini bukan jalannya. Saya ingin melihat Negara lain sejak dulu sekali, sekarang pun masih ingin. Tapi saya tau apa yang lebih penting dan lebih mungkin saya lakukan.
Lalu apa yang lebih penting? Apa yang lebih saya inginkan? Apa yang lebih mungkin saya lakukan? Ohohohoho, ini jawaban yang penting itu. agak konyol, tapi layak diperjuangkan. Apakah pilihan-pilihan saya akan berbuah manis dimasa depan? Entahlah. Tapi bukannya yang paling penting adalah saat ini? :)
Heeey, kenapa kesannya jadi kaya mencari alasan dan kambing hitam buat kegagalan saya ya? Hahahaha, kegagalan tak pernah terasa sebijak ini :D
happy new year everybody! how will you spend your holiday?
Pelajaran hari ini didapat dari partner debate saya, Syaban. Subuh-subuh dia udah bikin rusuh dengan sms:
“ayey gw lolos IELSP yah
Berangkat 29 Mei k Iowa”
Selamat buat Syaban, saya ikut senang. your galau-ness has been paid off :)
Pelajarannya sederhana, bahwa diri kita adalah kombinasi dari pilihan-pilihan yang kita buat. Klasik? Of course itu sangat klasik, tapi selama ini saya hanya sedikit sekali mengerti apa artinya. Maksudnya, saya sudah dua kali ikut tes IELSP tapi selalu gagal. Syaban berhasil pada saat pertama mencoba. Lalu masalahnya?
Apakah saya iri? Seharusnya iya, dalam artian positif. Seharusnya saya merasa tercambuk dengan keberhasilan Syaban. Saya bisa sehebat dia kalau saya mau, saya bisa aja mondar-mandir keluar daerah, atau bahkan keluar negeri buat ikut segala macam konferensi, student exchange, atau apa lah itu. saya bisa dibanggakan oleh jurusan saya dengan berbagai prestasi. Tapi tidak, saya memilih untuk tidak mengejar semua itu karena saya tidak mau.
Saya berhenti mencoba tes IELSP pada kali ketiga karena saya memilih untuk tidak ikut. Sumpah. Semua orang waktu itu menyemangati saya ikut, teman-teman kuliah, junior, dosen saya sendiri. Tapi saya merasa kalau ini bukan jalannya. Saya ingin melihat Negara lain sejak dulu sekali, sekarang pun masih ingin. Tapi saya tau apa yang lebih penting dan lebih mungkin saya lakukan.
Lalu apa yang lebih penting? Apa yang lebih saya inginkan? Apa yang lebih mungkin saya lakukan? Ohohohoho, ini jawaban yang penting itu. agak konyol, tapi layak diperjuangkan. Apakah pilihan-pilihan saya akan berbuah manis dimasa depan? Entahlah. Tapi bukannya yang paling penting adalah saat ini? :)
Heeey, kenapa kesannya jadi kaya mencari alasan dan kambing hitam buat kegagalan saya ya? Hahahaha, kegagalan tak pernah terasa sebijak ini :D
happy new year everybody! how will you spend your holiday?
cepat saja
Diposkan oleh
bebunyian
di
21:47
Kamis, 08 Desember 2011
Azan magrib menyelinap diantara suara klakson mobil, diantara kepongahan kita..
Angin yang bertiup ke pipimu, menghadirkan hambar yang menjemukan
Tak perlu kuperjelas bahwa mimpi semakin lama semakin kabur, aku lihat dia melompat dari sudut hati yang satu ke yang lainnya..
Bahwa kita melangkahi hari dengan canggung..
Bahwa semua bintang seperti kerumunan orang di pinggir jalan, berhenti sejenak melihat kita yang dipermainkan angan kemudian berlalu tanpa peduli.
Kita bisa apa, ketika kita terjerat oleh kecewa dan tak mampu lepas. Rasanya mati rasa..
Kita tak bisa lihat garis batas kaki langit, dan hanya terdiam, menunggu, termenung sampai kelam..
11 april, 2011
Angin yang bertiup ke pipimu, menghadirkan hambar yang menjemukan
Tak perlu kuperjelas bahwa mimpi semakin lama semakin kabur, aku lihat dia melompat dari sudut hati yang satu ke yang lainnya..
Bahwa kita melangkahi hari dengan canggung..
Bahwa semua bintang seperti kerumunan orang di pinggir jalan, berhenti sejenak melihat kita yang dipermainkan angan kemudian berlalu tanpa peduli.
Kita bisa apa, ketika kita terjerat oleh kecewa dan tak mampu lepas. Rasanya mati rasa..
Kita tak bisa lihat garis batas kaki langit, dan hanya terdiam, menunggu, termenung sampai kelam..
11 april, 2011
Langganan:
Entri (Atom)
Popular Posts
-
Waktu kecil, saya suka sekali nonton film. Tapi berhubung di rumah saya ga ada VCD player, saya Cuma bisa nonton film di tv. Kita tau sendir...
-
Happy Sunday What a weird Sunday i have. Everything feels just weird. Weird number 1: i lost my appetite. eat half portion, once a day. ...
-
Analisa Kelayakan Proyek A. Pengertian Ada perbedaan penafsiran analisa kelayakan proyek oleh berbagai pihak, namun secara umum, analisa k...
-
Lady Gaga itu adalah sensasi gila yang cerdas. saya ga tau kenapa bisa begitu suka sama dia, tapi yang jelas, dia itu amazing. coba aja ...
-
Hasil ngobrol ngalor ngidul di kos bang day, di suatu sore yang cerah: Kamu tau bagaimana cinta datang? dia bisa diam-diam menyelinap sepe...
-
Apakah aku bermimpi melihat cemara itu tersenyum melambai? Aku ingat, ketika itu sore jam empat, Hamparan di depanku seperti lembah sungai ...
-
The boy in the striped pyjamas Saya nemu buku ini di tempat obral buku murah Gramedia. Cuma tinggal satu dan bungkus plastiknya udah robek....
-
Akhir tahun memang selalu melankolik begini, bukan dalam artian negative, justru saya happy karena satu lagi jawaban berhasil didapat. Pela...
-
Buat saya, NUEDC masih menggemakan rayuan yang tidak sanggup saya tolak. Dan untungnya, saya masih diberi kesempatan untuk merasakan sensasi...
Labels
lagi labil
(8)
sajak-sajak pemalu
(7)
mendadak filsuf
(6)
agak bener
(5)
celeb wannabe
(4)
lagi bener
(2)
debate
(1)
kesambet jin rajin
(1)
About Me
Diberdayakan oleh Blogger.





